Nurfajri Budi Nugroho Pimpin Pemuda ICMI hingga 2031: Dorong Kritik Kebijakan Berbasis Ilmu

icmi pemuda fajri

Nurfajri Budi Nugroho, SE., MSM, resmi terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Pengurus Pusat (MPP) Pemuda Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) untuk masa bakti 2026–2031. Ia terpilih dalam Musyawarah Nasional (Munas) VIII Pemuda ICMI yang berlangsung di kompleks Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Cibinong, Kabupaten Bogor, Minggu (1/11/2026). (Foto: Pemuda ICMI)

GEBRAK.ID, BOGOR — Nurfajri Budi Nugroho, SE., MSM, resmi terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Pengurus Pusat (MPP) Pemuda Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) untuk masa bakti 2026–2031. Ia terpilih dalam Musyawarah Nasional (Munas) VIII Pemuda ICMI yang berlangsung di kompleks Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Cibinong, Kabupaten Bogor, Minggu (1/11/2026).

Nurfajri, yang akrab disapa Fajri, menggantikan Dr. Ismail Rumadan, S.H., M.H., yang memimpin organisasi tersebut pada periode 2021–2026. Munas VIII juga menetapkan Dr. dr. Andi Alfian Zainuddin, M.KM., sebagai Sekretaris Jenderal dan Hendri Sabeth sebagai Bendahara Umum.

Mengusung tema “Pemuda ICMI Mempertegas Komitmen Kecendekiawanan dan Mengawal Tujuan Bernegara”, Munas VIII menjadi momentum pergantian kepemimpinan sekaligus penentuan arah gerakan intelektual muda Muslim di Indonesia.

Dalam kepemimpinannya, Fajri ingin mengembalikan kecendekiawanan sebagai kekuatan intelektual dan moral yang memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Menurutnya, organisasi cendekiawan tidak cukup hanya menggelar diskusi, forum akademik, atau kegiatan seremonial. Pemuda ICMI harus mampu menghasilkan gagasan, kritik konstruktif, dan solusi atas persoalan bangsa.

“Ukuran yang jauh lebih penting adalah seberapa besar kecendekiawanan Pemuda ICMI mampu memberi arah, menghadirkan solusi, sekaligus menjalankan fungsi korektif ketika bangsa menghadapi berbagai persoalan strategis,” ujar Fajri.

Fajri menegaskan, fungsi korektif tersebut bukan berarti menempatkan Pemuda ICMI sebagai organisasi oposisi politik. Sebaliknya, ia menilai cendekiawan muda harus menjaga independensi pemikiran dan berpihak pada nilai-nilai kebenaran, ilmu pengetahuan, keadilan, kemanusiaan, serta kepentingan publik.

Fokus pada Evaluasi Kebijakan Publik

Salah satu agenda penting hasil Munas VIII ialah memperkuat keterlibatan Pemuda ICMI dalam kajian dan evaluasi kebijakan publik berbasis bukti ilmiah atau evidence-informed policy review.

Kajian tersebut akan diarahkan pada berbagai sektor strategis, mulai dari pendidikan, ekonomi, pangan, energi, kesehatan, teknologi, hingga tata kelola pemerintahan.

Fajri berpandangan, kritik terhadap kebijakan pemerintah harus melampaui pernyataan setuju atau tidak setuju. Setiap kritik perlu menjelaskan akar persoalan, menganalisis dampak kebijakan, serta menawarkan alternatif penyelesaian yang terukur.

Nurfajri Budi Nugroho, SE., MSM, resmi terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Pengurus Pusat (MPP) Pemuda Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) untuk masa bakti 2026–2031. Ia terpilih dalam Musyawarah Nasional (Munas) VIII Pemuda ICMI yang berlangsung di kompleks Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Cibinong, Kabupaten Bogor, Minggu (1/11/2026). (Foto: Pemuda ICMI)

Tantangan kepemimpinan baru juga semakin kompleks seiring perkembangan kecerdasan buatan (AI), transformasi digital, perubahan geopolitik, dan pergeseran tatanan ekonomi global.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal terpilih, Dr. dr. Andi Alfian Zainuddin, M.KM., menekankan pentingnya tata kelola organisasi, konsolidasi nasional, serta kaderisasi yang berkesinambungan. Ia berharap program kerja Pemuda ICMI tersusun lebih terukur dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

Saat ini, Pemuda ICMI memiliki jaringan kepengurusan di 32 provinsi dan 80 kabupaten/kota, serta sejumlah kepengurusan di negara-negara Eropa.

Berawal dari Masika ICMI pada 1993

Pemuda ICMI memiliki akar sejarah dalam gerakan intelektual muda Muslim melalui Majelis Sinergi Kalam (Masika) ICMI. Organisasi tersebut berdiri pada 8 Oktober 1993 di Cisarua, Puncak, Bogor, Jawa Barat, melalui Pertemuan Nasional (Pernas) I Masika ICMI yang mengangkat tema “Membangun Tradisi Kecendekiawanan Kaum Muda”.

Sejumlah intelektual muda terlibat dalam proses awal pembentukannya, antara lain A.E. Priyono, Andrinof A. Chaniago, Yudi Latif, Hamid Basyaib, Abdul Munim, dan Ade Armando. Pembentukannya juga mendapat dukungan tokoh senior ICMI, seperti Marwah Daud Ibrahim, Dawam Rahardjo, Jimly Asshiddiqie, A. Watik Pratiknya, dan Adi Sasono.

Setelah hampir tiga dekade, Masika ICMI resmi bertransformasi menjadi Pemuda ICMI melalui Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) di Jakarta pada 17 September 2022. Perubahan nama tersebut menindaklanjuti rekomendasi Muktamar ICMI 2021 untuk memperkuat kontribusi generasi muda dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan.

Di bawah kepemimpinan Nurfajri Budi Nugroho, Pemuda ICMI kini menghadapi tantangan untuk menerjemahkan tradisi kecendekiawanan tersebut menjadi pemikiran kritis, rekomendasi kebijakan, dan kerja nyata bagi bangsa.

(Endro Yuwanto/Sumber: Pemuda ICMI)

Dukung GEBRAK.ID

Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.

Dukung lewat Saweria
Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID