Mahasiswa Universitas Pertamina Rancang Instalasi Air Bersih untuk Desa, Sulap Air Gambut Jadi Layak Pakai

Tim mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina (UPER) yang terdiri atas Muhammad Karunia Vivaldi (ketua), Geovanny Tampubolon, Monica Septyani, Muhammad Raihan Rachman, dan Tiara Wulan Win Nedhari saat menghadiri pameran dalam kegiatan Capstone, belum lama ini. (Foto: Dok.UPER)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, JAKARTA -- Akses terhadap air bersih masih menjadi persoalan serius bagi jutaan warga yang tinggal di kawasan lahan gambut di Indonesia. Padahal, sumber air tersedia melimpah. 

Namun, karakteristik air gambut yang asam, berwarna cokelat, serta mengandung zat organik dan logam dalam kadar tinggi membuatnya tidak dapat digunakan secara langsung.

Berangkat dari kondisi tersebut, tim mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina (UPER) menghadirkan solusi melalui perancangan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gambut Skala Komunal. Inovasi ini dikembangkan sebagai alternatif penyediaan air bersih yang lebih ekonomis, mudah dioperasikan masyarakat, serta berkelanjutan untuk wilayah lahan gambut.

Tim tersebut terdiri atas Muhammad Karunia Vivaldi, Geovanny Tampubolon, Monica Septyani, Muhammad Raihan Rachman, dan Tiara Wulan Win Nedhari. Rancangan itu lahir melalui pembelajaran Capstone Design yang berfokus pada penyelesaian persoalan nyata di masyarakat.

Ketua tim, Muhammad Karunia Vivaldi, mengatakan Desa Indrapura, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, dipilih sebagai lokasi studi karena memiliki karakteristik yang mewakili tantangan penyediaan air bersih di kawasan gambut.

"Konsep utama perancangan ini adalah menyesuaikan setiap tahapan pengolahan dengan karakteristik air baku sekaligus proyeksi kebutuhan air masyarakat hingga 20 tahun ke depan. Dengan pendekatan tersebut, sistem yang dirancang tak hanya mampu meningkatkan kualitas air, tetapi juga memiliki potensi diterapkan secara berkelanjutan dan dikembangkan di wilayah lahan gambut lainnya," ujar Vivaldi dalam siaran pers UPER pada Minggu (19/7/2026).

Sebelum menyusun desain instalasi, tim terlebih dahulu melakukan pengujian terhadap kualitas air gambut di Desa Indrapura. Hasilnya menunjukkan tingkat keasaman atau pH air hanya sekitar 3. Angka tersebut jauh di bawah kisaran pH air minum yang aman, yakni 6,5 hingga 8,5. Selain itu, air juga memiliki warna cokelat pekat dan kandungan besi serta mangan yang melebihi ambang batas sehingga memerlukan proses pengolahan.

Dalam merancang sistem, mahasiswa mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari efektivitas pengolahan, biaya pembangunan, kebutuhan lahan, hingga kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan agar dapat diterapkan oleh masyarakat secara mandiri.

Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gambut Skala Komunal di Desa Indrapura, Sumatera Selatan. (Foto: Dok. UPER)
Proses pengolahan air dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari menurunkan tingkat keasaman, menyaring berbagai zat pencemar, hingga pemurnian menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO). Melalui tahapan tersebut, air gambut yang semula berwarna cokelat dengan kandungan logam tinggi dapat diubah menjadi air yang memenuhi standar kualitas air bersih.

"Kami merancang sistem yang tidak hanya efektif mengolah air gambut menjadi air bersih, tetapi juga mudah dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat. Harapannya, teknologi ini dapat menjadi solusi yang berkelanjutan bagi desa-desa yang menghadapi persoalan serupa," kata Vivaldi.

Dosen Pembimbing Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina, Dr.Eng. Ari Rahman, S.T., M.Eng., menilai inovasi tersebut menjadi bukti bahwa proses pembelajaran di perguruan tinggi mampu melahirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

"Melalui Capstone Design pada Mata Kuliah Proyek Terintegrasi Berbasis Lingkungan (PTBL), mahasiswa tidak hanya belajar menyelesaikan persoalan teknis, tetapi juga merancang solusi berbasis data yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi agar dapat diterapkan secara nyata di masyarakat," jelas Dr.Eng. Ari Rahman.

Sementara itu, Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., mengapresiasi inovasi yang dihasilkan para mahasiswa. Menurutnya, pengembangan teknologi penyediaan air bersih menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak.

"Pengembangan solusi untuk akses air bersih merupakan bagian dari komitmen Universitas Pertamina dalam mendukung pencapaian SDG 6 (Clean Water and Sanitation). Capaian kami sebagai perguruan tinggi swasta peringkat keempat terbaik di Indonesia pada kategori SDG 6 dalam THE Impact Rankings 2026 menjadi motivasi untuk terus menghasilkan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat," ujar Prof. Djoko.

Berdasarkan data pemerintah, jutaan masyarakat yang tinggal di kawasan lahan gambut masih menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih karena karakteristik air yang memerlukan proses pengolahan khusus. 

Inovasi yang dikembangkan mahasiswa Universitas Pertamina diharapkan dapat menjadi salah satu model penyediaan air bersih komunal yang dapat direplikasi di berbagai daerah dengan kondisi serupa. (*)