Konsumsi Minuman Manis Berlebihan Berisiko Kanker Lambung Lebih Tinggi
Penelitian yang dipublikasikan dalam Gastro Hep Advances menemukan, orang yang mengonsumsi sedikitnya satu minuman dengan pemanis tambahan setiap hari memiliki risiko kanker lambung 2,45 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya. (Foto ilustrasi: Pixabay)
Editor: Devona R
GEBRAK.ID — Kebiasaan mengonsumsi minuman dengan pemanis tambahan secara berlebihan perlu mendapat perhatian. Sebuah studi terbaru dikutip Eating Well, Kamis (27/8/2026), menemukan adanya hubungan antara konsumsi minuman manis dan peningkatan risiko kanker lambung.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Gastro Hep Advances menemukan, orang yang mengonsumsi sedikitnya satu minuman dengan pemanis tambahan setiap hari memiliki risiko kanker lambung 2,45 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya.
Hubungan tersebut terlihat pada perempuan maupun laki-laki. Risiko tercatat sekitar tiga kali lebih tinggi pada perempuan dan dua kali pada laki-laki.
Para peneliti juga menelusuri kemungkinan infeksi Helicobacter pylori atau H. pylori sebagai penyebab hubungan tersebut. Bakteri ini selama ini dikenal sebagai salah satu faktor risiko kanker lambung. Namun, hasil penelitian menunjukkan kaitan antara minuman berpemanis tambahan dan kanker lambung tidak bergantung pada infeksi H. pylori.
Studi tersebut turut menemukan bahwa minuman dengan pemanis buatan tidak menunjukkan hubungan serupa dengan peningkatan risiko kanker lambung. Sementara itu, konsumsi fruktosa dalam jumlah lebih tinggi memiliki hubungan positif dengan kanker lambung, terutama pada kelompok perempuan.
Penelitian memanfaatkan data dari Nurses Health Study dan Health Professionals Follow-up Study yang telah mengikuti pola makan serta kondisi kesehatan puluhan ribu warga Amerika Serikat selama beberapa dekade.
Sebanyak 112.284 peserta masuk dalam analisis dan peneliti menemukan 278 kasus kanker lambung. Para peserta secara berkala melaporkan pola konsumsi minuman, kondisi kesehatan, gaya hidup, serta riwayat medis.
Jenis minuman berpemanis yang diteliti mencakup minuman bersoda, minuman buah, limun, dan minuman olahraga. Peneliti kemudian memperhitungkan sejumlah faktor risiko lain, termasuk konsumsi daging merah dan daging olahan.
Meski menunjukkan hasil yang perlu diperhatikan, penelitian ini belum membuktikan bahwa minuman manis secara langsung menyebabkan kanker lambung. Para peneliti menegaskan studi tersebut bersifat observasional sehingga masih membutuhkan penelitian lanjutan.
Keterbatasan lainnya berkaitan dengan karakteristik peserta. Sebagian besar merupakan tenaga kesehatan berkulit putih yang saat pertama mengikuti penelitian berusia 30 hingga 75 tahun. Jumlah kasus kanker lambung yang relatif kecil juga membuat hasil penelitian perlu ditafsirkan secara hati-hati.
Temuan ini tetap menjadi pengingat untuk membatasi konsumsi minuman dengan pemanis tambahan dan menerapkan pola makan yang lebih seimbang sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
(Sumber: Eating Well)
