5 Tanda Tubuh dan Pikiran Sedang Masuk Mode Bertahan Hidup

women stress pixabay

Tekanan dari pekerjaan, persoalan pribadi, maupun berbagai masalah yang datang bersamaan dapat membuat seseorang masuk ke dalam survival mode atau mode bertahan hidup. (Foto ilustrasi: Pixabay)

Editor: Devona R

GEBRAK.ID — Tekanan dari pekerjaan, persoalan pribadi, maupun berbagai masalah yang datang bersamaan dapat membuat seseorang masuk ke dalam survival mode atau mode bertahan hidup. Kondisi ini tidak selalu terlihat dari luar karena seseorang masih bisa menjalani aktivitas seperti biasa, meski sebenarnya tubuh dan pikirannya sedang bekerja keras menghadapi tekanan.

Menurut Real Simple, Kamis (27/8/2026), orang yang berada dalam mode bertahan hidup biasanya berusaha melewati hari tanpa menambah beban. Fokus utama mereka adalah bertahan dan menyelesaikan apa yang harus dilakukan, sementara kebutuhan emosional seringkali terabaikan.

Berikut lima tanda yang dapat muncul ketika seseorang mulai berada dalam kondisi tersebut.

  1. Lebih sering lupa

Pelupa bisa menjadi tanda otak mengalami kelelahan. Pekerja sosial klinis berlisensi sekaligus pendiri Temperance Psychotherapy, Nicole Ivelevitch, LCSW, mengatakan seseorang dapat tiba-tiba lupa alur cerita yang ingin disampaikan atau tidak ingat tempat menyimpan barang.

“Karena otak Anda fokus pada pemantauan potensi ancaman dan tuntutan, otak akan menghabiskan lebih sedikit energi untuk memori kerja, perhatian, perencanaan, dan fungsi eksekutif,” kata Ivelevitch.

  1. Kerap terbangun pada dini hari

Terbangun berulang kali pada malam hari dan sulit kembali tidur juga patut diperhatikan. Archana Shrestha, MD, dokter spesialis gawat darurat sekaligus ahli pemulihan kelelahan kerja, mengatakan kondisi tersebut dapat terjadi ketika pikiran masih aktif meski tubuh membutuhkan istirahat.

Kekhawatiran yang muncul saat terbangun dapat membuat otak menganggap berbagai hal sebagai ancaman. “Semua itu terasa seperti ancaman dan mengaktifkan sistem saraf simpatik Anda,” ujar Shrestha.

  1. Mudah tersulut emosi

Tekanan berkepanjangan juga dapat membuat seseorang lebih gampang marah. Ivelevitch menjelaskan, sistem saraf yang mengalami tekanan dapat membuat amigdala menjadi lebih reaktif, sementara peran korteks prefrontal dalam mengendalikan respons emosi menurun.

Akibatnya, persoalan kecil yang biasanya mudah diabaikan justru terasa jauh lebih mengganggu.

“Alih-alih naik dari nol ke lima, Anda mungkin sudah berada di angka enam, sehingga ketidaknyamanan kecil akan membuat Anda mencapai angka sepuluh,” katanya.

  1. Terlalu lama memikirkan emosi negatif

Mode bertahan hidup dapat membuat seseorang terus memikirkan pengalaman atau emosi yang tidak menyenangkan. Pada saat yang sama, ruang untuk merasakan emosi positif menjadi semakin sedikit.

Shrestha mengingatkan bahwa terus-menerus berkutat dengan emosi negatif dapat meningkatkan stres dalam jangka panjang dan berpotensi memengaruhi kesehatan.

  1. Merasa harus mengendalikan semuanya

Ketika kehidupan terasa tidak menentu, seseorang dapat berusaha menciptakan kendali agar situasi terasa lebih aman. Sikap ini bisa muncul dalam bentuk perfeksionisme atau keinginan agar segala sesuatu berjalan persis sesuai rencana.

Ivelevitch mengatakan kecenderungan tersebut tidak selalu berarti seseorang ingin mengendalikan orang lain. “Ini bukan upaya untuk mengendalikan orang lain, tetapi upaya untuk menciptakan prediktabilitas,” ujarnya.

Untuk membantu keluar dari kondisi tersebut, Shrestha menyarankan seseorang mengingatkan dirinya bahwa ia berada dalam keadaan aman. Tarik napas perlahan melalui hidung, lalu embuskan melalui mulut.

Setelah itu, arahkan perhatian pada lingkungan sekitar dengan memperhatikan apa yang dapat dilihat, didengar, dan dirasakan. Cara sederhana tersebut dapat membantu mengalihkan tubuh dari respons “lawan atau lari” yang melibatkan sistem saraf simpatik menuju kondisi yang lebih tenang melalui sistem saraf parasimpatik.

Jika tanda-tanda tersebut berlangsung lama atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan dari tenaga profesional juga dapat menjadi langkah yang tepat.

(Sumber: Real Simple)