Review Xenoblade Chronicles 2 Switch 2 Edition: RPG Epik Makin Cantik, tapi Masih Sulit Dipahami
Review Xenoblade Chronicles 2 Switch 2 Edition: RPG epik yang makin cantik, tetapi masih sulit dipahami. (Foto: Anime News Network)
GEBRAK.ID — Xenoblade Chronicles 2 Switch 2 Edition membawa kembali salah satu RPG terbesar Nintendo ke konsol generasi terbaru dengan peningkatan visual, performa, serta sejumlah konten tambahan. Namun, di balik tampilannya yang jauh lebih memukau, game ini masih mewarisi beberapa persoalan dari versi aslinya.
Berlatar dunia Alrest yang dipenuhi lautan awan, peradaban manusia hidup di atas tubuh para Titan raksasa. Makhluk-makhluk tersebut perlahan menua dan menuju kematian, membuat masa depan dunia semakin tidak pasti.
Di tengah situasi tersebut, seorang pemuda bernama Rex mendapatkan misi besar setelah bertemu Pyra, sosok Blade dengan kekuatan luar biasa. Bersama kelompoknya, Rex harus membawa Pyra menuju Elysium, tanah legendaris yang dipercaya berada di puncak World Tree.
Versi Switch 2 memberikan pengalaman yang lebih tajam dan mulus. Game ini mendukung resolusi hingga 4K dalam mode TV dan Full HD dalam mode handheld dengan target 60 fps, termasuk peningkatan kelancaran pada sejumlah cutscene.
Namun, apakah peningkatan tersebut cukup untuk membuat Xenoblade Chronicles 2 terasa seperti RPG yang benar-benar baru?
Game Besar dengan Masalah Tutorial
Salah satu kelemahan terbesar Xenoblade Chronicles 2 sejak awal adalah cara game ini memperkenalkan sistem permainannya.
Tidak diragukan lagi, game ini memiliki mekanik yang sangat banyak. Ada sistem pertarungan utama, berbagai submekanik dalam pertempuran, perkembangan karakter, kemampuan khusus masing-masing karakter, eksplorasi, hingga sistem yang berkaitan dengan Blade.
Masalahnya, pemain harus memahami semua itu tanpa mendapatkan penjelasan yang benar-benar efektif.
Memang tersedia tutorial. Bahkan tutorial masih muncul ketika pemain sudah bermain puluhan jam. Namun, penjelasannya sering kali terlalu singkat atau tidak memberikan konteks yang cukup.
Lebih buruk lagi, game tidak menyediakan sistem referensi yang memadai untuk membuka kembali tutorial tersebut.
Misalnya, ketika pemain lupa bagaimana Blade Combo atau Driver Combo bekerja, tidak ada menu praktis yang bisa digunakan untuk mengingat kembali mekaniknya. Hal serupa terjadi pada berbagai simbol dan efek yang muncul selama pertempuran.
Untuk RPG dengan sistem permainan serumit Xenoblade Chronicles 2, kekurangan ini terasa cukup fatal.
Ironisnya, edisi Switch 2 tidak memperbaiki masalah tersebut. Jadi, meskipun tampilannya mendapat peningkatan signifikan, pemain baru tetap harus melewati kurva belajar yang cukup curam.
Visual Meningkat, tetapi Belum Sempurna
Peningkatan grafis merupakan salah satu alasan terbesar untuk kembali memainkan Xenoblade Chronicles 2 di Switch 2.
Perbedaannya langsung terasa ketika Rex mulai bergerak. Animasi karakter terlihat jauh lebih halus dan responsif dibandingkan versi sebelumnya.
Namun, peningkatan tersebut tidak sepenuhnya konsisten.
Ketika memasuki cutscene, beberapa karakter justru terlihat kembali mengalami gerakan yang kaku. Gerakan saat berputar atau mengubah arah terkadang terasa patah-patah sehingga kontras dengan kelancaran gameplay.
Masalah lain muncul pada pengolahan audio.
Dalam beberapa adegan, musik terdengar terlalu dominan hingga menutupi dialog karakter. Gangguan kecil seperti ini sebenarnya cukup disayangkan karena cutscene merupakan bagian penting dari pengalaman cerita Xenoblade Chronicles 2.
Ada pula masalah teknis tertentu dalam New Game+ yang berkaitan dengan penggunaan Amiibo dan Item Pouch. Pada saat review dilakukan, gangguan tersebut belum sepenuhnya diperbaiki.
Dunia Alrest dan Perjalanan Rex
Terlepas dari berbagai kelemahan teknis, daya tarik terbesar Xenoblade Chronicles 2 tetap berada pada dunianya.
Alrest merupakan dunia yang sangat luas. Tidak ada daratan biasa yang mendominasi lanskap. Sebaliknya, berbagai kerajaan berdiri di atas tubuh para Titan raksasa yang mengambang di lautan awan.
Masalahnya, para Titan tersebut tidak hidup selamanya.
Mereka semakin tua dan perlahan mati. Kondisi ini memicu konflik antarnegara, terutama antara Mor Ardain dan Uraya.
Pertarungan tidak hanya dilakukan oleh pasukan biasa. Para Driver bertempur menggunakan Blade, makhluk hidup berbentuk senjata yang memiliki kesadaran sendiri.
Rex sendiri merupakan pemuda sederhana yang hidup jauh dari pusat konflik. Kehidupannya berubah setelah sebuah pekerjaan berakhir buruk dan mempertemukannya dengan Pyra.
Pyra ternyata merupakan Aegis, Blade dengan kekuatan yang jauh melampaui kebanyakan Blade lainnya.
Dari sinilah perjalanan Rex dimulai.
Bersama Pyra dan teman-temannya, ia berusaha mencapai Elysium, tanah mitologis yang dipercaya berada di atas World Tree dan menjadi tempat tinggal Architect, sosok yang diyakini sebagai pencipta dunia.
Di saat yang sama, konflik politik terus berkembang dan organisasi misterius bernama Torna menjalankan rencananya sendiri.
Cerita yang Sederhana, tetapi Punya Pesan Kuat
Cerita Xenoblade Chronicles 2 memang tidak selalu mudah diterima oleh semua pemain.
Desain karakter yang sangat bergaya dan penuh warna membuat game ini memiliki identitas berbeda dari seri pertamanya. Para Blade bahkan tampil jauh lebih mencolok dibandingkan karakter-karakter dalam Xenoblade Chronicles original.
Namun, di balik desain yang terlihat berlebihan tersebut, cerita game sebenarnya memiliki tema yang cukup serius.
Kisahnya berbicara mengenai pencarian tujuan hidup, kesempatan kedua, penebusan, serta keberanian untuk hidup sesuai dengan diri sendiri.
Rex juga berfungsi sebagai pusat emosional yang membuat perjalanan tersebut tetap terasa manusiawi.
Ia bukan protagonis yang selalu sempurna. Namun, optimisme dan keyakinannya terhadap orang lain menjadi salah satu kekuatan utama cerita.
Pyra dan Mythra juga menjadi bagian paling menonjol dari narasi.
Penampilan serta kepribadian keduanya membuat mereka menjadi karakter yang sangat populer di kalangan penggemar Xenoblade Chronicles.
Pengisi Suara Masih Tidak Konsisten
Salah satu aspek yang belum sepenuhnya terselesaikan adalah kualitas penyutradaraan dubbing bahasa Inggris.
Beberapa penampilan terasa sangat bagus, sementara adegan lainnya terdengar kurang natural.
Skye Bennett menjadi salah satu pengecualian. Penampilannya sebagai Pyra dan Mythra mampu memberikan emosi kuat dan menjadi salah satu performa terbaik dalam game.
David Menkin juga tampil meyakinkan sebagai Malos, terutama ketika memainkan karakter antagonis yang memang dirancang untuk membuat pemain kesal sekaligus menarik perhatian.
Al Weaver sebagai Rex juga mampu menghadirkan protagonis yang optimistis dan menyenangkan.
Sayangnya, beberapa adegan menunjukkan bahwa masalahnya bukan selalu pada kemampuan pengisi suara, melainkan bagaimana dialog tersebut diarahkan.
Switch 2 Edition juga menghadirkan sejumlah dialog baru untuk beberapa karakter. Dromarch dan Zeke mendapatkan tambahan suara, meski aktor barunya terdengar cukup berbeda dibandingkan pengisi suara sebelumnya.
Sistem Permainan yang Kompleks Justru Menjadi Daya Tarik
Paradoks Xenoblade Chronicles 2 adalah banyak sistem yang sulit dipelajari justru menjadi salah satu bagian terbaik setelah pemain memahaminya.
Game ini memiliki berbagai aktivitas dan sistem sampingan yang memberikan kedalaman luar biasa.
Ada quest untuk mengembangkan masing-masing Blade, Shop Deeds yang memberikan akses terhadap berbagai peningkatan, hingga aktivitas Salvaging yang membuat eksplorasi terasa lebih bervariasi.
Masalahnya kembali pada satu hal: game tidak menjelaskan semua sistem tersebut dengan baik.
Ketika akhirnya pemain memahami cara kerjanya, sistem-sistem tersebut justru terasa sangat memuaskan.
Dengan kata lain, Xenoblade Chronicles 2 bukan kekurangan konten. Justru sebaliknya, kontennya terlalu banyak dan tidak semuanya diperkenalkan dengan cara yang ramah pemain.
Merc Assault Jadi Tambahan Menarik
Salah satu tambahan baru dalam Switch 2 Edition adalah mode Merc Assault.
Mode ini menawarkan pengalaman pertarungan yang lebih dekat dengan gaya musou. Pemain dapat mengendalikan karakter secara langsung dan menghadapi gelombang musuh dalam pertarungan real-time.
Sistemnya memanfaatkan sejumlah mekanik dari pertarungan utama, termasuk Blade Combo.
Pemain harus menggabungkan serangan ringan dan berat sambil mengatur penggunaan special attack yang membutuhkan waktu untuk terisi kembali.
Ada pula berbagai power-up yang dapat dikumpulkan untuk meningkatkan kemampuan karakter.
Hasilnya cukup menyenangkan.
Merc Assault terasa cepat, mudah dimainkan, dan berpotensi membuat ketagihan. Sayangnya, penggunaannya masih terbatas pada sistem Mercenary Missions.
Akan lebih menarik jika mode tersebut juga memberikan berbagai hadiah tambahan, misalnya kostum atau konten kosmetik lainnya.
Meski begitu, Merc Assault menunjukkan bahwa Monolith Soft masih memiliki ruang untuk bereksperimen dengan sistem pertarungan alternatif.
Bagaimana dengan Peningkatan Rare Blade?
Ada laporan dari komunitas bahwa versi Switch 2 mungkin meningkatkan peluang mendapatkan beberapa Rare Blade, termasuk KOS-MOS yang terkenal sangat sulit diperoleh.
Namun, peningkatan tersebut tidak mudah dikonfirmasi hanya melalui pengalaman bermain biasa.
Bahkan Blade baru bernama M.O.M.O. juga tidak berhasil didapatkan selama pengujian.
Karena itu, klaim mengenai peningkatan peluang Rare Blade sebaiknya tidak dijadikan alasan utama untuk membeli versi Switch 2 Edition.
Kesimpulan
Xenoblade Chronicles 2 Switch 2 Edition adalah versi yang lebih menarik secara visual dan performa, tetapi bukan sebuah perombakan menyeluruh.
Peningkatan grafis membuat game terlihat jauh lebih indah. Pergerakan karakter dalam gameplay juga terasa lebih mulus, sementara Merc Assault memberikan tambahan gameplay yang cukup menyenangkan.
Namun, sejumlah persoalan lama masih bertahan.
Tutorial tetap kurang efektif, sistem permainan masih terasa terlalu rumit bagi pemain baru, beberapa cutscene mengalami gerakan karakter yang kurang mulus, dan pengolahan audio terkadang mengganggu dialog.
Meski demikian, semua itu tidak menghapus kualitas dasar Xenoblade Chronicles 2 sebagai sebuah RPG.
Dunia Alrest tetap menarik untuk dijelajahi. Ceritanya memiliki tema yang kuat, karakternya mudah diingat, dan begitu berbagai sistem permainan berhasil dipahami, kedalamannya justru menjadi salah satu kekuatan terbesar.
Jadi, apakah Xenoblade Chronicles 2 lebih baik daripada pendahulunya?
Jawabannya mungkin akan berbeda bagi setiap pemain.
Tetapi satu hal cukup jelas: dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Xenoblade Chronicles 2 tetap merupakan RPG yang layak dicoba, terutama bagi pemain yang menyukai dunia luas, cerita panjang, karakter unik, dan sistem permainan yang sangat mendalam.
Nilai Review
- Overall: A-
- Graphics: B+
- Sound/Music: A-
- Gameplay: B+
- Presentation: A
Kelebihan: Peningkatan grafis sangat terasa, Merc Assault menyenangkan, dan gameplay utama tetap memiliki kedalaman yang luar biasa.
Kekurangan: Masih ada gangguan pada animasi dan audio, tutorial tetap kurang membantu, serta pengisi suara baru tidak selalu menyamai pemeran sebelumnya.
Editor: Damar Pratama
(Sumber: Anime News Network 30 Agustus 2026)
