Krisis Listrik di Sulawesi dan Kalimantan Akibat El Nino, Bahlil Beberkan Siasat Pemerintah

1789551055609

Fenomena El Nino menyebabkan penurunan debit air Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). (Foto:setkab)

GEBRAK.ID,JAKARTA— Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa wilayah Sulawesi dan Kalimantan tengah mengalami kekurangan pasokan listrik. Fenomena El Nino yang menyebabkan penurunan debit air Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), ditambah dengan pemeliharaan pembangkit, menjadi penyebab utama kondisi ini.

Dampak El Nino terhadap PLTA Sulawesi Selatan

Bahlil menjelaskan bahwa penurunan debit air akibat El Nino telah menekan daya mampu PLTA di Sulawesi Selatan. Dari kapasitas normal 400 Megawatt (MW), kini hanya tersisa 250 MW. “Laporan yang saya terima bahwa di Sulawesi Selatan itu kan ada beberapa pembangkit yang memang kita pakai PLTA. Dan akibat El Nino ini kan daya kekuatan air itu berkurang. Maka kita sudah mencari solusi adalah mengganti sementara dengan pembangkit yang lain,” ungkap Bahlil saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (16/9/2026).

Gangguan Listrik di Kalimantan

Selain Sulawesi Selatan, Bahlil juga menyebut bahwa kekurangan pasokan listrik di Kalimantan dipicu oleh adanya pemeliharaan dan perbaikan fasilitas pembangkit listrik yang dilakukan oleh PT PLN (Persero) .“Kemudian juga kita tahu bahwa di Kalimantan juga ada terjadi kekurangan karena ada perbaikan power plant-nya. Daerah-daerah lain sebentar kita akan rapatkan dengan PLN untuk kita mitigasi sejak awal,” bebernya.

Langkah Mitigasi Pemerintah

Kementerian ESDM berkoordinasi dengan PLN untuk melakukan mitigasi sejak awal melalui penyesuaian Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menghindar dari tanggung jawab atas masalah pasokan listrik ini. “Sekalipun memang ESDM itu kan regulator, implementasinya itu ada di PLN. Tapi begitu listrik mati, tetap yang disalahkan ESDM gitu kan kira-kira? Ya itu konsekuensi, enggak boleh kita lari dari tanggung jawab. Pemimpin itu kan harus berani mengambil tanggung jawab,” ujar Bahlil dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI.

Penurunan Kapasitas PLTA di Sulbagsel

Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo memerinci bahwa kondisi hidrologi yang dipengaruhi El Nino menyebabkan produksi PLTA Poso, Bakaru, Malea, serta sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) menurun. Daya mampu agregat pembangkit hidro turun dari sekitar 850 MW menjadi 250 MW, atau berkurang sekitar 600 MW.

Untuk meningkatkan pasokan, PLN menjalankan sejumlah langkah simultan. Selain mempercepat perbaikan pembangkit, PLN mengoptimalkan pembangkit yang tersedia dan menyiapkan tambahan kapasitas hingga 627 MW.

Potensi Energi Angin sebagai Solusi

Di tengah krisis air, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menyoroti potensi Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) yang justru meningkat saat kemarau. Ia menyebut PLTB Sidrap dan Jeneponto di Sulawesi Selatan beroperasi 24 jam dengan kapasitas penuh.

“Karena pada saat El Nino, justru angin itu 24 jam bertiup. Nah, alhamdulillah kita sudah punya dua pembangkit di Sulawesi Selatan, yaitu di Sidrap sama Jeneponto. Dua-duanya saya visit kemarin. Semua 24 jam full capacity,” kata Eniya.

Target Pemulihan

PLN menargetkan keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik Sulawesi Bagian Selatan dapat berangsur normal kembali pada akhir September 2026. Untuk jangka panjang, PLN menyiapkan penguatan sistem dengan sekitar 5,2 GWp PLTS dan 8,2 GWh Battery Energy Storage System (BESS).

(Dinar K/ berbagai sumber)