Jangan Heran Nyamuk Makin Banyak Saat Kemarau, Ini Penyebabnya

mosquito-nyamuk

Nyamuk ternyata tidak hanya identik dengan musim hujan. Saat cuaca panas dan kering, serangga ini juga bisa semakin sering muncul, termasuk di dalam rumah. (Foto: Pixabay)

GEBRAK.ID — Nyamuk ternyata tidak hanya identik dengan musim hujan. Saat cuaca panas dan kering, serangga ini juga bisa semakin sering muncul, termasuk di dalam rumah.

Kondisi tersebut berkaitan dengan perubahan suhu dan kebiasaan nyamuk mencari tempat yang sesuai untuk berkembang biak. Ketika musim kemarau menghilangkan banyak genangan air, nyamuk justru dapat masuk ke lingkungan permukiman untuk menemukan lokasi bertelur.

Rosalind Murray, Asisten Profesor Universitas Toronto Mississauga yang mempelajari serangga, menjelaskan bahwa suhu hangat dapat membuat nyamuk kembali aktif.

“Begitu cuaca menghangat, mereka terbang keluar dari area hibernasi mereka dan bertelur di mana pun mereka bisa,” kata Murray, dikutip dari UTM Toronto, Minggu (30/8/2026).

Suhu hangat juga mempercepat perkembangan nyamuk. Murray menjelaskan, pada suhu sekitar 10 derajat Celsius, nyamuk dapat membutuhkan waktu sekitar 40 hari untuk berkembang dari telur hingga dewasa. Ketika suhu berada di atas 25 derajat Celsius, proses tersebut dapat berlangsung hanya sekitar empat hari.

Kecepatan perkembangan itu tentu bergantung pada spesies nyamuk. Suhu yang lebih tinggi juga meningkatkan metabolisme serangga sehingga aktivitasnya menjadi lebih cepat.

“Ini tergantung pada spesiesnya, nyamuk hidup selama beberapa hari atau beberapa minggu,” ujar Murray.

Perubahan iklim yang mendorong kenaikan suhu global turut menjadi perhatian. Kondisi yang semakin hangat berpotensi memperluas wilayah hidup sejumlah spesies nyamuk yang dapat membawa penyakit, termasuk demam berdarah, virus West Nile, dan virus Zika.

“Kita semakin sering melihat spesies tropis ini bermigrasi ke utara,” ungkap Murray.

Telur Aedes aegypti Bisa Bertahan Saat Kering

Peneliti entomologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Awit Suwito, menjelaskan bahwa Aedes aegypti memiliki kemampuan bertahan dalam kondisi kering.

Nyamuk yang dikenal sebagai salah satu pembawa virus dengue tersebut menyukai tempat berisi air jernih untuk berkembang biak. Namun, telurnya dapat tetap bertahan di lingkungan lembap meski air di sekitarnya mengering.

Telur bahkan mampu bertahan hingga musim hujan kembali datang. Ketika genangan air terbentuk, telur yang sebelumnya bertahan dapat melanjutkan siklus hidupnya.

“Telur nyamuk tahan akan kondisi kering sehingga, bila memasuki awal musim hujan, menciptakan genangan-genangan air yang memungkinkan telur tersebut melanjutkan siklus hidupnya,” jelas Awit. “Sehingga seolah-olah penambahan populasi nyamuk makin tinggi dan serempak.”

Kondisi ini menunjukkan bahwa kemarau bukan berarti rumah otomatis terbebas dari nyamuk. Warga tetap perlu memperhatikan tempat-tempat yang berpotensi menjadi lokasi berkembang biak, terutama wadah yang dapat menampung air ketika hujan kembali turun.

Editor: Devona R
(Berbagai Sumber)