Kreator Blue Lock Ungkap Alasan di Balik Konsep Ego dan Nuansa “Battle Manga”
Kreator Blue Lock Ungkap Alasan di Balik Konsep Ego dan Nuansa “Battle Manga” (Foto: Anime News Network).
GEBRAK.ID– Blue Lock dikenal sebagai manga sepak bola yang berbeda dari kebanyakan cerita olahraga. Alih-alih menempatkan kerja sama tim dan sikap mengutamakan kepentingan bersama sebagai nilai utama, karya Muneyuki Kaneshiro dan Yusuke Nomura justru menonjolkan ego, ambisi, individualisme, serta persaingan antar pemain.
Dalam sebuah wawancara, kedua kreator Blue Lock membahas bagaimana mereka membangun konsep tersebut, proses di balik visual para karakter, pengaruh sepak bola dunia terhadap cerita, hingga kemungkinan cerita sampingan untuk sejumlah karakter.
Blue Lock Sejak Awal Dirancang sebagai “Battle Manga”
Menurut penulisnya, Muneyuki Kaneshiro, konsep Blue Lock memang sejak awal tidak dimaksudkan sebagai manga olahraga biasa. Ia ingin menggabungkan cerita sepak bola dengan elemen yang biasanya ditemukan dalam kisah death game.
Konsep tersebut kemudian diwujudkan melalui premis yang melibatkan 300 pemain SMA yang harus bersaing demi mendapatkan tempat di proyek Blue Lock. Kaneshiro melihat situasi tersebut lebih dekat dengan manga pertarungan karena setiap karakter menghadapi persaingan yang terasa seperti pertarungan hidup dan mati.
Yusuke Nomura kemudian menerjemahkan konsep tersebut ke dalam bahasa visual. Ia memasukkan berbagai elemen seperti aura, monster yang merepresentasikan sisi tertentu dari karakter, serta adegan-adegan tendangan dan aksi yang dibuat lebih dramatis.
Menurut Nomura, pendekatan tersebut juga bertujuan agar Blue Lock tetap menarik bagi orang yang belum terlalu mengenal sepak bola. Dengan menampilkan pertandingan seperti sebuah pertarungan, pembaca muda maupun mereka yang bukan penggemar sepak bola dapat menikmati manga tersebut dari sisi aksi dan karakter.
Konsep “Ego” Terinspirasi dari Sepak Bola Jepang
Salah satu elemen paling terkenal dalam Blue Lock adalah gagasan mengenai egoisme seorang striker.
Kaneshiro menjelaskan bahwa konsep tersebut sebagian berasal dari pengamatannya terhadap sepak bola Jepang. Ia merasa frustrasi ketika melihat pemain memilih mengoper bola menjelang momen mencetak gol, sementara penonton sering kali bertanya-tanya mengapa pemain tersebut tidak mengambil kesempatan untuk menembak sendiri.
Dari pengalaman tersebut muncul pemikirannya bahwa pemain Jepang membutuhkan kemauan yang lebih kuat untuk mengambil keputusan dan menunjukkan ego mereka di lapangan.
Pengalaman Kaneshiro bermain tenis, yang merupakan olahraga satu lawan satu, juga ikut memengaruhi cara pertandingan sepak bola digambarkan dalam Blue Lock. Meskipun sepak bola dimainkan oleh 11 pemain, cerita sering mengarahkan perhatian pada duel satu lawan satu antar pemain.
Monster dan Aura Menjadi Identitas Visual Blue Lock
Yusuke Nomura juga menjelaskan proses di balik gaya visual Blue Lock. Salah satu ciri khas manga ini adalah penggambaran mata karakter secara intens serta kemunculan aura atau “monster” yang menggambarkan kondisi dan kekuatan mereka.
Nomura mengatakan bahwa gaya tersebut sebenarnya sudah ia kembangkan dalam karya sebelumnya. Ketika mengerjakan Blue Lock, ia kemudian melihat peluang untuk menggunakan pendekatan visual tersebut dalam cerita sepak bola.
Tujuannya adalah membuat Blue Lock memiliki identitas yang berbeda dari berbagai manga sepak bola lainnya. Nomura ingin setiap karakter memiliki penampilan dan detail visual yang kuat sehingga bahkan pembaca yang tidak terlalu memahami sepak bola dapat tertarik pada mereka.
Isagi Menjadi Cerminan Gagasan Pribadi Kaneshiro
Konsep ego dalam Blue Lock ternyata tidak hanya berasal dari keinginan membuat cerita yang berbeda. Kaneshiro mengungkapkan bahwa gagasan tersebut juga berkaitan dengan berbagai perasaan yang ia alami ketika hidup di Jepang.
Ia sering merasakan ada hal-hal yang sebenarnya ingin disampaikan seseorang tetapi tidak pernah diucapkan. Perasaan seperti itu kemudian menjadi salah satu inspirasi untuk memasukkan konsep ego ke dalam cerita.
Karakter Yoichi Isagi akhirnya menjadi salah satu bentuk representasi dari gagasan tersebut. Kaneshiro menyebut bahwa Isagi memiliki unsur dirinya sendiri, kemudian dikembangkan melalui ide-ide yang ia dan Nomura diskusikan bersama.
Menariknya, gagasan tersebut ternyata mendapat respons dari pembaca di Jepang maupun berbagai negara. Bagi Kaneshiro, hal ini menunjukkan bahwa pesan yang dibawa Blue Lock mengenai keberanian memahami dan mengekspresikan diri memiliki sifat universal.
Piala Dunia Ikut Memengaruhi Perkembangan Cerita
Sebagai manga sepak bola, Blue Lock tentu tidak sepenuhnya terpisah dari perkembangan sepak bola dunia.
Kaneshiro mengatakan bahwa Piala Dunia memberikan pengaruh besar terhadap pekerjaan mereka. Tim Jepang dan berbagai tim nasional lainnya terus mereka perhatikan untuk melihat perkembangan sepak bola dunia.
Menariknya, keberhasilan Jepang di dunia nyata justru dapat menjadi dilema bagi perkembangan cerita. Kaneshiro mengaku mereka tentu ingin melihat Jepang menang, tetapi kemenangan tersebut juga dapat membuat arah cerita Blue Lock menjadi lebih sulit untuk dipertahankan sesuai rencana.
Karena itu, setiap Piala Dunia menghadirkan perasaan campur aduk bagi sang kreator: ada kegembiraan ketika Jepang tampil baik, tetapi juga kekhawatiran mengenai bagaimana perkembangan tersebut akan berdampak pada cerita manga.
Nomura sendiri berharap Blue Lock dapat menjadi pintu masuk bagi orang-orang yang sebelumnya tidak tertarik dengan sepak bola. Ia bahkan mempelajari sepak bola secara lebih mendalam sebagai bagian dari proses mengerjakan manga tersebut.
Kreator Masih Ingin Menggali Karakter Lain
Ketika ditanya mengenai karakter yang masih ingin mendapatkan perhatian lebih besar, Kaneshiro langsung menyebut Gurimu Igarashi atau Igaguri.
Menurutnya, Igarashi masih memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi karakter yang lebih baik. Bahkan Kaneshiro berpendapat bahwa dalam situasi berbeda, Igarashi mungkin dapat menjadi pemain yang lebih hebat.
Sementara itu, Nomura tertarik menggali karakter seperti Ryusei Shido dan Rin Itoshi melalui cerita sampingan.
Rin masih akan mendapatkan perkembangan lebih lanjut dalam cerita utama. Namun Shido dianggap sangat menarik untuk sebuah spin-off karena latar belakangnya masih menjadi misteri.
Jika suatu hari dibuat cerita sampingan yang berfokus pada satu karakter, Nomura mengatakan bahwa ia akan tertarik mengeksplorasi kisah Shido secara lebih mendalam.
Bertambahnya Media Membuat Tanggung Jawab Kreator Semakin Besar
Seiring popularitas Blue Lock meningkat, waralaba ini berkembang ke berbagai bentuk media, termasuk anime, pertunjukan panggung, novel, dan film.
Nomura mengatakan bahwa setiap ekspansi ke media baru membawa lebih banyak penggemar. Namun, bertambahnya jumlah penggemar juga membuatnya merasa memiliki tanggung jawab yang lebih besar terhadap karakter-karakter yang mereka ciptakan.
Ia merasa harus semakin memahami setiap karakter sebagai individu, termasuk kepribadian dan sifat masing-masing.
Kaneshiro memiliki pandangan serupa. Ia mengaku masih terkejut melihat banyaknya orang di seluruh dunia yang mengikuti Blue Lock. Namun, daripada terlalu memikirkan respons eksternal, ia merasa harus kembali menggali pemikirannya sendiri karena dari sanalah cerita tersebut pada awalnya lahir.
Bagaimana Jika Karakter Attack on Titan Bermain Sepak Bola?
Wawancara tersebut kemudian ditutup dengan pertanyaan yang lebih ringan.
Karena Kaneshiro dan Nomura memiliki hubungan dengan Hajime Isayama, kreator Attack on Titan, mereka ditanya mengenai Titan mana yang paling cocok menjadi seorang striker.
Jawaban keduanya sama: Reiner.
Nomura menilai Reiner akan sangat cocok untuk menghentikan bola. Namun, ketika Kaneshiro mengusulkan Annie, Nomura menyadari bahwa kemampuan Annie menendang lawan mungkin membuatnya cocok sebagai penyerang.
Pada akhirnya, mereka membayangkan sebuah tim Titan dengan Reiner sebagai pemain bertahan dan Annie sebagai pemain depan.
Meski hanya sebuah candaan dalam wawancara, jawaban tersebut cukup menggambarkan bagaimana konsep sepak bola Blue Lock bahkan dapat dibawa ke dunia Attack on Titan.
Blue Lock Terus Memperluas Batas Manga Olahraga
Dari penjelasan kedua kreatornya, terlihat bahwa Blue Lock memang sengaja dibangun untuk melampaui formula manga olahraga tradisional.
Sepak bola tetap menjadi fondasi utama, tetapi Kaneshiro dan Nomura menggabungkannya dengan psikologi, pertarungan individual, drama karakter, serta visual yang terinspirasi dari manga aksi.
Konsep ego yang awalnya lahir dari pengamatan Kaneshiro terhadap sepak bola Jepang kemudian berkembang menjadi salah satu identitas utama Blue Lock. Popularitasnya di berbagai negara juga menunjukkan bahwa gagasan mengenai ambisi, individualitas, dan keinginan untuk menjadi yang terbaik dapat diterima oleh pembaca di luar konteks sepak bola Jepang.
Dengan semakin luasnya dunia Blue Lock, masih terbuka banyak kemungkinan untuk mengeksplorasi karakter-karakter yang belum mendapatkan sorotan besar—termasuk Igarashi, Rin, dan terutama Shido.
Editor: Damar Pratama
