![]() |
| Pernah nggak, kamu ketemu orang yang di depan terlihat seperti teman, bahkan terasa seperti penyelamat, tapi di belakang justru pelan-pelan menjatuhkan? (Foto: Ilustrasi/AI) |
Oleh Mila Muzakkar *)
Pernah nggak, kamu ketemu orang yang di depan terlihat seperti teman, bahkan terasa seperti penyelamat, tapi di belakang justru pelan-pelan menjatuhkan?
Di hadapan kita, ia ramah. Hadir saat kita lagi susah. Membantu, bahkan ketika kita nggak minta.
Gimana caranya kita nggak terpana? Curiga pun rasanya nggak kepikiran. Yang ada malah merasa beruntung: “alhamdulillah, aku punya teman sebaik ini.”
Sampai suatu hari dunia mendadak jungkir balik.
Kita tahu, atau dengar dari orang lain, bahwa di waktu yang sama, orang yang kita sebut “teman” itu juga sibuk meruntuhkan reputasi kita di depan orang lain.
Kaget, kecewa, sedih, marah.
Ada yang memilih menjauh. Ada yang memilih membenci. Reaksi itu manusiawi.
Tapi, apa hanya itu pilihannya? Adakah pilihan lain selain itu? Yes, kita bisa memilih fleksibel dan beradaptasi dengan situasi itu.
Santai Kayak di Pantai
Hidup ini kayak permen nano-nano. Manis, asem, pahit, tawar, rame rasanya. Dan karakter manusia juga begitu. Kadang menyenangkan, sisanya menyebalkan.
Itu harga mati. Kayak tulisan di poster lomba: “Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.”
Kita bisa saja berusaha menghindar, tapi sering kali hidup tetap mempertemukan kita. Dalam satu organisasi. Satu kantor. Satu proyek.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
Pertama, santai aja kayak di pantai. Bukan berarti naif, tapi sadar bahwa selama kita hidup dan berinteraksi, orang "bermuka dua" (kita sebut saja "si doi" ya, kedengarannya lebih enak hehe...) akan selalu ada. Kalau nggak dibikin santai, situasi ini akan menguras emosi terus-menerus, bikin kita lelah.
Kedua, belajar beradaptasi. Dan ya, ini nggak mudah. Ketika kita harus tetap terlihat baik-baik saja, profesional, bahkan berusaha akrab, dengan orang yang sudah kita labeli “bermuka dua”.
Tapi membenci atau menghindar juga bukan solusi paling bijak. Apalagi kalau pimpinan meminta kita satu tim dengannya, mengerjakan proyek besar, dengan dana besar, dan target besar.
Jika dijalankan dengan ogah-ogahan, seadanya, atau hanya terpaksa karena nggak enak sama si bos, atau karena takut nggak dapat bayaran, proyek besar itu bisa nggak sukses. Dan merugikan diri sendiri, juga orang banyak.
Tips Beradaptasi
Jean Piaget, psikolog yang terkenal dengan teori perkembangan kognitifnya, menjelaskan bahwa adaptasi terjadi lewat dua proses: asimilasi (memasukkan pengalaman baru ke pola pikir yang sudah kita punya) dan akomodasi (mengubah pola pikir agar sesuai dengan realitas baru).
Keduanya bekerja bersama untuk mencapai keseimbangan. Dan menurut Piaget, di situlah letak kecerdasan manusia.
Herbert Spencer juga bilang begitu. Dalam teori evolusinya, ia mengatakan: yang mampu bertahan bukan yang paling kuat, tapi yang paling mampu beradaptasi (Survival of the fittest).
Menurutku, beradaptasi artinya bersikap fleksibel tanpa kehilangan kewaspadaan. Saat harus berhadapan dengan “si doi”, bersikap biasa saja.
Ngobrol seperlunya. Profesional seperlunya. Nggak perlu terlalu akrab. Apalagi curhat hal-hal yang sangat personal.
Saat bekerja bersama, tetap sampaikan ide. Jangan menahan diri hanya karena malas atau keburu benci.
Kalau nggak setuju, bilang nggak setuju. Kalau setuju, akui. Bahkan ketika ide atau pencapaian si doi memang layak diapresiasi. Di situasi kayak gini, kadang akan ada pihak ketiga yang ikut "manas-manasin" -menambah cerita, memperbesar drama.
Di titik ini, kita penting untuk tetap objektif. Jangan menambah, jangan mengurangi. Jangan terpancing. Di luar itu, tetap jaga diri. Tetap siaga. Bukan karena takut, tapi karena kita belajar dari pengalaman.
Ini langkah paling bijak, menurutku. Selain mental lebih sehat, pekerjaan bisa selesai sesuai target, dan kita pun telah memenangkan hidup.
6 Januari 2026
*) Founder Generasi Literat

Posting Komentar untuk "Seni Menghadapi Orang Bermuka Dua di Dunia Nano-Nano"