UI Gandeng BNN Gelar Majelis Nyala Purnama, Dorong Gerakan Budaya Cegah Penyalahgunaan Narkoba

Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia (UI) berkolaborasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), Urban Spiritual Indonesia, dan Komoenitas Makara menyelenggarakan program kebudayaan luhur bertajuk "Majelis Nyala Purnama" di Makara Art Center UI, Depok, Jawa Barat, pada Selasa (30/6/2026) malam. (Foto: Humas Komoenitas Makara)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, DEPOK – Memperingati Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) 2026, Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia (UI) bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Komoenitas Makara, dan Urban Spiritual Indonesia menggelar Majelis Nyala Purnama di Makara Art Center UI, Depok, Jawa Barat, Selasa (30/6/2026) malam.

Mengusung tema "Membangun Strategi Preventif dalam Membentuk Kesadaran Budaya Bersih Narkoba", kegiatan ini menghadirkan pendekatan yang berbeda dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika. Tak hanya menitikberatkan aspek hukum, forum tersebut juga menggabungkan perspektif akademik, sosial, budaya, hingga spiritual sebagai bagian dari strategi membangun ketahanan masyarakat.

Majelis Nyala Purnama menjadi simbol lahirnya kesadaran kolektif untuk melindungi generasi muda dari ancaman narkoba melalui gerakan budaya yang berkelanjutan.

Acara tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang, di antaranya Deputi Pencegahan BNN RI Irjen Pol. M. Zainul Muttaqien, Deputi Bidang Rehabilitasi BNN RI dr. Bina Ampera Bukit, Guru Besar Departemen Kriminologi Universitas Indonesia Prof. Adrianus Eliasta Meliala, Direktur Kebudayaan UI Dr. Ngatawi Al Zastrouw, serta Pendiri Urban Spiritual Indonesia Dr. Turita Indah Setyani.

Dalam sambutannya, Deputi Pencegahan BNN RI Irjen Pol. M. Zainul Muttaqien menegaskan bahwa perang melawan narkoba merupakan tanggung jawab seluruh elemen bangsa.

"Saya mengajak seluruh komponen bangsa yang hadir malam ini untuk menjadikan peringatan ini bukan sebagai akhir, melainkan awal dari gerakan bersama. Pencegahan narkotika bukan hanya tugas BNN, tetapi menjadi tanggung jawab akademisi, pemerintah, media, komunitas, dan seluruh masyarakat," ujar Zainul.

Sementara itu, Deputi Bidang Rehabilitasi BNN RI dr. Bina Ampera Bukit menekankan pentingnya keluarga sebagai benteng utama pencegahan penyalahgunaan narkoba.

"Harapan itu ada pada kita melalui penguatan ketahanan keluarga sebagai benteng pencegahan terhadap bahaya narkoba. Apabila upaya tersebut belum berhasil, maka rehabilitasi menjadi benteng terakhir," kata Bina.

Direktur Kebudayaan UI, Dr. Ngatawi Al Zastrouw, mengibaratkan narkoba layaknya virus yang mudah menyerang masyarakat dengan ketahanan budaya yang lemah.

Menurutnya, selain langkah penindakan dan rehabilitasi, strategi preventif melalui penguatan budaya menjadi bagian penting untuk membangun "imunitas kultural" agar masyarakat mampu menolak pengaruh narkotika sejak dini.

Pandangan serupa disampaikan Prof. Adrianus Eliasta Meliala. Ia mendorong seluruh pihak lebih aktif hadir di ruang-ruang yang dekat dengan generasi muda, termasuk memanfaatkan media digital dan media sosial sebagai sarana edukasi.

"Kuasailah dunia digital, hadirlah di setiap grup WhatsApp anak muda, datanglah ke konser-konser yang sering dikunjungi generasi muda agar kita dapat mengenali mereka sekaligus mendeteksi potensi penyimpangan sejak awal," ujar Adrianus.

Pada sesi penutup, Pendiri Urban Spiritual Indonesia, Dr. Turita Indah Setyani, memimpin meditasi bersama. Ia menjelaskan bahwa meditasi dapat menjadi salah satu metode self-healing untuk membangun kesadaran diri sekaligus memperkuat komitmen menjalani kehidupan yang bersih dari narkoba.

Melalui kolaborasi lintas sektor ini, Direktorat Kebudayaan UI bersama para mitra berharap Majelis Nyala Purnama tidak berhenti sebagai seremoni peringatan HANI semata, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan yang mampu membangun ekosistem kampus dan masyarakat yang kreatif, sehat, serta bebas dari penyalahgunaan narkotika.

(Pusinfo Direktorat Kebudayaan UI – Humas Komoenitas Makara)