Mercedes-Benz Terancam Tutup Dua Pabrik di Jerman, Ini Penyebabnya
Mercedes-Benz menghadapi tekanan besar di tengah perubahan industri otomotif global. (Foto: Logo Mercedes-Benz)
GEBRAK.ID – Mercedes-Benz menghadapi tekanan besar di tengah perubahan industri otomotif global. Produsen mobil premium asal Jerman itu memperingatkan bahwa dua fasilitas produksinya di Jerman berpotensi ditutup jika perusahaan gagal mencapai kesepakatan penghematan biaya dan peningkatan produktivitas.
Peringatan tersebut disampaikan Kepala Produksi Mercedes-Benz Michael Schiebe dalam pertemuan dengan pekerja di pabrik Sindelfingen. Ia menyatakan perusahaan sebenarnya masih ingin mempertahankan seluruh fasilitas produksi di Jerman.
“Tujuan jelas perusahaan adalah mempertahankan semua lokasi kami di Jerman,” kata Schiebe, Senin (28/9/2026).
Namun, Mercedes memberikan catatan penting. Jika upaya menurunkan biaya dan meningkatkan produktivitas tidak mencapai hasil yang diharapkan, perusahaan dapat menutup satu pabrik perakitan kendaraan dan satu fasilitas powertrain di Jerman. Mercedes belum menyebut lokasi mana yang terancam.
Saat ini, Mercedes-Benz mengoperasikan tiga fasilitas perakitan kendaraan dan tujuh pabrik powertrain di Jerman. Ancaman tersebut juga muncul ketika perusahaan tengah melakukan transformasi besar pada jaringan produksinya agar lebih fleksibel dan efisien.
Mercedes membutuhkan kesepakatan baru dengan serikat pekerja IG Metall terkait langkah penghematan. Namun, rencana tersebut mendapat penolakan keras dari pihak pekerja. IG Metall menilai ancaman penutupan pabrik bukan cara yang tepat untuk menentukan masa depan industri dan menyatakan siap menghadapi tekanan terhadap pekerja.
Tekanan terhadap Mercedes tidak hanya berasal dari tingginya biaya produksi di Jerman. Persaingan dengan produsen otomotif China juga semakin kuat. Merek seperti BYD, Geely, GAC, dan Changan menawarkan kendaraan yang semakin kompetitif di pasar global.
China menjadi salah satu titik tekanan terbesar. Berdasarkan laporan Carscoops, penjualan Mercedes di China pada kuartal kedua 2026 turun sekitar 30 persen. Perusahaan juga membukukan penurunan nilai aset sekitar 800 juta dolar AS atau sekitar Rp14,3 triliun jika menggunakan kurs tengah Bank Indonesia Rp17.917 per dolar AS pada 28 September 2026.
Mercedes juga menghadapi dampak tarif perdagangan Amerika Serikat. Carscoops melaporkan beban tarif yang ditanggung perusahaan sepanjang 2025 mencapai sekitar 1,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp19,7 triliun.
Di tengah tekanan tersebut, Mercedes tetap menjalankan investasi untuk memperbarui fasilitas produksinya. Pada September 2026, perusahaan memulai produksi generasi baru Mercedes-Benz GLA di pabrik Rastatt. Mercedes juga menginvestasikan nilai dalam kisaran ratusan juta euro untuk menyiapkan lini produksi berikutnya.
Mercedes secara global memiliki sekitar 30 lokasi produksi di empat benua. Perusahaan memproduksi lebih dari 2 juta kendaraan pada 2025 dan kini berupaya membuat jaringan manufakturnya semakin fleksibel menghadapi perubahan permintaan pasar.
Dengan demikian, ancaman penutupan dua fasilitas di Jerman belum berarti keputusan final. Masa depan pabrik-pabrik tersebut masih bergantung pada hasil pembicaraan perusahaan dengan pekerja serta kemampuan Mercedes memperbaiki efisiensi produksinya.
(Devona R/Berbagai Sumber)
