Banten Dikepung 3 Ancaman Bencana, Kecamatan Sumur Jadi Perhatian BMKG
Berada dekat zona megathrust, sesar aktif, dan Gunung Anak Krakatau membuat wilayah Sumur, Pandeglang, menjadi salah satu kawasan yang membutuhkan kesiapsiagaan bencana berlapis. (Foto:BMKG)
GEBRAK.ID, PANDEGLANG — Kabupaten Pandeglang, Banten, khususnya Kecamatan Sumur, menjadi perhatian dalam penguatan mitigasi bencana. Wilayah pesisir tersebut menghadapi potensi ancaman dari tiga sumber geologi sekaligus, yakni zona megathrust, sesar aktif, dan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat perlu terus diperkuat karena ancaman bencana di wilayah tersebut tidak hanya berasal dari satu sumber.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Setyoajie Prayoedhie mengatakan penguatan mitigasi menjadi penting seiring dinamika kegempaan dan mekanisme pembangkitan tsunami yang semakin kompleks.
Kondisi geografis Kecamatan Sumur membuat masyarakat di kawasan tersebut perlu memahami berbagai skenario bencana. Selain berada di kawasan yang berdekatan dengan sumber gempa tektonik, Sumur juga relatif dekat dengan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Ancaman Gempa dari Zona Subduksi
Salah satu ancaman utama berasal dari aktivitas tektonik di kawasan selatan Jawa dan Selat Sunda. BMKG mencatat gempa berkekuatan magnitudo 5,8 mengguncang wilayah Pandeglang pada 22 Agustus 2026.
Gempa tersebut berpusat di laut sekitar 182 kilometer arah barat daya Kecamatan Sumur dengan kedalaman 10 kilometer. Analisis BMKG menyebut gempa tersebut merupakan gempa dangkal akibat aktivitas subduksi dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.
Meski demikian, hasil pemodelan menunjukkan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Catatan tersebut menjadi gambaran bahwa aktivitas tektonik di sekitar Banten merupakan salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam mitigasi bencana.
Gunung Anak Krakatau Juga Masih Dipantau
Selain ancaman gempa, masyarakat pesisir Banten juga menghadapi potensi bahaya vulkanik dari Gunung Anak Krakatau. BMKG pada 6 September 2026 menyatakan terus melakukan pemantauan selama 24 jam terhadap aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, termasuk dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan, dan kondisi laut di sekitar Selat Sunda.
Analisis citra satelit pada 6 September menunjukkan dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga memiliki potensi bahaya sekunder. Material vulkanik yang runtuh atau longsor ke laut dalam kondisi tertentu dapat memicu tsunami vulkanik.
BMKG sebelumnya mengingatkan bahwa aktivitas vulkanik Anak Krakatau perlu diwaspadai karena longsoran material ke laut pernah menjadi mekanisme pemicu tsunami Selat Sunda pada 2018. Namun, kewaspadaan tersebut tidak berarti tsunami sedang terjadi. Hasil pemantauan multi-sensor InaTEWS hingga 6 September 2026 pukul 07.30 WIB tidak menunjukkan anomali muka laut yang mengindikasikan tsunami di Selat Sunda terkait rangkaian erupsi Anak Krakatau.
Sesar Aktif Menambah Kompleksitas RisikoAncaman ketiga berasal dari keberadaan sejumlah struktur sesar aktif di wilayah Banten dan sekitarnya. Kombinasi sumber gempa tektonik, aktivitas sesar, dan gunung api membuat mitigasi di kawasan pesisir tidak bisa hanya mengandalkan satu skenario bencana.
Masyarakat perlu memahami bahwa respons ketika menghadapi gempa kuat berbeda dengan kondisi ketika menerima peringatan tsunami akibat aktivitas vulkanik. Karena itu, edukasi mengenai jalur evakuasi, lokasi tempat aman, tanda-tanda tsunami, serta prosedur penyelamatan diri menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan masyarakat.
Warga Pesisir Diminta tidak Panik
BMKG mengimbau masyarakat tidak mudah mempercayai informasi mengenai gempa, tsunami, maupun aktivitas Gunung Anak Krakatau yang belum terverifikasi. Informasi resmi sebaiknya diperoleh melalui kanal BMKG, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pemerintah daerah, serta instansi berwenang lainnya.
Khusus masyarakat di pesisir Selat Sunda, pemahaman terhadap jalur dan lokasi evakuasi menjadi penting. Masyarakat juga perlu mengetahui tindakan yang harus dilakukan apabila sewaktu-waktu pemerintah mengeluarkan peringatan evakuasi.
Dengan ancaman bencana yang bersumber dari berbagai faktor geologi tersebut, kesiapsiagaan menjadi kunci untuk mengurangi risiko korban apabila terjadi gempa, tsunami, maupun erupsi. Yang perlu ditekankan, keberadaan zona megathrust maupun sesar aktif bukan berarti gempa besar atau tsunami akan segera terjadi.
Informasi tersebut merupakan bagian dari pemetaan potensi bahaya yang menjadi dasar bagi masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan kesiapsiagaan.
(Dinar K/berbagai sumber)
