Empat Kali Paper Test Negatif, Bandara Soetta Masih Ditutup! Menhub Ungkap Alasan Krusial di Baliknya
Meski hasil uji abu vulkanik di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) empat kali menunjukkan negatif, operasional bandara terbesar di Indonesia ini belum juga dibuka. (Foto: youtube setpres)
GEBRAK.ID,JAKARTA– Harapan ribuan calon penumpang yang telantar di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) sebenarnya sempat melambung tinggi pada Senin pagi. Udara tampak bersih, dan hasil uji paper test yang dilakukan sebanyak empat kali oleh Kementerian Perhubungan menunjukkan hasil negatif dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Namun, nyawa tetap menjadi garis merah yang tak bisa ditawar oleh otoritas penerbangan. Kepastian hasil negatif itu ternyata tidak lantas membuat Bandara Soetta kembali beroperasi normal.
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengungkapkan alasan krusial di balik keputusan ini dalam Rapat Terbatas virtual bersama Presiden Prabowo Subianto, Senin (7/9/2026). “Kami tidak langsung serta-merta kami buka (Bandara Soetta) karena kami ingin memastikan betul mengingat bahwa sebagaimana kemarin terjadi perubahan dari angin yang semula bergerak ke arah timur dari barat, kemudian bergerak ke arah timur,” ujar Dudy.
Perubahan arah angin yang dinamis menjadi momok utama. Pihaknya masih perlu memastikan bahwa abu vulkanik tidak kembali terbawa ke kawasan bandara, mengingat berdasarkan peringatan dari Volcanic Ash Advisory Center (VAAC), sebagian abu vulkanik masih terdeteksi hingga 8 September 2026.
“Kami ingin memastikan lagi, Bapak Presiden, sebelum kami membuka Bandara Soetta atau bandara yang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau,” tegasnya.
373 Penerbangan dan Ratusan Ribu Penumpang Terdampak
Penutupan yang telah berlangsung sejak Minggu dini hari (6/9) pukul 01.30 WIB ini berdampak sangat luas. Berdasarkan pemantauan Ditjen Perhubungan Udara, tercatat 373 penerbangan terdampak. Data terbaru bahkan menyebutkan hingga 467 penerbangan dibatalkan, berdampak pada sekitar 120 ribu penumpang.
Hanya di Bandara Soetta saja, penutupan telah mempengaruhi 209 pergerakan pesawat dan 22.798 penumpang. Efek berantai (cascading impact) terhadap rotasi pesawat dan jadwal penerbangan berikutnya pun tak terhindarkan. Tak hanya Bandara Soetta, penutupan juga terjadi di tujuh bandara lain di sekitar wilayah terdampak, yaitu Halim Perdanakusuma (HLP), Radin Inten II (TKG), Budiarto (RTO), Pondok Cabe (PCB), Husein Sastranegara (BDO), Taufik Kiemas (TFY), dan Atung Bungsu (PXA) yang baru saja dibuka.
Ancaman Nyata Abu Vulkanik bagi Mesin Pesawat
Keputusan untuk menutup bandara bukanlah tanpa dasar. Abu vulkanik yang dihasilkan erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi ancaman serius bagi keselamatan penerbangan. BMKG melalui kanal informasinya menjelaskan bahwa abu vulkanik mengandung serpihan kaca dan batuan tajam. Jika terhisap ke dalam mesin pesawat yang bersuhu sangat tinggi, abu akan meleleh dan menyumbat komponen mesin hingga berpotensi mematikannya.
Doktor Amien Widodo, Pakar Geologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), juga menegaskan hal ini. “Abu gunung api bisa mengganggu bahkan bisa membuat mesin pesawat mati,” jelasnya. Selain itu, abu vulkanik juga dapat mengurangi jarak pandang pilot, mengikis kaca kokpit, dan mengganggu sistem navigasi pesawat.
Bandara Alternatif dan Antisipasi
Dengan masih ditutupnya sejumlah bandara, Kementerian Perhubungan telah menyiapkan sejumlah bandara alternatif untuk mengalihkan lalu lintas penerbangan. Beberapa di antaranya adalah Bandara Kertajati (BIJB), Juanda (SUB), Ahmad Yani (SRG), Adi Soemarmo (SOC), dan Yogyakarta (YIA).
Sebagai contoh, dua penerbangan Garuda Indonesia dari Jeddah dan Madinah, Arab Saudi, telah dialihkan ke Bandara Kertajati. Bagi para calon penumpang, diimbau untuk terus memantau informasi terkini melalui kanal resmi maskapai masing-masing dan situs web informasi penerbangan BMKG.
Bandara Soetta pun telah mengaktifkan Service Recovery Activation (SRA) untuk memenuhi kebutuhan penumpang yang terdampak, termasuk penyediaan makanan, minuman, dan bus menuju hotel.
(Dinar K/ berbagai sumber)
