Editor: A. Rayyan K
Mobil Aston Martin DB12. (Foto: astonmartin.com)
GEBRAK.ID, JAKARTA -- Produsen mobil mewah asal Inggris, Aston Martin, kembali menjadi sorotan setelah memperoleh pendanaan utang baru senilai 550 juta poundsterling atau sekitar Rp13,2 triliun. Langkah ini diambil di tengah tekanan keuangan yang masih membayangi perusahaan, yang sepanjang sejarahnya telah mengalami kebangkrutan hingga tujuh kali.
Berdasarkan laporan Carscoops pada Kamis (23/7/2026), paket pendanaan tersebut dipimpin oleh HPS Investment Partners. Skema pembiayaannya terdiri atas pinjaman berjangka dengan jaminan sebesar 450 juta poundsterling dan fasilitas pinjaman tambahan senilai 100 juta poundsterling yang dapat dicairkan kemudian.
Selain itu, Aston Martin juga memperoleh tambahan kapasitas utang hingga 100 juta poundsterling untuk mendukung kebutuhan pembiayaan perusahaan di masa mendatang.
Manajemen Aston Martin menjelaskan, sebagian besar dana baru itu akan digunakan untuk memperbaiki struktur keuangan perusahaan. Sebanyak 450 juta poundsterling dialokasikan untuk melunasi fasilitas kredit bergulir super senior sebesar 170 juta poundsterling, serta membayar pinjaman 20 juta poundsterling yang sebelumnya ditarik dari fasilitas pembiayaan milik Yew Tree Consortium.
Yew Tree Consortium merupakan kelompok investor yang dipimpin miliarder Lawrence Stroll, salah satu pemegang saham utama sekaligus sosok yang berperan besar dalam menyelamatkan Aston Martin dalam beberapa tahun terakhir.
Chief Financial Officer Aston Martin, Doug Lafferty, mengatakan pendanaan baru tersebut diharapkan mampu memberikan ruang gerak yang lebih besar bagi perusahaan untuk menjalankan strategi bisnis dan pengembangan produk.
"Pendanaan utang baru sebesar 550 juta poundsterling ini secara signifikan memperkuat likuiditas kami, memberikan ketahanan tambahan sekaligus fleksibilitas yang lebih besar untuk menjalankan rencana produk saat ini maupun di masa mendatang," ujar Doug Lafferty.
Aston Martin menargetkan peningkatan kinerja keuangan dibandingkan tahun sebelumnya melalui peningkatan arus kas, perbaikan margin keuntungan, serta optimalisasi penjualan model-model inti dan kendaraan edisi khusus yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Di sisi lain, kondisi finansial Aston Martin juga memunculkan spekulasi mengenai potensi perubahan kepemilikan. Beberapa bulan terakhir, muncul laporan yang menyebut produsen otomotif asal China, Geely, berpeluang memperbesar pengaruhnya bahkan mengambil alih Aston Martin.
Geely sendiri bukan nama baru di industri otomotif global. Perusahaan tersebut telah memiliki sejumlah merek ternama, seperti Lotus dan London Electric Vehicle Company (LEVC). Pendiri sekaligus Ketua Geely, Li Shufu, juga dikenal memiliki ketertarikan terhadap merek-merek otomotif legendaris asal Inggris.
Peluang Geely memperluas kepemilikan dinilai semakin terbuka seiring merosotnya nilai pasar Aston Martin. Jika sebelumnya perusahaan ini pernah memiliki kapitalisasi pasar sekitar 4,3 miliar poundsterling, kini nilainya diperkirakan hanya sekitar sepersepuluh dari angka tersebut.
Meski berhasil mengamankan pendanaan baru, Aston Martin masih menghadapi tantangan besar untuk mengembalikan profitabilitas dan menjaga eksistensinya di pasar mobil mewah yang semakin kompetitif.
(Sumber: Carscoops)