8 Perusahaan Indonesia Masuk Forbes Asia 100 to Watch 2026, AI Jadi Tren Utama

1787649573708

Cekat.AI hingga Waste4Change masuk daftar Forbes Asia 100 to Watch 2026, menunjukkan semakin beragamnya inovasi startup Indonesia di kawasan Asia-Pasifik.(Foto: Forbes)

Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID,JAKARTA – Sebanyak delapan perusahaan asal Indonesia masuk dalam daftar Forbes Asia 100 to Watch 2026, yang menyoroti perusahaan rintisan dan bisnis kecil dengan potensi pertumbuhan di kawasan Asia-Pasifik. Forbes Asia menyebut inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI) menjadi tema dominan dalam daftar tahun ini.

Hampir seperempat perusahaan yang terpilih bergerak di bidang teknologi enterprise yang menawarkan layanan berbasis AI. Selain AI, sektor robotika dan teknologi hijau juga menunjukkan perkembangan pesat.

Forbes mencatat terdapat 10 perusahaan robotika dan 10 perusahaan di sektor energi serta teknologi hijau dalam daftar 100 perusahaan tersebut. Secara keseluruhan, 100 perusahaan yang masuk daftar Forbes Asia 100 to Watch 2026 telah menghimpun pendanaan lebih dari US$2,4 miliar atau sekitar Rp42 triliun. Hampir US$1 miliar di antaranya diperoleh sepanjang 2026.

Indonesia menempati posisi bersama Australia sebagai negara dengan jumlah perusahaan terbanyak kelima dalam daftar tersebut, yakni masing-masing delapan perusahaan. Posisi Indonesia berada di bawah India dengan 19 perusahaan, Singapura 15 perusahaan, China 10 perusahaan, serta Jepang dan Korea Selatan yang masing-masing menyumbangkan sembilan perusahaan.

Daftar 8 perusahaan Indonesia

Delapan perusahaan Indonesia yang masuk Forbes Asia 100 to Watch 2026 berasal dari berbagai sektor, mulai dari teknologi enterprise, keuangan, e-commerce, kesehatan hingga teknologi hijau.

Berikut daftarnya:

Cekat.AI – Teknologi Enterprise

Durianpay – Keuangan

Grouu – E-commerce

RetailLoluna – E-commerce & Retail

Satu Dental – Bioteknologi & Kesehatan

Sirka – Bioteknologi & Kesehatan

Soul Parking – Teknologi Konsumen

Waste4Change – Energi & Teknologi Hijau.

Cekat.AI bawa AI ke layanan bisnis

Cekat.AI menjadi wakil Indonesia dalam kategori teknologi enterprise. Perusahaan yang didirikan pada 2023 ini mengembangkan bot AI untuk mengotomatisasi layanan pelanggan melalui situs web maupun platform seperti WhatsApp dan Instagram. Forbes mencatat Cekat.AI telah digunakan lebih dari 3.000 pelanggan dari 15 industri. Pelanggannya antara lain Siloam Hospitals dan Indomaret.

Startup yang berbasis di Jakarta tersebut juga menghimpun pendanaan seed dari Insignia Ventures Partners pada April 2026 untuk memperkuat tim pengembang dan ekspansi regional.

Durianpay masuk sektor teknologi keuangan

Di sektor keuangan terdapat Durianpay. Startup yang didirikan pada 2020 itu mengembangkan platform pembayaran B2B. Forbes mencatat Durianpay memproses transaksi dengan nilai total lebih dari US$5,5 miliar sepanjang 2025. Perusahaan juga menyebut 2025 menjadi tahun pertama mereka mencatatkan keuntungan.

Durianpay telah melayani lebih dari 400 klien lokal, termasuk Jiwa Group dan Evermos. Startup ini telah mengumpulkan pendanaan sebesar US$8,1 juta dan berencana memperluas layanan ke luar Indonesia.

Grouu dan Loluna wakili e-commerce

Indonesia juga menempatkan dua perusahaan di kategori e-commerce dan retail, yakni Grouu dan Loluna. Grouu yang berdiri pada 2020 awalnya bergerak sebagai penyedia katering makanan bernutrisi untuk bayi. Bisnisnya kemudian berkembang ke makanan siap santap dan makanan ringan untuk anak-anak.

Forbes menyebut Grouu memiliki lebih dari 3.000 titik penjualan di supermarket serta jaringan lebih dari 190 mompreneur di 50 kota. Perusahaan ini telah memperoleh pendanaan lebih dari US$1 juta. Sementara itu, Loluna merupakan merek perawatan kulit bayi asal Indonesia yang didirikan pada 2022.

Produk seperti sabun mandi, krim dan tabir surya diklaim telah tersedia di sekitar 10.000 toko di Indonesia, termasuk Alfamidi dan Watsons, serta melalui Shopee dan TikTok Shop. Loluna sebelumnya memperoleh pendanaan seed pada Februari 2025 dari sejumlah investor, termasuk Alpha JWC Ventures dan Creative Gorilla Capital.

Satu Dental dan Sirka masuk sektor kesehatan

Sektor bioteknologi dan kesehatan diwakili Satu Dental serta Sirka. Satu Dental, yang didirikan pada 2021, mengembangkan jaringan layanan kesehatan gigi dengan konsep perawatan yang lebih terjangkau. Hingga Juni 2026, perusahaan memiliki 56 klinik di wilayah Jabodetabek dan dua kota besar lainnya di Jawa. Satu Dental juga bekerja sama dengan sekitar 500 dokter gigi dan dokter umum. Perusahaan telah mengumpulkan pendanaan lebih dari US$20 juta dan menargetkan memiliki lebih dari 60 klinik pada akhir 2026.

Sementara Sirka awalnya hadir sebagai aplikasi kesehatan yang memberikan layanan konsultasi dan pendampingan pola makan. Bisnis tersebut kemudian berkembang melalui kemitraan dengan klinik kesehatan dan membuka klinik sendiri pada 2024. Saat ini Sirka memiliki dua klinik di wilayah Jabodetabek dengan fokus antara lain pada manajemen berat badan, kesehatan pencernaan, diabetes dan penyakit kronis.

Soul Parking digitalisasi layanan parkir

Soul Parking masuk kategori teknologi konsumen. Startup yang berdiri pada 2020 tersebut mengembangkan sistem parkir pintar, termasuk rak parkir mekanis vertikal untuk sepeda motor. Menurut Forbes, teknologi tersebut dapat meningkatkan kapasitas parkir hingga delapan kali. Soul Parking juga mengembangkan sistem untuk mengelola gerbang parkir dan memantau kendaraan secara real time, serta aplikasi untuk mencari tempat parkir dan melakukan pembayaran digital. Perusahaan saat ini mengelola sekitar 150 lokasi di Indonesia dan berencana memperluas jangkauan ke kota-kota lapis kedua dan ketiga.

Waste4Change dorong bisnis pengelolaan sampah

Satu-satunya wakil Indonesia dalam kategori energi dan teknologi hijau adalah Waste4Change. Perusahaan yang berdiri pada 2014 tersebut menawarkan layanan pengelolaan sampah untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Forbes mencatat Waste4Change mengklaim telah mengelola lebih dari 90.000 ton sampah sejak berdiri, termasuk 38.000 ton pada 2025 melalui program daur ulang material dan pengomposan sampah organik.

Perusahaan tersebut melayani sekitar 400 perusahaan dan 21.000 rumah tangga. Pada 2022, Waste4Change memperoleh pendanaan Series A sebesar US$5 juta.

Forbes: Seleksi tidak hanya berdasarkan pendanaan

Forbes Asia menjelaskan bahwa daftar 100 to Watch tidak sekadar didasarkan pada besarnya investasi yang diperoleh perusahaan. Kandidat dihimpun melalui pengajuan daring serta nominasi dari akselerator, inkubator, universitas, modal ventura dan pihak lainnya.

Perusahaan yang dapat dipertimbangkan harus berkantor pusat di kawasan Asia-Pasifik, berstatus perusahaan swasta berorientasi laba, memiliki pendapatan tahunan maksimal US$50 juta dan total pendanaan maksimal US$100 juta hingga 15 Agustus 2026. Tim editorial Forbes kemudian menilai sejumlah aspek, termasuk dampak terhadap industri dan kawasan, kesesuaian pasar, model bisnis, inovasi, rekam jejak pertumbuhan pendapatan serta kemampuan menarik pendanaan.

Masuknya delapan perusahaan Indonesia dalam daftar tersebut menunjukkan bahwa ekosistem startup nasional tidak hanya berkembang di sektor teknologi finansial. Inovasi juga semakin menyebar ke AI, layanan kesehatan, perdagangan digital, teknologi konsumen hingga solusi lingkungan.

Dengan dominasi AI dan semakin kuatnya tren teknologi hijau serta robotika di kawasan Asia-Pasifik, daftar Forbes Asia 100 to Watch 2026 sekaligus memperlihatkan sektor-sektor yang berpotensi menjadi sumber pertumbuhan startup pada tahun-tahun mendatang.

(berbagai sumber)