Tiga Mahasiswi Universitas Pertamina Juara 1 Kompetisi Humas Nasional 2026

3 srikandi uper humas

Tiga mahasiswi Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina (UPER) berhasil meraih juara pertama kategori Next Gen. PR Strategy dalam Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2026. (Foto: Dok. UPER)

GEBRAK.ID, JAKARTA — Tiga mahasiswi Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina (UPER) berhasil meraih juara pertama kategori Next Gen. PR Strategy dalam Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2026. Mereka menyisihkan peserta lain lewat rancangan strategi komunikasi krisis yang menekankan transparansi, keterlibatan publik, dan tindakan nyata untuk memulihkan kepercayaan masyarakat.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Mutiara Permatasari, Ni Wayan Listyawati, dan Regitha Nur Azizah. Mereka meraih penghargaan dalam ajang yang diselenggarakan Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS) pada Minggu (18/10/2026).

Dalam kompetisi itu, tim UPER mengembangkan strategi pemulihan reputasi berdasarkan studi kasus Chocova, sebuah perusahaan cokelat yang menghadapi dugaan keterlibatan pekerja anak dalam rantai pasok kakaonya.

Kasus tersebut menggambarkan kesenjangan antara kebijakan perusahaan yang melarang pekerja anak dan praktik di lapangan. Dalam skenario yang mereka kaji, sekitar 2.150 anak diduga terlibat di 34 dari 76 koperasi pemasok kakao. Fakta tersebut menjadi dasar bagi tim untuk menyusun langkah pemulihan yang tidak sekadar mengandalkan klarifikasi atau permintaan maaf.

“Ketika komitmen perusahaan tidak sejalan dengan praktik di lapangan, kepercayaan publik dapat berubah menjadi krisis. Karena itu, penanganannya tidak cukup melalui klarifikasi atau permintaan maaf, tetapi harus diikuti tindakan nyata dan keterbukaan untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat,” ujar Mutiara.

Tim UPER menawarkan tiga pendekatan utama, yakni Radical Transparency untuk membuka informasi rantai pasok, Public Participation untuk melibatkan masyarakat dalam pengawasan, serta Structural Intervention untuk memperbaiki sistem pemasok dan membantu anak-anak terdampak kembali mengakses pendidikan.

Ketiganya kemudian merancang kampanye bertajuk “Satu Cokelat, Satu Harapan” selama 100 hari. Program tersebut memiliki sejumlah target terukur, antara lain menurunkan sentimen negatif dari 68 persen menjadi di bawah 44 persen, meningkatkan ketertelusuran kakao hingga 90 persen, mengaudit seluruh koperasi prioritas, serta mengembalikan 1.000 anak ke pendidikan formal.

“Melalui kampanye selama 100 hari ini, kami ingin memastikan bahwa strategi komunikasi tidak berhenti pada penyampaian pesan, tetapi menghasilkan perubahan nyata,” kata Mutiara.

Pendekatan tersebut sejalan dengan temuan penelitian Aguiar dan rekan-rekannya yang terbit dalam jurnal Business Horizons pada 2026. Penelitian terhadap 177 perusahaan publik menunjukkan hampir 30 persen menghadapi krisis kepercayaan, sementara hanya sekitar 2 persen yang langsung mengalami pemulihan kepercayaan setelah krisis. Temuan ini menegaskan pentingnya tindakan nyata dalam upaya memulihkan reputasi.

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, mengapresiasi pencapaian tersebut. Menurutnya, peminatan Corporate Communication membekali mahasiswa dengan kemampuan mengelola reputasi, membangun hubungan dengan pemangku kepentingan, dan menangani krisis.

Prestasi ini juga mencerminkan pentingnya pembelajaran berbasis riset dan studi kasus industri. Dalam dunia profesional, praktisi humas tidak hanya dituntut menyampaikan pesan, tetapi juga merancang strategi komunikasi yang bertanggung jawab, terukur, dan mampu menjawab persoalan nyata.

(Devona R/Siaran Pers UPER)

Dukung GEBRAK.ID

Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.

Dukung lewat Saweria
Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID