![]() |
| Peluncuran B50 di Karawang tandai komitmen pemerintah mengurangi impor solar dan memanfaatkan sawit untuk energi nasional. ( Foto: ist) |
Editor:Dinar Kencana
GEBRAK.ID,JAKARTA-- Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan bahan bakar minyak (BBM) jenis baru B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7). Peluncuran ini menandai tonggak baru dalam program mandatori biodiesel di Indonesia.
B50 merupakan bahan bakar biodiesel yang terdiri dari 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) dan 50 persen solar berbasis fosil. Angka 50 menunjukkan persentase kandungan biodiesel dalam campuran tersebut. Program ini merupakan kelanjutan dari kebijakan sebelumnya yang telah menerapkan B20, B30, dan B40 .
Menuju Swasembada dan Hemat Devisa
Presiden Prabowo menargetkan Indonesia dapat mencapai swasembada energi dalam waktu empat tahun ke depan. "Kita akan menuju swasembada BBM, swasembada energi. Bulan Juli ini, kita akan launching B50. Dengan demikian, kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri," ujar Prabowo saat acara Pekan Nasional Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) XVII di Gorontalo beberapa waktu lalu.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa implementasi B50 mampu menghemat devisa negara hingga sekitar Rp157,28 triliun pada tahun ini . Bahkan, perkiraan lain menyebutkan penghematan dapat mencapai Rp170 triliun.
Melalui kebijakan ini, pemerintah menargetkan penghentian impor solar. Bahlil menjelaskan bahwa konsumsi solar nasional mencapai 39 juta kiloliter, dan dengan B50, kebutuhan impor minyak mentah dapat ditekan dari 1 juta barel per hari menjadi sekitar 700 ribu barel per hari .
Harga dan Kesiapan Infrastruktur
Pemerintah memutuskan harga B50 dijual Rp6.800 per liter dengan skema subsidi. Harga ini diharapkan tetap kompetitif di pasar.
PT Pertamina (Persero) menyatakan kesiapan infrastruktur dari Sabang sampai Merauke untuk mendukung distribusi B50. Direktur Optimasi Hilir dan Distribusi Pertamina Patra Niaga, Hari Purnomo, memastikan perusahaan siap mengimplementasikan program ini .
Uji Coba dan Dampak Ekonomi
Sebelum diluncurkan, Kementerian ESDM memastikan B50 telah melalui berbagai pengujian komprehensif. Uji coba dilakukan pada enam sektor pengguna mesin diesel, yaitu otomotif, alat dan mesin pertanian, alat berat pertambangan, angkutan laut, pembangkit listrik, dan kereta api. Hasil sementara menunjukkan bahwa B50 aman digunakan serta memenuhi aspek kinerja dan kompatibilitas.
Dari sisi ekonomi, program ini tidak hanya menghemat devisa, tetapi juga meningkatkan nilai tambah Crude Palm Oil (CPO) dari Rp20,92 triliun menjadi sekitar Rp23,49 triliun. Selain itu, B50 diperkirakan menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja dan menurunkan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 44,46 juta ton CO₂ pada 2026 .
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memastikan pasokan bahan baku sawit mencukupi. Ketua Umum Gapki, Eddy Martono, menyatakan kebutuhan CPO untuk enam bulan pertama sekitar 1,74 juta ton dan tidak akan mengganggu kebutuhan pangan domestik .
Pengamat Ekonomi Energi UGM, Fahmi Radhi, menilai kebijakan ini menjadi langkah strategis memperkuat ketahanan energi. Namun, ia mengingatkan pemerintah agar tetap memperhitungkan kebutuhan pangan dan menjaga harga minyak sawit agar tidak merugikan petani.
Dasar hukum pelaksanaan program ini adalah Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 dan Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026. Badan usaha BBM diberikan masa transisi hingga 30 September 2026 untuk menghabiskan stok B40, sementara Menteri ESDM akan melakukan evaluasi pelaksanaan B50 secara berkala setiap tiga bulan.
( berbagai sumber)
