Sering Ambil Screenshot di Ponsel? Studi Ungkap Dampaknya bagi Daya Ingat
Kebiasaan mengambil screenshot atau tangkapan layar di ponsel ternyata tidak selalu membantu seseorang mengingat informasi. Sebuah penelitian dari Binghamton University, New York, Amerika Serikat, justru menemukan adanya kaitan antara kebiasaan tersebut dan kemampuan mengingat yang lebih rendah. (Foto ilustrasi: Pixabay)
Editor: Devona R
GEBRAK.ID — Kebiasaan mengambil screenshot atau tangkapan layar di ponsel ternyata tidak selalu membantu seseorang mengingat informasi. Sebuah penelitian dari Binghamton University, New York, Amerika Serikat, justru menemukan adanya kaitan antara kebiasaan tersebut dan kemampuan mengingat yang lebih rendah.
Penelitian berjudul “Digital Amnesia: The Aftermath of a Screenshot” yang dikutip New York Post, Minggu (23/8/2026)mengungkap bahwa orang yang mengambil tangkapan layar dapat mengingat informasi lebih buruk dibandingkan mereka yang hanya melihatnya tanpa memotret layar.
Fenomena tersebut berkaitan dengan photo-taking impairment effect, yakni kondisi ketika aktivitas mengambil gambar justru mengganggu proses pembentukan ingatan.
Menurut penulis penelitian, Sophia Fabrizio, screenshot sebenarnya tetap bisa berguna jika seseorang kembali melihatnya sebagai pengingat.
“Jika Anda tidak secara aktif meninjau kembali gambar-gambar tersebut sebagai petunjuk, kemungkinan besar gambar itu tidak akan memberikan manfaat bagi ingatan,” ujar Fabrizio.
Dalam penelitian itu, mahasiswa diperlihatkan berbagai karya seni berupa foto, lukisan, hingga sketsa. Sebagian gambar diminta untuk mereka screenshot, sedangkan gambar lainnya cukup dilihat.
Setelah itu, para peserta menjalani tes untuk mengenali karya seni yang sebelumnya mereka lihat. Peneliti menggunakan sejumlah gambar yang memiliki kemiripan dengan karya asli sehingga peserta tidak cukup hanya mengandalkan ingatan secara umum.
Hasilnya menunjukkan peserta lebih kesulitan mengingat gambar yang mereka screenshot. Bahkan, mereka juga lebih jarang mengingat bahwa pernah mengambil tangkapan layar terhadap gambar tersebut.
Peneliti menjelaskan, kondisi itu kemungkinan dipengaruhi beberapa faktor. Teori divided attention menyebut aktivitas mengambil screenshot dapat membagi perhatian sehingga otak memiliki lebih sedikit sumber daya untuk membentuk ingatan.
Ada pula teori cognitive offloading. Seseorang cenderung mengurangi usaha untuk mengingat ketika mengetahui informasi sudah tersimpan di perangkat lain. Sementara itu, attentional disengagement menggambarkan bagaimana aktivitas memotret dapat membuat seseorang sedikit menjauh dari pengalaman yang sedang berlangsung.
Menariknya, peserta tetap menunjukkan pola serupa meski mengetahui gambar screenshot mereka akan langsung dihapus dan tidak tersimpan di tempat lain.
Para peneliti menyarankan menulis informasi yang ingin diingat sebagai alternatif. Cara tersebut dinilai dapat membuat otak lebih aktif memproses informasi dibandingkan sekadar mengambil screenshot.
(Sumber: New York Post)
