Menembus Benteng Penetrasi: Mengapa Motor Listrik Masih ‘Nanggung’ bagi Kelas Menengah-Bawah?Subsidi dan Promosi Gencar, tapi Pasar Masih Gamang
Hambatan Motor Listrik & Upaya Pemerintah yang masih belum mampu meyakinkan publik.Foto: Alva)
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID,JAKARTA– Deru mesin bensin masih mendominasi jalanan Indonesia. Meski pemerintah dan pabrikan gencar mempromosikan serta memangkas harga, adopsi sepeda motor listrik di segmen masyarakat menengah ke bawah masih menemui tembok tebal. Data terbaru menunjukkan, penjualan motor listrik justru terkontraksi, menyusul ketidakpastian insentif dan sejumlah hambatan riil yang dirasakan langsung oleh konsumen kelas pekerja.
Pengamat Otomotif dari ITB, Yannes Martinus, mengungkapkan bahwa ada tiga hambatan utama yang membuat motor listrik belum cocok untuk kelompok ini: keterbatasan daya listrik rumah tangga, ekosistem purna jual yang minim, dan belum likuidnya pasar motor bekas yang membuat skema kredit jadi mahal
Hambatan 1: Daya Listrik 450-900 VA dan Minimnya Infrastruktur
Masalah paling teknis dan fundamental adalah pengisian daya di rumah. Yannes menjelaskan, sekitar 80 persen pengisian daya kendaraan listrik dilakukan di kediaman. Namun, masyarakat kelas pekerja umumnya tinggal dengan daya listrik terpasang antara 450W hingga 900W. “Charging motor listrik yang membutuhkan daya sekitar 400W jelas jadi hambatan riil.
Bisa menyebabkan listrik turun atau ‘jeglek’ jika digunakan bersamaan dengan peralatan elektronik lain,” ujar Yannes. Hambatan ini diperparah dengan belum meratanya fasilitas penukaran baterai (battery swap) maupun SPKLU, yang masih terkonsentrasi di area perkotaan saja. “Sementara infrastruktur SPKLU ataupun swap masih sangat terkonsentrasi di spot area perkotaan saja,” tambahnya.
Hambatan 2: Bukan Sekadar Transportasi, tapi Aset dan PencaharianBagi segmen menengah-bawah.
Sepeda motor bukan sekadar alat transportasi, melainkan aset produktif untuk mencari nafkah (ojek, kurir) sekaligus tabungan darurat yang bisa dicairkan saat dibutuhkan. Sayangnya, pasar motor listrik bekas saat ini belum terbentuk dan belum ada standar sertifikasi kesehatan baterai yang terpercaya. Hal ini membuat perusahaan pembiayaan (multifinance) enggan memberikan skema kredit murah. “Tanpa pasar bekas yang likuid, unit tarikan tidak punya harga. Konsekuensinya, multifinance menolak atau menuntut DP dan bunga yang lebih tinggi,” tegas Yannes.
Ketua Umum Aismoli, Budi Setiyadi, juga mengakui bahwa nilai jual kembali menjadi faktor krusial yang membuat masyarakat ragu beralih ke motor listrik.
Hambatan 3: Krisis Montir & Jaringan Bengkel Resmi
Faktor penentu lainnya adalah ekosistem purna jual atau 3S (Sales, Service, Spareparts) yang belum matang. Saat ini, jumlah bengkel resmi motor listrik dan montir EV tersertifikasi masih sangat jarang jika dibandingkan dengan motor bensin konvensional. Bagi kelompok menengah bawah, kendaraan yang tertahan lama di bengkel akibat langkanya suku cadang atau montir adalah bencana. “Itu berdampak langsung pada terhentinya mata pencaharian harian mereka,” jelas Yannes.
Upaya Pemerintah: Molinas, Insentif Rp3 Juta, dan Ekosistem Terintegrasi
Menyadari berbagai hambatan ini, pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian tengah menggodok program Motor Listrik Nasional (Molinas).
1. Membangun Ekosistem dari Hulu ke Hilir
Danantara mendorong Molinas tidak hanya sebagai satu merek, tetapi sebagai platform terbuka yang melibatkan banyak pabrikan lokal seperti Gesits dan Alva. Tujuannya adalah membangun ekosistem menyeluruh, mulai dari manufaktur berbasis nikel Indonesia, industri baterai, hingga infrastruktur.
2. Insentif Turun Menjadi Rp3 Juta
Pemerintah menyiapkan anggaran Rp3 triliun untuk insentif pembelian motor listrik sebesar Rp3 juta per unit. Angka ini turun 57% dari insentif sebelumnya yang mencapai Rp7 juta pada 2023-2024. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan anggaran tersebut belum tentu terserap seluruhnya hingga 1 juta unit karena kapasitas produksi nasional masih terbatas. “Saya pikir paling 100.000 (unit) sampai akhir tahun,” ujarnya.
3. Melibatkan Ekosistem Roda Empat & Pembiayaan
Program ini juga menggandeng bank Himbara untuk skema pembiayaan murah, serta melibatkan perusahaan logistik dan aplikasi transportasi seperti Gojek, Grab, Pos Indonesia, dan J&T untuk memetakan permintaan pasar.
Jalan Masih Panjang
Kunci penetrasi motor listrik di segmen menengah-bawah bukan hanya soal harga atau iming-iming penghematan BBM jangka panjang. Pemerintah dan industri harus bisa membuktikan bahwa motor listrik sama praktis, aman, mudah diperbaiki, dan memiliki kepastian nilai jual. Dengan adanya program Molinas yang terintegrasi dan perbaikan ekosistem, harapan untuk melihat motor listrik menggantikan posisi motor bensin di kalangan pekerja masih terbuka, namun membutuhkan kerja keras dan konsistensi kebijakan.
( berbagai sumber)
