![]() |
| Turki kian serius menjadi Mitra Dialog Penuh ASEAN usai gelar forum perdana di Jakarta. Fokus kerja sama energi, mineral kritis, dan digitalisasi. ( Foto: freepik) |
Editor: Devona R
GEBRAK.ID,JAKARTA – Langkah Turki memperkuat posisinya di Asia Tenggara memasuki babak baru. Forum ASEAN-Turki perdana yang digelar di Jakarta, Senin (29/6/2026), menjadi momentum strategis bagi Ankara untuk mendorong statusnya menjadi Mitra Dialog Penuh (Full Dialogue Partner) ASEAN.
Forum bertajuk "Bridges of Progress: Advancing ASEAN-Türkiye Cooperation across Economy, Security, Sustainability, Peacebuilding, and Digitalization" ini digagas oleh Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) bersama Kedutaan Besar Turki di Jakarta. Pertemuan ini mempertemukan para pembuat kebijakan, diplomat, akademisi, dan pakar dari kedua kawasan.
Duta Besar Turki untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Prof. Dr. Talip Küçükcan, menegaskan forum ini bukan sekadar ajang seremonial, melainkan wujud komitmen membangun kemitraan strategis jangka panjang.
"Forum ASEAN-Turki merupakan manifestasi nyata dari tekad kelembagaan kami untuk membangun visi strategis bersama dalam jangka panjang. Kami ingin forum ini menjadi mekanisme dialog yang berkelanjutan pada tahun-tahun mendatang," ujar Küçükcan dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (1/7/2026).
Potensi Saling Melengkapi ASEAN dan Turki
Presiden ERIA, Tetsuya Watanabe, menilai ASEAN dan Turki memiliki karakteristik ekonomi yang saling melengkapi. ASEAN merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia, sementara Turki memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara Eropa, Asia, dan Timur Tengah.
"Sinergi antara kedua kawasan menyimpan potensi besar untuk meningkatkan kemakmuran bersama, ketahanan ekonomi, dan keamanan," ujar Watanabe.
Senada, Deputi Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Ekonomi, Satvinder Singh, mengatakan hubungan ASEAN dan Turki membutuhkan perhatian strategis yang lebih besar di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.
Rekomendasi Kerja Sama Strategis
Forum menghasilkan sejumlah rekomendasi kebijakan untuk memperdalam kemitraan ASEAN-Turki:
1. Energi dan Mineral Kritis
Kolaborasi di sektor energi dan mineral kritis menjadi fokus utama. Turki yang dikenal sebagai pusat transit energi internasional dinilai memiliki potensi besar untuk bersinergi dengan pasar energi ASEAN yang terus berkembang. Rekomendasi mencakup transfer teknologi, riset bersama, hingga pengembangan ekosistem manufaktur untuk mineral strategis.
Langkah ini sejalan dengan komitmen Indonesia dan Turki yang telah menandatangani nota kesepahaman di bidang energi dan pertambangan pada kunjungan Presiden Recep Tayyip Erdogan ke Indonesia, Februari 2025 lalu.
2. Perluasan Kemitraan Kelembagaan
Para peserta mendorong keterlibatan Turki dalam berbagai mekanisme regional, termasuk Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) serta memperkuat peran sebagai pengamat dalam ASEAN Defence Ministers' Meeting-Plus (ADMM-Plus).
3. Transformasi Digital dan SDM
Forum juga mengusulkan pembentukan Digital Skills Passport berbasis micro-credential, pendirian Digital Workforce Development Center, serta penyelenggaraan Forum Pemuda ASEAN-Turki setiap tahun untuk mempererat kolaborasi di bidang pendidikan vokasi dan pengembangan talenta digital.
Dukungan dan Jalan Panjang Menuju Status Mitra Dialog Penuh
Upaya Turki menjadi Mitra Dialog Penuh ASEAN mendapatkan dukungan dari sejumlah negara anggota. Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Sugiono telah menyatakan dukungan penuh saat pertemuan 2+2 Dialogue di Ankara, Januari 2026 lalu . Thailand dan Filipina juga menyatakan dukungan serupa.
Perjalanan diplomatik Turki dengan ASEAN telah dimulai sejak 2010 dengan bergabung dalam Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC), diikuti akreditasi Kedutaan Besar untuk ASEAN pada 2011, dan perolehan status Sectoral Dialogue Partner pada 2017.
Pada 2024, Turki secara resmi mengajukan permohonan menjadi Full Dialogue Partner. Forum perdana di Jakarta ini diharapkan menjadi langkah konkret yang memperkuat pencalonan tersebut sekaligus membuka peluang kerja sama lebih luas di bidang perdagangan, energi, keamanan, digitalisasi, dan mineral kritis.
( berbagai sumber)
