Misteri Mbah Ryan, Tukang Bangunan dari Kudus yang Disebut sebagai Ulama dengan Karya Mendunia

Profil Mbah Riyan alias Ibnu Harjo Al-Jawi (kanan), ulama yang dikenal sebagai ahli tahqiq kitab klasik beserta latar belakang dan karya ilmiahnya. (Foto: ist) 
Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID, JAKARTA – Nama Mbah Riyan atau Ibnu Harjo Al-Jawi belakangan menjadi perbincangan di berbagai platform media sosial. Sosok yang dikenal hidup sederhana ini disebut memiliki kapasitas keilmuan tinggi dalam kajian Islam klasik, meski kesehariannya jauh dari sorotan publik.

Berbagai tulisan yang beredar menggambarkan Mbah Riyan sebagai seorang pekerja bangunan yang tinggal di lingkungan sederhana di Kudus, Jawa Tengah. Namun, di kalangan akademisi dan pemerhati manuskrip Islam, ia dikenal dengan nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi, terutama karena kiprahnya dalam penyuntingan dan penelitian kitab-kitab klasik. 

Meski demikian, informasi mengenai riwayat hidupnya masih sangat terbatas dan belum banyak dipublikasikan melalui sumber akademik maupun lembaga resmi. Karena itu, sejumlah klaim mengenai perjalanan hidup maupun pengakuan internasional terhadap dirinya masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.

Siapa Mbah Riyan alias Ibnu Harjo Al-Jawi?

Berdasarkan sejumlah publikasi yang mengulas sosoknya, Mbah Riyan dikenal sebagai ulama yang menggunakan nama ilmiah Ibnu Harjo Al-Jawi. Julukan "Al-Jawi" lazim digunakan oleh ulama asal Nusantara yang berkarya dalam tradisi keilmuan Islam berbahasa Arab.

Di lingkungan tempat tinggalnya, ia disebut menjalani kehidupan sederhana sebagai tukang bangunan dan memiliki hobi memancing. Namun di bidang akademik Islam, ia dikenal aktif menulis, memberikan ta'liq (catatan ilmiah), serta melakukan tahqiq terhadap kitab-kitab klasik. 

Latar Belakang Keilmuan

Dalam tradisi keilmuan Islam, Ibnu Harjo Al-Jawi disebut memiliki spesialisasi sebagai:

Muhaqqiq, yaitu peneliti sekaligus penyunting kritis manuskrip atau kitab klasik agar menghasilkan naskah ilmiah yang valid.

Mu'alliq, yakni penulis catatan, anotasi, dan penjelasan ilmiah terhadap karya ulama terdahulu.

Keahlian tersebut membutuhkan penguasaan berbagai disiplin ilmu, antara lain bahasa Arab, ushul fikih, ilmu hadis, ilmu manuskrip, serta kemampuan membandingkan berbagai versi naskah untuk memperoleh teks yang paling otoritatif. 

Hingga kini belum ditemukan publikasi resmi yang menjelaskan secara rinci riwayat pendidikan formal, pesantren, maupun sanad keilmuan Mbah Riyan sehingga aspek tersebut belum dapat dipastikan.

Karya-karya Ibnu Harjo Al-Jawi

Beberapa publikasi menyebut Ibnu Harjo Al-Jawi telah menghasilkan belasan jilid kitab dan lebih dari 100 naskah ilmiah. Namun, angka tersebut belum didukung daftar bibliografi resmi yang dapat diverifikasi secara independen. 

Beberapa karya yang disebut pernah ditulis atau ditahqiq antara lain:

- Al-Istihsan, Haqiqotuhu wa Hujjiyyatuhu

- Dilalah Qarinah Al-Muwadhabah 'Inda Al-Ushuliyyin

- Radd Al-Hadits Al-Dha'if bi Al-Kulliyyah Fitnah Kabirah Mu'ashirah

- Tahqiq Is'af Al-Muthali' karya Syekh Mahfudz At-Tarmasi pada sejumlah pembahasan, seperti bab ijtihad, taqlid, aqidah, dan lainnya. 

Mayoritas karya tersebut berfokus pada bidang ushul fikih, metodologi istinbath hukum, hadis, serta kajian terhadap warisan intelektual ulama Nusantara.

Kiprah Keilmuan

Tahqiq kitab merupakan pekerjaan akademik yang sangat spesifik. Seorang muhaqqiq tidak sekadar mencetak ulang kitab lama, tetapi juga menelusuri manuskrip, membandingkan berbagai salinan, mengoreksi kesalahan penyalin, serta memberikan penjelasan ilmiah agar isi kitab dapat dipahami secara tepat.

Aktivitas inilah yang disebut menjadi fokus utama Ibnu Harjo Al-Jawi berdasarkan berbagai publikasi yang membahas sosoknya. 

Informasi Masih Terbatas

Walaupun namanya mulai dikenal luas, informasi mengenai biografi lengkap Mbah Riyan masih relatif minim. Hingga saat ini belum tersedia profil resmi yang memuat data mengenai tanggal lahir, riwayat pendidikan, silsilah guru, maupun daftar lengkap karya ilmiahnya.

Karena itu, pembaca perlu membedakan antara informasi yang telah dapat diverifikasi dan klaim yang masih bersumber dari tulisan profil atau pemberitaan sekunder. Pendekatan tersebut penting agar informasi mengenai tokoh ini tetap sesuai dengan prinsip akurasi dan verifikasi dalam jurnalistik.

(berbagai sumber