10 Orang Terkaya di Indonesia November 2026, Bos Djarum Kembali ke Puncak

1793664610337

Robert Budi Hartono kembali menggeser Prajogo Pangestu dari posisi teratas. Kekayaan para taipan RI dipengaruhi pergerakan saham dan bisnis di berbagai sektor. (Foto: ist)

GEBRAK.ID, JAKARTA – Peta orang terkaya di Indonesia kembali berubah pada November 2026. Robert Budi Hartono kembali menduduki posisi pertama dalam daftar orang terkaya Indonesia berdasarkan data Forbes Real-Time Billionaires.

Robert Budi Hartono tercatat memiliki kekayaan sekitar US$12,2 miliar, atau sekitar Rp221,76 triliun dengan asumsi kurs Rp18.177 per dolar AS. Posisi tersebut menempatkan pemilik Grup Djarum itu di atas taipan petrokimia dan energi Prajogo Pangestu serta pengusaha batu bara Low Tuck Kwong.

Perubahan peringkat tersebut menunjukkan bahwa posisi orang terkaya dapat bergerak cukup cepat karena nilai kekayaan para miliarder yang memiliki aset publik ikut dipengaruhi pergerakan harga saham.

Forbes menjelaskan bahwa daftar Real-Time Billionaires merupakan pemantauan kekayaan miliarder secara berkala. Profil Robert Budi Hartono di Forbes menunjukkan sumber utama kekayaannya berasal dari perbankan dan tembakau, termasuk kepemilikannya di Bank Central Asia (BCA) dan bisnis Djarum.

Daftar 10 Orang Terkaya di Indonesia November 2026

Berdasarkan pembaruan Forbes yang dikutip pada awal November 2026, berikut jajaran 10 orang atau keluarga terkaya Indonesia:

  • Robert Budi Hartono US$12,2 miliar (BCA, Djarum)
  • Prajogo Pangestu US$10,4 miliar (Barito Group, petrokimia dan energi)
  • Low Tuck Kwong US$ 9,8 miliar (Bayan Resources, batu bara)
  • Anthoni Salim US$ 9,1 miliar (Salim Group).
  • Tahir dan keluarga US$ 9 miliar (Mayapada Group)
  • Sri Prakash Lohia US$ 8,4 miliar (Indorama Group)
  • Otto Toto Sugiri US$5,7 miliar (DCI Indonesia)
  • Theodore Rachmat US$4,4 miliar (Triputra Group)
  • Lim Hariyanto Wijaya Sarwono US$ 4,1 miliarSawit dan nikel)
  • Sukanto Tanoto US$ 4 miliar (Royal Golden Eagle)

Data tersebut memperlihatkan dominasi sektor lama seperti perbankan, rokok, batu bara, petrokimia, dan perkebunan. Namun, bisnis baru seperti pusat data juga semakin terlihat dalam jajaran kekayaan terbesar Indonesia melalui Otto Toto Sugiri, yang memiliki kepentingan besar di DCI Indonesia.

Robert Budi Hartono Kembali ke Posisi Pertama

Kembalinya Robert Budi Hartono ke posisi teratas menjadi salah satu perubahan penting dalam daftar November ini. Forbes mencatat kekayaan Budi Hartono sekitar US$12,2 miliar. Nilainya berasal terutama dari kepemilikan di sektor perbankan dan bisnis tembakau. Budi Hartono dan mendiang saudaranya, Michael Hartono, selama bertahun-tahun menjadi salah satu pasangan pengusaha paling kaya di Indonesia.

Kekayaan keluarga Hartono tidak hanya berkaitan dengan Djarum, tetapi juga kepemilikan saham di BCA serta sejumlah aset lainnya. Keluarga Hartono mulai membangun kekayaan melalui bisnis rokok kretek sebelum melakukan diversifikasi ke sektor lain. Forbes juga mencatat keluarga tersebut memiliki kepentingan pada bisnis elektronik Polytron dan perusahaan teknologi Blibli melalui Global Digital Niaga.

Prajogo Pangestu di Posisi Kedua

Prajogo Pangestu berada di peringkat kedua dengan kekayaan sekitar US$10,4 miliar. Kekayaannya berkaitan erat dengan bisnis energi dan petrokimia melalui kelompok usaha Barito. Posisi Prajogo juga dapat berubah cukup signifikan mengikuti kinerja saham perusahaan-perusahaan yang menjadi sumber kekayaannya.

Pada daftar Forbes 2025, keluarga Hartono secara gabungan berada di posisi pertama dengan kekayaan US$43,8 miliar, sedangkan Prajogo Pangestu berada di posisi kedua dengan US$39,8 miliar. Namun, daftar tahunan tersebut menggunakan metodologi berbeda karena menghitung kekayaan keluarga secara keseluruhan, bukan hanya kekayaan individu secara real-time.

Low Tuck Kwong Masih Bertahan di Tiga Besar

Pengusaha batu bara Low Tuck Kwong menempati posisi ketiga dengan kekayaan sekitar US$9,8 miliar. Kekayaannya terutama berasal dari bisnis batu bara dan energi melalui Bayan Resources. Posisi Low Tuck Kwong juga pernah berada di atas Budi Hartono dan Prajogo Pangestu pada pertengahan 2026.

Data Forbes yang dikutip Kompas pada 30 Juni 2026, misalnya, menempatkan Low Tuck Kwong di peringkat pertama dengan kekayaan US$16,4 miliar. Perubahan tersebut memperlihatkan betapa dinamisnya daftar miliarder Indonesia ketika nilai perusahaan publik bergerak.

Sektor Bisnis Makin Beragam

Selain tiga besar, daftar November 2026 memperlihatkan semakin beragamnya sumber kekayaan para konglomerat Indonesia.Anthoni Salim berada di posisi keempat dengan kekayaan sekitar US$9,1 miliar.

Berikutnya Tahir dan keluarga dengan US$9 miliar, kemudian Sri Prakash Lohia dengan US$8,4 miliar. Nama Otto Toto Sugiri juga menarik perhatian karena bisnis utamanya terkait pusat data. DCI Indonesia menjadi salah satu aset utama kekayaannya. Sektor pusat data sendiri semakin strategis seiring pertumbuhan kebutuhan infrastruktur digital dan komputasi.

Sementara itu, Theodore Rachmat memiliki bisnis yang tersebar di bidang agrikultur, manufaktur dan pertambangan melalui Triputra Group.

Daftar Orang Terkaya Bisa Berubah Setiap Saat

Peringkat miliarder versi Forbes Real-Time tidak sama dengan daftar kekayaan tahunan Forbes. Pada daftar tahunan Indonesia’s 50 Richest 2025, misalnya, Forbes menggunakan data kepemilikan saham, laporan perusahaan, bursa, analis, serta informasi keuangan lainnya. Daftar tersebut juga dapat menghitung kekayaan keluarga secara gabungan.

Karena itu, angka kekayaan yang muncul pada daftar real-time sebaiknya dipahami sebagai estimasi nilai kekayaan pada waktu pembaruan, bukan uang tunai yang dimiliki seseorang.Pergerakan harga saham perusahaan yang menjadi sumber kekayaan utama dapat membuat posisi seorang miliarder naik atau turun dalam waktu relatif singkat.

Dengan demikian, kembalinya Robert Budi Hartono ke posisi pertama pada November 2026 tidak serta-merta berarti terjadi perubahan permanen dalam hierarki kekayaan Indonesia. Posisi tersebut masih dapat berubah mengikuti pergerakan pasar dan valuasi aset masing-masing pengusaha.

(Dinar K/ berbagai sumber)

Dukung GEBRAK.ID

Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.

Dukung lewat Saweria
Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID