Molinas Hadir sebagai Ekosistem Terbuka, Bukan Merek Tunggal: Pemerintah Libatkan 10 Mitra Industri

1787313885401

Program Motor Listrik Nasional Ditekankan Bukan untuk Monopoli, Melainkan Membangun Industri dari Hulu ke Hilir dengan TKDN 60 Persen.(Foto: instagram)

Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID,JAKARTA– Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menepis anggapan publik bahwa Program Motor Listrik Nasional (Molinas) akan dimonopoli oleh satu merek tertentu. Pemerintah menegaskan bahwa Molinas dirancang sebagai sebuah platform terbuka yang melibatkan banyak produsen lokal maupun pabrikan yang memenuhi standar nasional.

Asisten Deputi Pengembangan Industri Kemenko Perekonomian, Atong Soekirman, menjelaskan bahwa konsep keterbukaan ini menjadi strategi utama dalam membangun ekosistem kendaraan listrik berbasis baterai di Indonesia. Dengan melibatkan banyak pelaku industri, Molinas diharapkan tumbuh lebih masif, kompetitif, dan terhindar dari praktik monopolistik.”Molinas bukan sekadar peluncuran satu jenis kendaraan, melainkan ekosistem seluruh dari industri, baterai, pembiayaan, dan juga penyerapan pasar. Nah, ini menjadi kata kunci untuk kita semua,” ujar Atong di Jakarta, Senin (24/8/2026).

Ekosistem Terintegrasi dan Target TKDN 60 Persen

Konsep terbuka dalam Molinas membuat program ini tidak hanya berorientasi pada produksi sepeda motor listrik. Pemerintah ingin membangun ekosistem yang saling terhubung, mulai dari rantai pasok manufaktur, penyedia komponen, industri baterai, hingga infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian daya (charging) dan penukaran baterai (battery swapping), lembaga pembiayaan, jaringan distribusi, serta layanan purna jual.

Saat ini, terdapat sekitar 10 mitra industri yang masuk dalam radar pengembangan dan dipersiapkan untuk memperkuat jaringan produksi Molinas. Keterlibatan banyak mitra diharapkan membuat program tersebut tidak bergantung pada satu produsen sekaligus memperluas manfaat ekonominya. Salah satu instrumen utama untuk memastikan Molinas memberikan manfaat bagi industri nasional adalah Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Pemerintah menargetkan TKDN Molinas mencapai 60 persen pada tahun 2028, meliputi komponen utama seperti powertrain, frame/structure, serta plastik dan body panel .”Jadi sudah ada roadmap yang dibuat oleh Kemenperin, dan dirasakanlah di dalam Molinas. Kemarin ini ada komitmen bahwa 10 mitra itu akan memenuhi 60 persen TKDN di tahun 2028,” kata Atong.

Syarat Khusus: Desain Lokal dan Baterai Nikel

Untuk dapat menyandang status Molinas, ada empat kriteria utama yang wajib dipenuhi :

1. TKDN di atas 60 persen yang mencakup komponen utama.

2. Desain dan rekayasa dikembangkan di dalam negeri (indigenous design), bukan sekadar perakitan.

3. Menggunakan baterai berbasis nikel (Nickel Manganese Cobalt/NMC) untuk mendukung program hilirisasi nasional.

4. Harga terjangkau sesuai kebutuhan dan daya beli pasar domestik.

Penggunaan baterai nikel menjadi poin penting karena Indonesia memiliki cadangan nikel besar yang ingin diolah menjadi produk bernilai tambah, bukan sekadar diekspor sebagai bahan mentah. Managing Director Industrialisasi BPI Danantara, Ardy Muawin, menegaskan bahwa ini adalah strategi membalik keunggulan yang dimiliki Indonesia, berbeda dengan negara seperti China yang mendorong teknologi LFP karena keterbatasan nikel.

Insentif dan Dampak Ekonomi

Untuk mendorong adopsi, pemerintah menyiapkan insentif sebesar Rp 3 juta per unit untuk 1 juta unit motor listrik produksi dalam negeri, dengan total anggaran Rp 3 triliun.

Dua merek yang disebut-sebut akan menjadi bagian awal dari program ini adalah Alva dan Gesits

Program ini diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang luas. Molinas diperkirakan mampu menghemat subsidi BBM hingga Rp82,2 triliun sepanjang 2027-2037 dan memberi nilai ekonomi hingga Rp150 triliun.

Selain itu, program ini diyakini dapat menciptakan sekitar 215 ribu lapangan kerja baru di berbagai sektor pendukung. Presiden Prabowo Subianto, saat meluncurkan Molinas pada 13 Agustus 2026, menyebut program ini sebagai contoh nyata konsep “Indonesia Incorporated”, yakni kolaborasi erat antara perusahaan swasta, BUMN, dan akademisi untuk membangun kekuatan teknologi nasional.

(berbagai sumber)