GEBRAK.ID, JAKARTA -- Upaya mengembalikan Anak Tidak Sekolah (ATS) ke bangku pendidikan terus menunjukkan hasil positif. Melalui kolaborasi pemerintah daerah, satuan pendidikan nonformal, hingga masyarakat, penanganan ATS dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus mendorong kemajuan daerah.
Komitmen tersebut menjadi salah satu fokus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI). Penanganan ATS tidak hanya berorientasi pada pendataan, tetapi juga memastikan setiap anak memperoleh akses pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Salah satu praktik baik dipaparkan Pemerintah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, dalam Rapat Koordinasi Penguatan Tata Kelola Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) 2026.
Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis, Andang Firmantria, mengatakan pihaknya berhasil mempercepat proses verifikasi data ATS setelah memperkuat kolaborasi lintas sektor bersama pemerintah desa dan berbagai mitra strategis.
"Sebelum kolaborasi kami perkuat, proses verifikasi data ATS mengalami stagnasi. Hingga Maret 2026, capaian verifikasi baru sekitar 45,23 persen dari total 15.033 anak. Setelah melibatkan mitra strategis dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa, capaian tersebut meningkat menjadi sekitar 64 persen hanya dalam waktu kurang lebih tiga bulan," ujar Andang, Selasa (21/7/2026).
Menurut Andang, keberhasilan tersebut tidak hanya mempercepat proses verifikasi data, tetapi juga menghasilkan pemetaan kondisi nyata di lapangan, mengidentifikasi penyebab anak putus sekolah, hingga memberikan pendampingan kepada keluarga agar anak kembali memperoleh layanan pendidikan.
Meski menghadapi keterbatasan anggaran dan sumber daya aparatur, Pemerintah Kabupaten Ciamis tetap mengalokasikan 20 persen APBD untuk sektor pendidikan sebagai bentuk komitmen meningkatkan kualitas SDM.
Andang menambahkan, berbagai inovasi juga mulai tumbuh di tingkat desa, mulai dari penguatan pendidikan berbasis keterampilan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), pemberian bantuan pendidikan, hingga pembentukan komunitas belajar.
"Kami menargetkan capaian verifikasi data ATS menjadi lebih dari 90 persen pada akhir tahun 2026. Dengan data yang tepat dan akurat, kami akan lebih mudah menentukan bentuk intervensi yang sesuai, baik melalui pendidikan formal, PKBM, pendidikan berbasis keterampilan, maupun alternatif layanan pendidikan lainnya," kata Andang.
Prestasi PKBM Tembus OSN
Keberhasilan lain datang dari PKBM Al Fattah, Kabupaten Tasikmalaya. Lembaga pendidikan nonformal tersebut membuktikan bahwa peserta didik PKBM juga mampu berprestasi di tingkat kompetisi akademik.
Pengelola PKBM Al Fattah, Feri Fauzi Firdaus, mengungkapkan tiga peserta didiknya berhasil lolos ke tingkat Provinsi pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2026, terdiri atas dua siswa jenjang SD dan satu siswa jenjang SMP bidang Matematika.
Capaian tersebut menjadikan PKBM Al Fattah sebagai satu-satunya PKBM yang berhasil melaju hingga tingkat provinsi dalam ajang OSN tahun ini.
"Mengusung slogan Kami Ada Karena Kami Beda, kami terus membangun kepercayaan diri warga belajar untuk semangat meraih prestasi. Dalam penanganan ATS, sejak tahun ini kami juga sudah tergabung menjadi satuan tugas penanganan ATS di Kabupaten Tasikmalaya," ujar Feri.
Feri menambahkan, bantuan revitalisasi gedung dan Interactive Flat Panel (IFP) yang diterima pada 2025 turut meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
"Ke depan, kami berkomitmen memperluas kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri agar lulusan tidak hanya memperoleh ijazah, tetapi juga memiliki akses terhadap dunia kerja maupun pendidikan tinggi," jelas Feri.
Kemendikdasmen Dorong Pendidikan Nonformal
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menilai pendidikan nonformal akan memiliki peran yang semakin penting dalam menjawab kebutuhan masyarakat, terutama melalui program pembelajaran yang fleksibel, berbasis keterampilan, dan sesuai kebutuhan dunia kerja.
Fajar juga memberikan apresiasi kepada seluruh pengelola pendidikan nonformal yang terus memperluas akses layanan pendidikan di berbagai daerah.
"Kami berkomitmen untuk terus membangun sistem pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan mampu menjawab tantangan masa depan melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan," kata Fajar menandaskan.
(Sumber: Kemendikdasmen)
