GEBRAK.ID – Tersingkirnya Timnas Portugal dari Piala Dunia 2026 masih memicu perdebatan. Kali ini, kritik tajam datang dari legenda sepak bola Prancis, Youri Djorkaeff, yang menilai Cristiano Ronaldo tidak mendapat dukungan maksimal dari rekan-rekan setimnya selama turnamen berlangsung.
Menurut mantan gelandang timnas Prancis itu, Portugal gagal memaksimalkan peran sang kapten karena para pemain tidak memainkan strategi yang sesuai dengan karakter Ronaldo. Bahkan, Djorkaeff menyebut Ronaldo seperti "diboikot" oleh timnya sendiri.
Portugal harus mengakhiri perjalanan di Piala Dunia 2026 setelah kalah tipis 0-1 dari Spanyol pada babak 16 besar. Kekalahan tersebut membuat Selecao das Quinas kembali gagal menembus perempat final, mengulang catatan pada edisi 2010 dan 2018.
Meski sudah berusia 41 tahun, Ronaldo tetap menjadi pilihan utama di lini depan. Ia tampil sebagai starter dalam lima pertandingan dan menyumbangkan tiga gol sepanjang turnamen.
Namun, penampilan kapten Portugal itu memunculkan pro dan kontra. Sebagian pengamat menilai keberadaan Ronaldo membuat permainan Portugal kurang berkembang, sementara pihak lain justru menilai tim gagal memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh sang megabintang.
Djorkaeff termasuk sosok yang membela Ronaldo. Peraih gelar Piala Dunia 1998 bersama Prancis itu menilai kesalahan utama bukan berada pada Ronaldo, melainkan pada pendekatan permainan Portugal.
"Jika Anda membawa Cristiano Ronaldo, maka tim harus bermain untuk Cristiano Ronaldo dan itu tidak terjadi sama sekali," kata Djorkaeff seperti dikutip Radio RMC Sport, Sabtu (11/7/2026).
Menurutnya, situasi di lapangan menunjukkan Ronaldo tidak pernah benar-benar ditempatkan dalam posisi terbaik untuk memaksimalkan kemampuannya sebagai pencetak gol.
"Jelas sekali bahwa dia diboikot oleh timnya sendiri. Mereka tidak mendukung dia, mereka tidak menempatkan dia di dalam kondisi terbaik," ujar mantan pemain Paris Saint-Germain dan Inter Milan tersebut.
Djorkaeff menilai Portugal seharusnya sejak awal menentukan sikap. Jika ingin tetap membawa Ronaldo, maka pola permainan harus disusun agar sesuai dengan karakter sang striker.
"Kita semua tahu Cristiano. Dia selalu bermain dengan cara yang sama. Apa yang mereka harapkan bahwa dia akan tiba-tiba berubah? Anda bisa memilih untuk tidak memanggil dia, atau tidak menurunkan dia ke lapangan. Tapi jika Anda melakukannya, maka Anda harus membangun tim di sekitar dia," tegas Djorkaeff.
Tak hanya itu, Djorkaeff juga mengkritik para pemain Portugal yang dinilainya terlalu bergantung kepada Ronaldo, padahal skuad Selecao dihuni banyak pemain kelas dunia. Ia menyebut nama-nama seperti Vitinha dan Bruno Fernandes seharusnya lebih berani mengambil tanggung jawab untuk menentukan jalannya pertandingan.
"Apa yang tak saya sukai tentang timnas Portugal ini, terlepas mereka semuanya pemain-pemain berbakat, semua orang sepertinya menaruh tanggung jawabnya pada Cristiano," kata Djorkaeff. "Di masa depan, Vitinha, Bruno Fernandes, dan pemain lain harus mengambil tanggung jawabnya. Anda tak bisa terus mengharapkan Cristiano melakukan semuanya. Dia bukan satu-satunya pemain yang harus membuat perbedaan."
Piala Dunia 2026 sekaligus menjadi penampilan terakhir Cristiano Ronaldo di ajang sepak bola paling bergengsi tersebut. Setelah Portugal tersingkir, mantan bintang Manchester United, Real Madrid, dan Juventus itu memastikan tidak akan lagi tampil di Piala Dunia berikutnya.
Selama enam edisi Piala Dunia yang diikutinya, pencapaian terbaik Ronaldo bersama Portugal adalah finis di posisi keempat pada Piala Dunia 2006 di Jerman. Meski belum pernah mengangkat trofi Piala Dunia, Ronaldo tetap tercatat sebagai salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola Portugal.
(Sumber: RMC Sport)
