Polri Kerahkan 305 Personel Hadapi Ancaman Banjir dan Longsor Akhir 2026, K-9 hingga Perahu Karet Disiapkan
Korps Sabhara Baharkam Polri memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana menjelang akhir tahun. (Foto: Div Humas Polri)
GEBRAK. ID, JAKARTA – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana alam menjelang akhir 2026. Sebanyak 305 personel gabungan disiapkan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan bencana, terutama banjir dan tanah longsor.
Kesiapan tersebut melibatkan Korps Sabhara Badan Pemeliharaan Keamanan (Baharkam) Polri bersama sejumlah instansi terkait, yakni Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), pemadam kebakaran, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Kakorsabhara Baharkam Polri Irjen Pol Jossy Kusumo mengatakan, dari total personel yang disiagakan, sebanyak 260 orang berasal dari Korsabhara Baharkam Polri. Sementara itu, masing-masing 15 personel berasal dari Basarnas, pemadam kebakaran, dan BPBD.
Baca Juga
“305 personel gabungan disiagakan, terdiri atas 260 personel Korsabhara Baharkam Polri, 15 personel Basarnas, 15 personel Pemadam Kebakaran, dan 15 personel BPBD,” kata Jossy dalam siaran pers Divisi Humas Polri, Kamis (5/11/2026).
Kesiapan tersebut merupakan bagian dari langkah antisipasi menghadapi peningkatan risiko bencana hidrometeorologi pada periode penghujung tahun.
Polri Siapkan Anjing Pelacak dan Peralatan SAR
Selain menyiagakan ratusan personel, Korsabhara Baharkam Polri juga mempersiapkan berbagai sarana dan prasarana untuk mendukung operasi pencarian, pertolongan, serta evakuasi korban bencana. Salah satu perlengkapan yang disiapkan adalah anjing pelacak atau unit K-9. Satwa tersebut memiliki kemampuan membantu pencarian korban yang tertimbun material bangunan maupun tanah akibat bencana longsor.
Polri juga menyiapkan Kuda Turangga yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung patroli dan distribusi bantuan di wilayah tertentu yang sulit dijangkau kendaraan. Sejumlah kendaraan operasional dan peralatan pendukung lainnya turut disiapkan, di antaranya kendaraan taktis penanganan kebakaran hutan dan lahan, kendaraan SAR, serta Rescue Carrier.
Untuk menghadapi potensi banjir, personel juga dibekali perahu karet yang dapat digunakan dalam proses evakuasi warga dari kawasan terdampak. Sementara itu, peralatan Watergen dipersiapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih di lokasi bencana. Kelengkapan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan personel dalam menghadapi berbagai situasi darurat, mulai dari pencarian korban, evakuasi, hingga distribusi bantuan.
Ancaman Banjir dan Longsor Menguat Saat Musim Hujan
Peningkatan kesiapsiagaan aparat tidak terlepas dari potensi bencana yang menyertai musim hujan 2026/2027. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memperkirakan musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berlangsung mulai November hingga Desember 2026. Adapun puncak musim hujan diprediksi terjadi secara bertahap antara Desember 2026 hingga Februari 2027, bergantung pada karakteristik wilayah masing-masing.
Curah hujan yang tinggi dapat meningkatkan risiko banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Risiko tersebut semakin besar di daerah dengan kondisi geografis rawan, sistem drainase yang buruk, serta kawasan yang mengalami kerusakan lingkungan. Karena itu, kesiapan personel dan peralatan penanggulangan bencana menjadi salah satu faktor penting untuk mempercepat respons ketika keadaan darurat terjadi.
BNPB Minta Daerah Perkuat Mitigasi Bencana
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mendorong pemerintah daerah memperkuat langkah mitigasi menghadapi musim hujan. Upaya tersebut mencakup pemetaan wilayah rawan bencana, pemeriksaan kesiapan personel dan logistik, penguatan sistem peringatan dini, serta peningkatan koordinasi antarlembaga.
Pemerintah daerah juga perlu memastikan jalur evakuasi tersedia dan dapat digunakan ketika terjadi keadaan darurat. Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir dan longsor diimbau memperhatikan perkembangan informasi cuaca, mengenali tanda-tanda potensi bencana, serta mengetahui lokasi pengungsian terdekat.
Kesiapsiagaan tersebut penting karena penanganan bencana tidak hanya bergantung pada kecepatan petugas ketika melakukan evakuasi, tetapi juga pada kemampuan masyarakat melakukan tindakan penyelamatan sejak dini. Dengan menyiagakan 305 personel gabungan beserta berbagai perlengkapan SAR, Polri berupaya memperkuat dukungan penanganan bencana menjelang akhir 2026. Sinergi dengan Basarnas, BPBD, pemadam kebakaran, dan masyarakat diharapkan mampu menekan risiko korban jiwa maupun kerugian akibat bencana alam.
(Dinar K/ berbagai sumber)
Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.
Dukung lewat SaweriaMau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID