Review Anime Madoka Magica: Walpurgisnacht Rising

Review Anime Madoka Magica: Walpurgisnacht Rising. (Foto: Anime News Network).

Review Anime Madoka Magica: Walpurgisnacht Rising. (Foto: Anime News Network)

GEBRAK.ID — Puella Magi Madoka Magica The Movie: Walpurgisnacht: Rising kembali membawa penonton ke dunia penuh misteri, pengorbanan, dan konsekuensi yang menjadi ciri khas waralaba Madoka Magica. Film ini melanjutkan kisah setelah Homura mengubah realitas dan menjadikan Madoka kembali menjalani kehidupan normal sebagai manusia biasa.

Dikutip dari Anime News Network, 30 Agustus 2026, yang ditulis oleh Richard Eisenbeis dalam dunia baru tersebut Homura berada di posisi yang nyaris menyerupai dewa. Ia bahkan menyebut dirinya sendiri sebagai iblis. Namun, di balik kekuatan yang dimilikinya, Homura tetap berusaha meringankan beban teman-temannya ketika mereka menghadapi para Wraith.

Situasi mulai berubah ketika tiga gadis penyihir baru tiba di sekolah Homura. Kehadiran mereka menjadi sesuatu yang tidak masuk dalam perhitungannya. Pasalnya, ketiganya bukan Magical Girl yang diciptakan oleh Homura.

Kemunculan mereka perlahan membuat Homura mempertanyakan kembali keyakinannya bahwa dirinya memiliki kendali penuh atas realitas. Dari sinilah konflik utama Walpurgisnacht: Rising berkembang.

Peringatan: artikel ini mengandung spoiler besar.

Homura dan Obsesi yang Disebut Cinta

Sejak awal, Madoka Magica memang tidak pernah benar-benar hanya bercerita tentang Madoka. Di balik seluruh konflik yang terjadi, kisah ini pada dasarnya juga merupakan perjalanan Homura.

Homura memulai semuanya dari rasa kagum kepada Madoka. Perasaan tersebut berkembang menjadi persahabatan, kemudian cinta, dan akhirnya berubah menjadi sebuah obsesi yang membuatnya rela melakukan apa saja.

Ia berulang kali kembali ke titik awal, menyaksikan kegagalan yang sama, lalu mencoba mengubah masa depan. Bagi Homura, menyelamatkan Madoka menjadi tujuan hidup yang tidak bisa ditawar.

Masalahnya, keputusan Madoka pada akhir serial televisi sebenarnya sudah menyelesaikan konflik dengan caranya sendiri. Namun Homura tidak pernah benar-benar menerima hasil tersebut.

Dalam pikirannya, perang belum berakhir.

Pada film sebelumnya, Homura bahkan menggunakan dirinya sendiri sebagai bagian dari rencana untuk memisahkan kesadaran Madoka dari Law of Cycles. Tindakan tersebut mengubah realitas dan membuat Homura berkembang menjadi eksistensi yang berada di luar batas Magical Girl maupun Witch.

Namun, realitas ciptaannya ternyata tidak sesempurna yang ia bayangkan.

Konsekuensi dari Dunia Buatan Homura

Walpurgisnacht: Rising menjadikan kesalahan dan kesombongan Homura sebagai pusat konflik.

Homura percaya dirinya mampu mempertahankan dunia yang telah ia bentuk. Namun, kedatangan tiga Magical Girl baru membuktikan bahwa masih ada sesuatu di luar kendalinya.

Peristiwa tersebut memaksanya menghadapi konsekuensi dari keputusan yang dibuat sebelumnya. Tidak hanya eksistensinya sendiri yang terancam, tetapi juga keinginan Madoka dan keseimbangan dunia yang telah dibangun.

Di sinilah perkembangan karakter Homura terasa paling kuat.

Ia akhirnya dihadapkan pada pertanyaan yang selama ini berusaha dihindarinya: apakah mencintai seseorang berarti berhak menentukan apa yang terbaik untuk orang tersebut?

Film ini perlahan membawa Homura pada pemahaman bahwa cinta tidak hanya tentang mempertahankan seseorang. Ada bagian dari cinta yang berarti menghormati pilihan orang lain, bahkan ketika pilihan tersebut bertentangan dengan keinginan kita sendiri.

Namun, ketika kesempatan terakhir kembali muncul, Homura harus menentukan pilihannya sekali lagi.

Membiarkan Madoka pergi atau kembali mengejar obsesinya.

Sayaka Mendapat Peran Penting

Selain Homura, Sayaka menjadi karakter yang mendapatkan perkembangan cukup signifikan.

Di antara kelompok Magical Girl original, Sayaka adalah sosok yang paling mampu merasakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan realitas di sekitarnya.

Pengalaman yang ia lalui juga membuat posisinya unik. Sayaka pernah menjadi Magical Girl, mengalami transformasi menjadi Witch, sekaligus menjadi bagian dari Law of Cycles.

Anehnya, semua pengalaman tersebut masih melekat padanya dalam realitas baru.

Sayaka kemudian harus menghadapi pertanyaan tentang siapa dirinya sebenarnya dan bagaimana seharusnya ia memandang dunia yang sudah diubah Homura.

Ada ironi menarik di sini. Dunia Homura memang dibangun secara artifisial, tetapi seluruh orang yang dicintai Sayaka berada dalam kondisi aman dan bahagia.

Untuk pertama kalinya, mereka seolah mendapatkan kehidupan yang selama ini mereka inginkan.

Lantas, apakah dunia tersebut benar-benar harus dihancurkan hanya karena dibangun melalui cara yang salah?

Pertanyaan itulah yang membuat konflik Sayaka terasa lebih kompleks.

Misteri Tiga Magical Girl Baru

Kehadiran tiga Magical Girl baru menjadi salah satu elemen penting dalam cerita.

Ketiganya datang dengan tujuan yang berpotensi menghancurkan dunia Homura. Namun, identitas dan motivasi mereka tidak langsung dijelaskan sejak awal.

Film memanfaatkan misteri tersebut untuk kembali memainkan formula yang sudah sangat identik dengan Madoka Magica: memberikan pertanyaan, membuat penonton berspekulasi, lalu perlahan membongkar kenyataan yang jauh lebih rumit.

Salah satu pertanyaan terbesar berkaitan dengan Walpurgisnacht.

Jika dunia baru Homura sudah tidak mengenal Witch seperti sebelumnya, bagaimana mungkin Witch paling kuat masih dapat eksis?

Jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi salah satu bagian world-building paling menarik dalam film.

Dan meskipun nama Walpurgisnacht terpampang jelas pada judul, karakter tersebut ternyata bukan satu-satunya ancaman utama.

Selma Terez, Antagonis yang tidak Biasa

Salah satu kejutan terbesar film ini adalah kehadiran Selma Terez.

Selma merupakan karakter yang berbeda dari kebanyakan Magical Girl yang pernah diperlihatkan dalam waralaba ini.

Biasanya, Magical Girl akan mengalami keterkejutan atau bahkan kehancuran mental setelah mengetahui kenyataan mengenai Soul Gem, Witch, dan tujuan sebenarnya para Incubator.

Selma justru memiliki pandangan yang berlawanan.

Ia menerima sistem tersebut dengan penuh keyakinan.

Bagi Selma, kematian dini beberapa Magical Girl merupakan pengorbanan yang kecil jika dibandingkan dengan manfaat yang dapat diberikan kepada kehidupan dalam skala yang jauh lebih besar.

Cara berpikir tersebut membuat Selma menjadi sosok antagonis yang menarik. Ia bukan sekadar karakter jahat yang ingin menghancurkan dunia.

Ia memiliki logika dan keyakinannya sendiri.

Justru karena itulah, konflik pada bagian akhir film terasa semakin menegangkan. Seluruh kejadian yang dibangun sejak awal akhirnya bertemu dalam satu titik yang mempertaruhkan nasib dunia.

Visual yang Menjadi Kekuatan Utama

Jika ada satu aspek yang sulit dibantah dari Walpurgisnacht: Rising, jawabannya adalah kualitas visual.

Film ini menghadirkan salah satu tampilan terbaik yang pernah dimiliki Madoka Magica.

Animasi tradisional dengan detail tinggi dipadukan dengan CGI, visual bergaya scrapbook, hingga penggunaan rotoscoping yang sangat psychedelic. Hasilnya adalah pengalaman visual yang terasa tidak biasa, bahkan jika dibandingkan dengan standar waralaba ini sendiri.

Desain dunianya juga sangat kuat.

Lokasi-lokasi surreal dan pengarahan adegan yang kreatif membuat film tetap menarik secara visual bahkan ketika karakter hanya sedang berbicara.

Pendekatan tersebut juga sesuai dengan identitas Madoka Magica, yang sejak awal memang gemar memadukan dunia nyata dengan visual yang terasa seperti mimpi buruk.

Musik Memperkuat Atmosfer

Musiknya juga menjadi bagian penting dalam membangun atmosfer.

Film menggunakan kombinasi tema baru dan lagu-lagu yang sudah dikenal penggemar. Musik tersebut membantu memperkuat berbagai suasana, mulai dari ketegangan dan rasa tidak nyaman hingga momen penuh kemenangan.

Kehadiran lagu baru dari ClariS juga menjadi penghubung yang efektif antara film ini dengan keseluruhan seri Madoka Magica.

Apakah Walpurgisnacht: Rising Lebih Baik dari Film Sebelumnya?

Di sinilah penilaian terhadap film menjadi sedikit rumit.

Meskipun memiliki cerita yang kuat, perkembangan karakter yang menarik, serta visual luar biasa, Walpurgisnacht: Rising belum tentu menjadi entri terbaik dalam seri utama Madoka Magica.

Film ini tidak selalu mampu mencapai tingkat misteri surreal seperti yang pernah diberikan Rebellion. Di sisi lain, dampak emosionalnya juga belum menyamai drama menghancurkan yang menjadi kekuatan utama serial televisinya.

Masalah lainnya adalah bagian akhir yang cukup ambigu.

Setelah penantian panjang, penyelesaian seperti ini berpotensi membuat sebagian penonton merasa kurang puas. Terlebih lagi, Madoka Magica dikenal karena kemampuannya memberikan kejutan besar sekaligus meninggalkan dampak emosional yang kuat.

Namun, kekurangan tersebut tidak lantas membuat film ini gagal.

Kesimpulan

Puella Magi Madoka Magica The Movie: Walpurgisnacht: Rising tetap menjadi film yang layak ditonton, terutama bagi penggemar lama waralaba ini.

Perjalanan Homura mendapatkan perkembangan penting, sementara Sayaka juga memperoleh ruang yang cukup untuk mengeksplorasi identitas dan pilihan moralnya. Selma Terez hadir sebagai antagonis yang menarik, sedangkan perluasan mitologi Magical Girl memberikan dimensi baru terhadap dunia Madoka Magica.

Dan yang paling menonjol adalah presentasi visualnya yang luar biasa.

Film ini mungkin tidak berhasil melampaui pencapaian serial televisi maupun Rebellion, tetapi tetap menjadi tambahan yang berarti bagi cerita besar Madoka Magica.

Bagi penggemar lama, film ini praktis merupakan tontonan wajib.

Namun, ada satu hal yang sebaiknya dilakukan sebelum menontonnya: tonton kembali serial Madoka Magica dan film Rebellion.

Dengan begitu, berbagai detail, konflik, dan konsekuensi yang muncul dalam Walpurgisnacht: Rising akan terasa jauh lebih kuat.

Editor: Damar Pratama

(Sumber: Anime News Network 30 Agustus 2026)