Canva PHK 1.271 Pekerja, Dampak Makin Maraknya AI?
Kantor aplikasi pembuatan desain, Canva. (Foto: Bloomberg/Dok)
GEBRAK.ID, SYDNEY – Canva Inc. mengumumkan restrukturisasi organisasi yang berdampak terhadap 1.271 pekerja atau sekitar 22% dari total tenaga kerjanya. Kebijakan perusahaan teknologi asal Australia tersebut mencakup pemutusan hubungan kerja (PHK), perubahan peran, dan pemindahan sejumlah karyawan ke pusat operasional tertentu.
CEO sekaligus salah satu pendiri Canva, Melanie Perkins, menyampaikan keputusan tersebut melalui pesan kepada karyawan yang kemudian dipublikasikan di situs resmi perusahaan pada awal November 2026. Manajemen menyatakan perubahan itu diperlukan untuk menyesuaikan struktur organisasi dengan kebutuhan bisnis dan perkembangan teknologi.
Perkins mengakui keputusan tersebut membawa konsekuensi besar bagi karyawan dan keluarga mereka. Dalam pernyataan resminya, ia menyebut restrukturisasi itu sebagai salah satu keputusan paling sulit sepanjang perjalanan Canva. “Tidak diragukan lagi, ini adalah momen tersulit dalam tiga belas tahun sejarah kami,” tulis Perkins dalam pesan kepada karyawan, sebagaimana dikutip dari pengumuman resmi perusahaan.
Perkins menjelaskan bahwa restrukturisasi dilakukan setelah manajemen mempertimbangkan berbagai alternatif selama beberapa bulan. Menurutnya, penyesuaian secara bertahap tidak lagi memadai untuk mempersiapkan perusahaan menghadapi fase pertumbuhan berikutnya. “Sukses di tahap pertama kami tidak menjamin kesuksesan di tahap berikutnya,” tulisnya, seraya menjelaskan bahwa pertumbuhan Canva melambat untuk pertama kalinya dalam satu dekade.
Meski demikian, Canva belum merinci jumlah pasti karyawan yang akan kehilangan pekerjaan dibandingkan dengan mereka yang hanya mengalami perubahan jabatan atau relokasi. Dengan demikian, angka 1.271 orang merujuk pada keseluruhan pekerja yang terdampak restrukturisasi, bukan jumlah PHK yang telah dikonfirmasi secara terpisah.
Baca Juga
Karyawan Terdampak Mendapat Dukungan Transisi
Canva menyatakan akan menyediakan paket dukungan bagi karyawan yang meninggalkan perusahaan. Berdasarkan pengumuman resmi Melanie Perkins, pekerja terdampak akan menerima kompensasi setidaknya enam bulan gaji, termasuk hak yang diwajibkan oleh ketentuan hukum setempat.
Perusahaan juga menawarkan dukungan kesehatan selama 12 bulan di negara-negara tempat fasilitas tersebut tersedia, pendampingan karier, pelatihan wawancara, serta akses LinkedIn Premium selama satu tahun.
Selain itu, karyawan yang terdampak dapat mempertahankan laptop MacBook yang digunakan untuk bekerja. Canva juga membentuk Canva Collective Fund, yang menyediakan hibah sebesar US$10.000 bagi mantan karyawan yang ingin memulai usaha atau mengembangkan proyek sosial di komunitasnya.
Manajemen turut menyiapkan direktori alumni secara sukarela yang dapat dimanfaatkan untuk menghubungkan mantan karyawan dengan investor, mitra, dan jaringan industri guna membuka peluang kerja baru. Perkins menegaskan bahwa keputusan restrukturisasi tidak dimaksudkan untuk mengurangi penghargaan perusahaan terhadap kontribusi para pekerjanya.
Dalam pengumumannya, ia menyampaikan permintaan maaf atas dampak yang ditimbulkan serta berkomitmen memberikan dukungan kepada mereka yang harus meninggalkan perusahaan.
Perubahan Lokasi Kerja dan Kolaborasi
Restrukturisasi juga mencakup penataan lokasi kerja. Sydney akan menjadi pusat utama bagi lebih banyak tim produk Canva, sementara sebagian karyawan mungkin diminta mempertimbangkan relokasi ke lokasi operasional tertentu.
Mulai Januari 2027, sebagian besar karyawan dengan sistem kerja hybrid diperkirakan bekerja dari kantor selama dua hingga tiga hari setiap pekan, menyesuaikan kebutuhan tim dan wilayah masing-masing.
Canva menyatakan langkah tersebut bertujuan meningkatkan kolaborasi, mempercepat pengambilan keputusan, dan memperkuat koordinasi antaranggota tim. Perubahan ini mencerminkan tantangan perusahaan teknologi dalam menyeimbangkan efisiensi organisasi, kebutuhan inovasi, dan keberlanjutan tenaga kerja di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat. (*)
(Zaky Al Hamzah/abc/reuters)
Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.
Dukung lewat SaweriaMau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID