Tak Lagi Identik Perpeloncoan, MPLS Ramah di SMPN 15 Kendari Bikin Siswa Baru Betah Sejak Hari Pertama

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang dulu kerap dikaitkan dengan perpeloncoan dan senioritas kini mulai berubah. Di SMP Negeri 15 Kendari, Sulawesi Tenggara, peserta didik baru justru disambut dengan permainan edukatif, dialog interaktif, hingga penguatan karakter dalam suasana yang aman dan menyenangkan. (Foto: Humas Kemendikdasmen/Shaka G)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, JAKARTA -- Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang dulu kerap dikaitkan dengan perpeloncoan dan senioritas kini mulai berubah. Di SMP Negeri 15 Kendari, Sulawesi Tenggara, peserta didik baru justru disambut dengan permainan edukatif, dialog interaktif, hingga penguatan karakter dalam suasana yang aman dan menyenangkan.

Transformasi tersebut mendapat perhatian langsung dari Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq yang meninjau penutupan MPLS Ramah di sekolah tersebut pada Jumat (17/7/2026).

Dalam kunjungannya, Fajar memastikan pelaksanaan MPLS benar-benar menjadi ruang yang bebas dari kekerasan dan perundungan serta mampu menanamkan nilai-nilai karakter sejak hari pertama siswa memasuki lingkungan sekolah.

"Tidak boleh ada pembulian, tidak boleh ada kekerasan. Jadikan sekolah sebagai rumah kedua buat kita semua," kata Fajar di hadapan ratusan peserta didik.

Suasana berlangsung hangat ketika Wamen mengajak para siswa berdialog, bernyanyi bersama lagu Rukun Sama Teman ciptaan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, sekaligus mengulas berbagai materi yang telah dipelajari selama lima hari MPLS.

Menariknya, saat diminta menyebut materi yang paling berkesan, banyak siswa memilih pembelajaran mengenai etika bermedia sosial dan adab di internet.

Salah seorang siswi mengaku kini memahami pentingnya menghargai hasil karya orang lain dengan tidak melakukan plagiarisme. Sementara siswa lainnya menyebut komentar kasar di media sosial sebagai salah satu bentuk perilaku yang harus dihindari.

Selain memperkuat literasi digital, para siswa juga diajak menerapkan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH), mulai dari bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, hingga tidur lebih awal.

Menurut Fajar, kebiasaan sederhana tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter generasi muda.

Pelaksanaan MPLS Ramah di SMP Negeri 15 Kendari juga tampil berbeda. Keterbatasan ruang belajar justru dimanfaatkan sekolah untuk menghadirkan lebih banyak kegiatan di luar kelas melalui permainan edukatif dan eksplorasi lingkungan sekolah.

Panitia MPLS Ramah SMP Negeri 15 Kendari, Yudi Eritman, menjelaskan peserta didik diperkenalkan dengan lingkungan sekolah melalui kegiatan bertema Aku dan Sekolahku serta Aku dan Lingkunganku.

Anak-anak diajak berkeliling sekolah, menyelesaikan tantangan di setiap pos, berdiskusi, hingga bekerja sama dalam berbagai permainan yang dirancang untuk membangun kebersamaan.

"Anak-anak lebih senang karena mereka belajar sambil bermain. Mereka mengenal lingkungan sekolah dengan cara yang menyenangkan," ujar Yudi.

Pengalaman positif itu juga dirasakan salah seorang peserta didik baru, Natan Raditya. Ia mengaku sempat khawatir akan mengalami perpeloncoan sebelum memasuki jenjang SMP.

Namun, seluruh kekhawatirannya sirna setelah mengikuti MPLS Ramah.

"Awalnya saya takut dibully atau diperlakukan tidak baik. Ternyata selama MPLS tidak ada sama sekali. Sangat seru karena banyak permainan, materi dari narasumber, dan guru-gurunya ramah," kata Natan.

Pelaksanaan MPLS Ramah di SMP Negeri 15 Kendari menjadi salah satu contoh perubahan wajah orientasi sekolah di Indonesia. Fokus kegiatan kini tidak lagi pada senioritas, melainkan membangun lingkungan belajar yang inklusif, aman, nyaman, serta menyenangkan agar setiap anak dapat memulai perjalanan pendidikannya dengan penuh semangat.

(Sumber: Kemendikdasmen)