Peresmian dilakukan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat pada Sabtu (17/1/2026). Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerataan kualitas pendidikan, khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), sekaligus wujud kehadiran negara di wilayah perbatasan.
Atip menegaskan, revitalisasi sekolah merupakan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan tidak bisa dilepaskan dari ketersediaan sarana dan prasarana yang layak.
“Sekolah harus aman, nyaman, dan mendukung proses pembelajaran yang efektif. Itu menjadi fondasi penting dalam menciptakan pendidikan yang bermutu dan berkeadilan,” ujar Atip.
Atip juga mengingatkan pentingnya peran seluruh warga sekolah dalam menjaga fasilitas yang telah dibangun pemerintah agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Perawatan sarana pendidikan, kata Atip, merupakan tanggung jawab bersama.
Apresiasi Daerah
Pemerintah daerah menyambut positif langkah Kemendikdasmen tersebut. Wakil Bupati Nunukan Hermanus menilai revitalisasi sekolah di Sebatik dan Nunukan bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan pesan kuat bahwa negara hadir dan memberi perhatian serius kepada masyarakat perbatasan.
“Anak-anak di tapal batas memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Perhatian pemerintah pusat ini menjadi dorongan besar bagi kami di daerah,” ujar Hermanus.
Menurut Hermanus, perbaikan sarana pendidikan di wilayah perbatasan juga berperan penting dalam memperkuat rasa kebangsaan sekaligus menyiapkan generasi muda yang mampu bersaing di masa depan.
Manfaat revitalisasi dirasakan langsung oleh pihak sekolah. Kepala SMK Negeri 1 Nunukan Jathu Roswita mengungkapkan, sebelum direnovasi, kondisi bangunan sekolah cukup memprihatinkan. Atap dan plafon yang lapuk kerap menimbulkan kekhawatiran, terutama saat hujan. “Proses belajar sering terganggu karena kebocoran dan keterbatasan fasilitas, termasuk toilet yang tidak sebanding dengan jumlah siswa,” katanya.
Setelah revitalisasi dilakukan, suasana belajar berubah signifikan. Lingkungan sekolah menjadi lebih aman dan nyaman, yang berdampak langsung pada meningkatnya motivasi belajar siswa. “Sekarang siswa lebih semangat datang ke sekolah. Mereka merasa aman dan bangga dengan sekolahnya,” ujar Roswita.
Apresiasi juga disampaikan oleh guru SMAS Katolik St. Gabriel Nunukan, Suryani. Ia menyebut kehadiran fasilitas baru, seperti toilet dan perpustakaan, sangat membantu kegiatan belajar-mengajar. “Anak-anak kini memiliki ruang membaca yang layak. Ini sangat mendukung peningkatan literasi,” katanya.
Dari kalangan siswa, revitalisasi sekolah menghadirkan rasa aman sekaligus semangat baru. Agus Gustiawan, siswa kelas XII SMKN 1 Nunukan, mengaku kini tidak lagi khawatir belajar saat hujan turun. “Sekarang bangunannya sudah bagus dan aman. Belajar jadi lebih lancar dan nyaman,” ujarnya.
Agus menyampaikan terima kasih kepada pemerintah atas perhatian yang diberikan kepada siswa di wilayah perbatasan. “Kami sangat terbantu dengan revitalisasi ini,” katanya.
Revitalisasi delapan sekolah di Nunukan dan Sebatik menegaskan bahwa pembangunan pendidikan tidak berhenti di pusat-pusat kota. Dari beranda terluar negeri, pemerintah berupaya memastikan setiap anak Indonesia memperoleh hak yang sama atas pendidikan yang layak dan bermutu.
(***)

Posting Komentar untuk "Revitalisasi 8 Sekolah di Nunukan dan Sebatik, Negara Tegaskan Komitmen Pemerataan Pendidikan Hingga Wilayah 3T"