Korsel Incar Proyek PLTS 100 GWp: Bawa Modal-Teknologi, Latih Tenaga Kerja RI

1787826208657

Korea Selatan membuka peluang investasi untuk perusahaan surya negeri Ginseng dalam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GWp. ( Foto: dunia energi)

Editor: Dinar Kencana

GEBRAK. ID, JAKARTA—Korea Selatan secara resmi menyatakan ketertarikannya untuk berinvestasi dalam proyek strategis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) yang digagas oleh Pemerintah Indonesia. Tawaran ini disampaikan melalui skema kemitraan yang mencakup penyediaan modal dan teknologi canggih, sekaligus komitmen untuk memberdayakan tenaga kerja Indonesia.

Political Section Chief Kedutaan Besar Korea Selatan, Uhm Taeho, mengungkapkan bahwa pihaknya masih dalam tahap awal pembahasan mengenai keterlibatan industri surya Korea dalam proyek tersebut. Namun, ia menegaskan harapan agar proyek ambisius ini tidak dimonopoli oleh satu negara saja.

“Kami mengetahui ada beberapa negara dengan perusahaan-perusahaan besar yang sangat menonjol di industri surya. Kami selalu menganjurkan agar proyek ini tidak hanya melibatkan satu negara. Kami berharap negara seperti Korea juga dilibatkan. Kami memiliki industri surya yang sangat baik,” ujar Uhm dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea (IKJN) di Jakarta, Rabu (26/8).

Skema Investasi dan Transfer Teknologi

Menurut Uhm, jika perusahaan-perusahaan asal Korea Selatan mendapat kesempatan untuk berinvestasi, bentuk kerja sama yang ditawarkan akan bersifat komprehensif. Mereka tidak hanya akan membawa teknologi dan modal, tetapi juga berkomitmen menggunakan tenaga kerja Indonesia dalam pembangunan dan operasional fasilitas. “Jika perusahaan surya kami mendapat kesempatan untuk berinvestasi di Indonesia, bentuknya adalah kami membawa teknologi dan uang, tetapi kemudian kami akan mempekerjakan orang Indonesia di fasilitas apa pun yang akan kami bangun,” jelasnya.

Skema ini juga dirancang untuk mencakup pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui program pelatihan serta transfer pengetahuan dan teknologi secara langsung kepada pekerja lokal. Uhm menambahkan bahwa proses ini merupakan langkah alami dalam membangun kemitraan jangka panjang.

“Ini merupakan proses yang sangat alami untuk mengembangkan tenaga kerja, melatih tenaga kerja, dan mentransfer pengetahuan serta teknologi kepada negara tuan rumah,” katanya. Meskipun masih dalam tataran keinginan, Uhm menyatakan bahwa pemerintah Korea Selatan sangat ingin membahas bentuk kerja sama lebih konkret dengan pemerintah Indonesia.

“Kami ingin bermitra dengan Indonesia dalam hal tersebut dan kami berharap dapat membicarakan lebih lanjut secara konkret mengenai bagaimana kita dapat bekerja sama di bidang tersebut,” pungkasnya.

Proyek PLTS 100 GWp: Mesin Ekonomi BaruProyek PLTS 100 GWp merupakan salah satu program prioritas nasional yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah menargetkan pembangunan bertahap dengan rincian Tahap I sebesar 17 GWp, Tahap II 18 GWp, dan Tahap III 30 GWp.

Proyek ini tidak hanya diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil, tetapi juga diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan bahwa program ini akan membuka ruang investasi di sektor pendukung, mendorong penguatan industri solar photovoltaic (solar PV) dalam negeri, serta menciptakan lapangan kerja hijau (green jobs).

Berdasarkan proyeksi dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, diperkirakan akan tercipta sekitar 1,7 juta lapangan pekerjaan baru dari program ini, dengan lebih dari 760 ribu di antaranya merupakan green jobs. Angka ini menjadi sangat strategis mengingat potensi energi surya Indonesia mencapai 3.294 GWp, sementara kapasitas terpasang hingga April 2026 baru sekitar 1,5 GWp.

Minat Korea Selatan ini sejalan dengan komitmen investasi yang telah terjalin antara kedua negara. Sebelumnya, pada April 2026, para pelaku bisnis Korea dan Indonesia telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) investasi senilai 10,2 miliar dolar AS yang mencakup sektor energi dan transisi hijau, termasuk tenaga surya.

(berbagai sumber)