Revitalisasi Sekolah Berdampak Nyata, Kuota SPMB Meningkat hingga Ekonomi Warga Ikut Bergerak

Salah satu contoh keberhasilan program revitalisasi satuan pendidikan Kemendikdasmen terlihat di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Sepanjang 2025, pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp6,4 miliar untuk merevitalisasi 10 satuan pendidikan yang terdiri atas satu PAUD, dua SD, tiga SMP, dan empat SMA. (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, BALIKPAPAN – Program revitalisasi satuan pendidikan yang dijalankan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mulai menunjukkan dampak nyata di berbagai daerah. Tidak hanya memperbaiki kualitas sarana belajar, program tersebut juga meningkatkan minat masyarakat terhadap Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), sekaligus menggerakkan roda perekonomian warga di sekitar sekolah.

Salah satu contoh keberhasilan program tersebut terlihat di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Sepanjang 2025, pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp6,4 miliar untuk merevitalisasi 10 satuan pendidikan yang terdiri atas satu PAUD, dua SD, tiga SMP, dan empat SMA.

Perbaikan tersebut mencakup pembangunan ruang kelas baru, rehabilitasi laboratorium, toilet, hingga fasilitas penunjang lainnya yang bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan berkualitas.

SMP PGRI 2 Balikpapan menjadi salah satu sekolah yang merasakan langsung manfaat revitalisasi. Sekolah tersebut memperoleh rehabilitasi laboratorium IPA, perbaikan toilet, serta pembangunan dua ruang kelas baru yang berdampak langsung terhadap peningkatan daya tampung peserta didik.

Kepala SMP PGRI 2 Balikpapan, Rinawati, mengatakan tambahan ruang belajar membuat sekolah mampu menerima lebih banyak siswa dibandingkan tahun sebelumnya.

"Tahun ini kami mengalami peningkatan kuota karena kelas kami bertambah. Tahun kemarin hanya buka untuk 86 siswa, alhamdulillah tahun ini tetap tiga kelas tapi kuotanya bertambah jadi 96 siswa. Sehingga sekarang seluruh kuota sudah terpenuhi," ujar Rinawati seperti dalam siaran pers Kemendikdasmen yang dikutip pada Senin (6/7/2026).

Menurut Rinawati, peningkatan kapasitas tersebut menjadi bukti bahwa fasilitas pendidikan yang lebih baik mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.

Hal senada disampaikan guru SMP PGRI 2 Balikpapan, Irma Yanti. Ia menilai perubahan infrastruktur membawa dampak positif terhadap proses belajar mengajar maupun citra sekolah di mata masyarakat.

"Dampaknya sangat besar dengan adanya revitalisasi, karena memberi manfaat bagi murid-murid kami. Kelas yang tadinya sedikit jadi bertambah. Karena kelasnya baru, situasinya jadi nyaman dan kondusif. Mungkin pembelajaran nanti lebih efektif lagi dengan kelas yang nyaman," kata Irma.

Perubahan tersebut juga dirasakan langsung oleh para siswa. Salah satunya Irwan yang mengaku lebih bersemangat mengikuti kegiatan belajar setelah menempati ruang kelas baru.

"Senang sekali karena punya kelas baru, kelasnya bagus, bersih, dan nyaman," ujar Irwan.

Tak hanya di jenjang SMP, revitalisasi juga membawa perubahan di SD Negeri 034 Balikpapan Selatan. Sekolah tersebut memperoleh gedung perpustakaan baru yang diharapkan menjadi pusat kegiatan literasi sekaligus ruang pengembangan karakter peserta didik.

Kepala SD Negeri 034 Balikpapan Selatan, Heldyana, berharap perpustakaan tidak hanya menjadi bangunan yang megah, tetapi benar-benar dimanfaatkan sebagai pusat pembelajaran.

"Perpustakaan ini kami harapkan menjadi jantung sekolah yang hidup, tempat membangun karakter, mengembangkan kreativitas, sekaligus memperluas wawasan para murid," ujarnya.

Selain meningkatkan kualitas pendidikan, proyek revitalisasi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Selama proses pembangunan hingga fasilitas digunakan, aktivitas ekonomi warga ikut meningkat.

Larisa, pelaku usaha penyedia air bersih yang berada di sekitar SMP PGRI 2 Balikpapan, mengaku usahanya mengalami peningkatan permintaan sejak proyek pembangunan dimulai.

"Saya sangat bersyukur. Selama pembangunan kemarin saya beberapa kali mengantar air untuk pembangunan gedung baru. Sampai sekarang kalau sekolah membutuhkan air, saya tetap mengisi di SMP PGRI ini," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan revitalisasi sekolah bukan sekadar membangun gedung baru atau memperbaiki bangunan yang telah rusak. Menurutnya, program tersebut merupakan investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

"Pembangunan manusia harus dimulai dari tersedianya lingkungan belajar yang aman, nyaman, layak, dan bermutu. Karena itu, revitalisasi sekolah menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan pendidikan yang mampu memberikan kesempatan belajar terbaik bagi setiap anak Indonesia," kata Fajar.

Program revitalisasi ini juga sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai salah satu prioritas utama pemerintah. Melalui perbaikan infrastruktur pendidikan, pemerintah ingin memastikan seluruh peserta didik memperoleh hak belajar di lingkungan yang aman, layak, dan mendukung proses pembelajaran.

Pengalaman di Balikpapan menunjukkan bahwa revitalisasi sekolah tidak hanya memperbaiki kondisi fisik bangunan. Program tersebut juga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah, memperluas daya tampung SPMB, memperkuat budaya literasi, hingga menciptakan efek berganda bagi perekonomian masyarakat sekitar.

Dengan terus berlanjutnya program revitalisasi di berbagai daerah, Kemendikdasmen berharap semakin banyak sekolah yang mampu menghadirkan lingkungan belajar berkualitas sehingga pemerataan akses pendidikan bermutu dapat dirasakan oleh seluruh anak Indonesia.

(Sumber: Kemendikdasmen)