![]() |
| Langkah petenis tunggal putri Indonesia Janice Tjen di Wimbledon 2026 harus terhenti pada babak kedua. (Foto: USTA) |
GEBRAK.ID, JAKARTA – Langkah petenis Indonesia Janice Tjen di Wimbledon 2026 harus terhenti pada babak kedua. Meski gagal melaju ke putaran ketiga, Janice tetap meninggalkan catatan bersejarah setelah menjadi wakil tunggal putri Indonesia pertama dalam 22 tahun yang mampu meraih kemenangan di undian utama Grand Slam lapangan rumput tersebut.
Petenis berusia 24 tahun itu harus mengakui keunggulan Daria Kasatkina dalam pertarungan sengit yang berlangsung tiga set, Rabu (1/7/2026). Janice menyerah dengan skor 7-6, 1-6, 4-6 setelah berjuang keras selama lebih dari dua jam di lapangan.
Kekalahan atas petenis Australia tersebut sekaligus mengakhiri perjalanan impresif Janice di Wimbledon tahun ini. Meski demikian, penampilannya mendapat apresiasi karena mampu memberikan perlawanan ketat kepada petenis yang lebih berpengalaman di level elite dunia.
Sebelumnya, Janice mencuri perhatian publik tenis internasional dengan kemenangan sensasional atas unggulan ke-22 asal Kanada, Leylah Fernandez, pada babak pertama. Ia menang dua set langsung dengan skor 6-1, 7-6(3), hasil yang sekaligus menjadi salah satu kejutan terbesar pada awal turnamen Wimbledon 2026.
Kemenangan tersebut memiliki arti penting bagi tenis Indonesia. Untuk pertama kalinya sejak Angelique Widjaja tampil di Wimbledon 2004, Indonesia kembali memiliki petenis tunggal putri yang berhasil lolos ke undian utama sekaligus memetik kemenangan di ajang Grand Slam bergengsi tersebut.
JANGAN TERLEWATKAN Janice Tjen Torehkan Sejarah, Putus Penantian 22 Tahun Tunggal Putri Indonesia di Grand Slam Wimbledon
Usai memastikan tiket ke babak kedua, Janice mengaku bangga bisa mengulang pencapaian yang telah lama dinantikan tenis Indonesia. Namun, ia menegaskan tidak ingin cepat berpuas diri.
"Ya pastinya bangga ya bisa mengulang itu sekarang, dan apalagi terakhir itu 2004. Aku senang bisa melakukan itu, tetapi harus tetap fokus untuk di round berikutnya," ujar Janice, dikutip dari media sosial SPOTV.
Saat menundukkan Fernandez, Janice tampil sangat efektif. Ia membukukan enam ace tanpa melakukan satu pun double fault. Selain itu, petenis kelahiran Jakarta tersebut mencatatkan 24 winner dan hanya melakukan 10 unforced error, menunjukkan permainan yang agresif sekaligus disiplin sepanjang pertandingan.
Janice juga sukses memanfaatkan tiga dari sembilan peluang break point yang diperoleh. Kemenangan itu semakin istimewa karena memperpanjang dominasinya atas Leylah Fernandez menjadi 3-0 dalam rekor pertemuan mereka.
Meski langkahnya terhenti di babak kedua, pencapaian Janice menjadi sinyal positif bagi perkembangan tenis Indonesia. Penampilannya di Wimbledon membuktikan bahwa petenis Tanah Air mampu bersaing di level tertinggi dunia apabila mendapatkan pembinaan, pengalaman bertanding, dan konsistensi performa.
Perjalanan Janice di Wimbledon 2026 memang telah usai, tetapi sejarah yang ditorehkannya menjadi modal berharga untuk menatap turnamen-turnamen besar berikutnya. Di usia yang masih relatif muda, peluang Janice untuk kembali bersinar di panggung Grand Slam masih terbuka lebar.
(*)
