Mahasiswa UI Ciptakan Bra Inklusif untuk Lansia dan Disabilitas, Solusi Berpakaian Lebih Mudah dan Mandiri

Gedung Program Pendidikan Vokasi di Universitas Indonesia (UI) Depok, Jawa Barat. (Foto: Vokasi UI)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, DEPOK – Inovasi membanggakan kembali lahir dari lingkungan akademik Universitas Indonesia (UI). Lima mahasiswa Program Studi Bisnis Kreatif Program Pendidikan Vokasi UI berhasil mengembangkan "Rekat".

Rekat adalah sebuah bra inklusif yang dirancang khusus untuk membantu perempuan lansia, penyandang disabilitas, maupun mereka yang memiliki keterbatasan motorik agar dapat berpakaian dengan lebih mudah, nyaman, dan mandiri.

Produk ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan yang selama ini belum banyak mendapat perhatian di industri fesyen, khususnya pakaian dalam perempuan. Tak hanya mengutamakan fungsi, Rekat juga tetap mempertahankan aspek kenyamanan dan estetika sehingga penggunanya dapat merasa lebih percaya diri.

Rekat dikembangkan oleh Patricia Revi De Mila, Quency Nova Mardira, Aulia Attaya, Nayang Nurizah, dan Annas Tasya sebagai bagian dari mata kuliah Pengembangan Produk. Dalam mata kuliah tersebut, mahasiswa ditantang untuk mengidentifikasi persoalan nyata di masyarakat, kemudian merancang solusi hingga menghasilkan prototipe yang siap digunakan.

"Rutinitas sederhana seperti berpakaian ternyata menjadi tantangan besar bagi banyak perempuan dengan keterbatasan fisik. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi aktivitas sehari-hari, tetapi juga berdampak pada rasa percaya diri dan kemandirian mereka," ujar Patricia Revi De Mila di Depok, Rabu (8/7/2026).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai sekitar 22,97 juta jiwa atau sekitar 8,5 persen dari total populasi. Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan akan produk fesyen yang mengedepankan prinsip inclusive design masih sangat besar dan belum banyak terpenuhi.

Inspirasi pembuatan Rekat juga datang dari pengalaman pribadi salah satu anggota tim yang melihat langsung kesulitan anggota keluarganya saat mengenakan bra konvensional akibat keterbatasan motorik.

Berangkat dari pengalaman tersebut, tim kemudian menerapkan pendekatan user-centered design atau desain yang berpusat pada kebutuhan pengguna.

Hasilnya, lahirlah bra tanpa kawat (wireless bra) yang dilengkapi sistem front magnetic interlock atau pengait magnet di bagian depan. Teknologi sederhana ini memungkinkan pengguna mengenakan maupun melepas bra hanya dengan gerakan yang lebih mudah dibandingkan pengait belakang yang selama ini umum digunakan.

Seluruh proses pengembangan Rekat berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Mulai dari studi literatur, riset kebutuhan pengguna, eksplorasi material, hingga wawancara mendalam dengan calon pengguna dilakukan untuk memastikan produk benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.

"Kami belajar bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru. Terkadang, inovasi terbaik lahir dari kemampuan memahami kebutuhan pengguna dan menyederhanakan pengalaman mereka. Dari proses ini kami menyadari bahwa empati merupakan bagian penting dalam menciptakan solusi yang benar-benar relevan dan berdampak," kata Patricia.

Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Dr. Safrin Arifin, mengapresiasi inovasi tersebut. Menurutnya, Rekat menjadi bukti bahwa proses pembelajaran di perguruan tinggi mampu melahirkan karya yang tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga memberikan manfaat sosial bagi masyarakat.

Dr. Safrin menilai Rekat berpotensi menjadi pelopor lahirnya produk-produk fesyen inklusif di Indonesia yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas, sekaligus mendorong tumbuhnya industri kreatif yang mengedepankan aksesibilitas dan keadilan sosial.

Melalui inovasi ini, mahasiswa Vokasi UI menunjukkan bahwa empati dapat menjadi fondasi lahirnya teknologi sederhana yang mampu meningkatkan kualitas hidup banyak orang. 

Rekat pun diharapkan tidak hanya menjadi produk inovatif, tetapi juga membuka kesadaran bahwa setiap orang berhak memperoleh akses yang setara terhadap produk fesyen yang nyaman, aman, dan mudah digunakan.

(Sumber: Humas UI)