Menag Nasaruddin Umar Dorong Masjid Jadi Pusat Pemberdayaan Umat, Bukan Sekadar Tempat Ibadah
![]() |
| Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar membuka Tabligh Akbar Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Masjid Al Akbar, Surabaya, Minggu, (2/8/2026). (Foto: Kemenag RI) |
Editor: A. Rayyan K
GEBRAK.ID, SURABAYA — Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar menyatakan bahwa fungsi masjid perlu terus diperluas agar mampu menjadi pusat pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, masjid tidak hanya berperan sebagai tempat ibadah, tetapi juga harus menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan sosial, pendidikan, kemanusiaan, hingga pembangunan bangsa.
Pernyataan tersebut disampaikan Menag saat membuka Tabligh Akbar Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Masjid Al Akbar Surabaya, dan disampaikan kembali melalui keterangan resmi di Jakarta, Senin (3/8/2026).
“Bukan umat yang memberdayakan masjid, tapi masjid yang memberdayakan umat,” kata Nasaruddin Umar.
Nasaruddin menjelaskan, transformasi fungsi masjid sebenarnya mulai terlihat di berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya ketika sejumlah masjid dimanfaatkan sebagai posko pelayanan masyarakat selama masa arus mudik.
Menurut Nasaruddin, konsep tersebut sejalan dengan teladan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Pada masa itu, masjid tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga pusat berbagai aktivitas sosial, pemerintahan, hingga penyelesaian persoalan masyarakat.
“Kita lihat masjidnya Rasulullah berfungsi sebagai sekretariat negara. Semua persoalan pemerintahan diselesaikan di masjid. Jadi masjid itu adalah rumah besar untuk kemanusiaan,” ujarnya.
Karena itu, Menag RI menilai peran imam masjid juga harus berkembang. Imam tidak hanya memimpin salat berjamaah, tetapi diharapkan mampu menjadi penggerak aktivitas sosial, pemberdayaan ekonomi umat, pelayanan masyarakat, serta penyebaran nilai-nilai perdamaian.
Nasaruddin mengatakan, semangat tersebut menjadi salah satu tujuan penyelenggaraan International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang akan digelar pada September mendatang.
Melalui forum internasional tersebut, Indonesia ingin memperkenalkan pengalaman pengelolaan masjid yang inklusif sekaligus memperkuat peran imam sebagai agen perdamaian di tingkat global.
“Kita ingin imam Indonesia bukan hanya menjadi imam yang baik bagi jamaahnya, tetapi juga menjadi duta perdamaian Indonesia yang mampu membawa pengalaman Islam Indonesia ke panggung dunia,” kata Nasaruddin.
Konferensi tersebut ditargetkan dihadiri sekitar 400 imam besar dari berbagai negara. Selain memperkuat jejaring internasional, forum itu juga menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai pengelolaan masjid dan penguatan kapasitas imam.
Menag mengungkapkan sejumlah tokoh dunia telah diundang untuk menghadiri konferensi tersebut. “Insya Allah Sheikh Sudais akan datang, kemudian juga Grand Sheikh Al-Azhar kita undang. Dari Amerika, Eropa, Jepang, Korea, dan berbagai negara besar lainnya juga akan hadir secara simbolik di Indonesia,” ujarnya.
Melalui penguatan fungsi masjid dan peran imam, Kementerian Agama berharap masjid dapat menjadi pusat peradaban yang mampu menjawab berbagai tantangan sosial sekaligus memperkuat persatuan dan kesejahteraan masyarakat.
(Sumber: Kementerian Agama)

