64 Sekolah di Buleleng Bali Direvitalisasi, Laboratorium TIK hingga Ruang Praktik Jadi Motor Perubahan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, dalam Peresmian Program Revitalisasi Satuan Pendidikan di Kota Singaraja, Bali, Jumat (13/2/2026). (Foto: BKHM Setjen Kemendikdasmen)
SINGARAJA -- Revitalisasi sekolah di Kabupaten Buleleng, Bali, tak lagi dimaknai sekadar proyek pembangunan fisik. Pemerintah menegaskan, pembaruan sarana dan prasarana adalah langkah awal untuk mendorong kualitas pembelajaran yang lebih adaptif, relevan, dan berdaya saing.

Peresmian Program Revitalisasi Satuan Pendidikan di Kota Singaraja, Jumat (13/2/2026), menjadi penanda komitmen tersebut. Dari ruang kelas baru hingga laboratorium teknologi informasi dan komunikasi (TIK), perubahan nyata mulai dirasakan satuan pendidikan di wilayah yang dikenal sebagai “Kota Pendidikan” itu.

Investasi Rp90,7 Miliar untuk Masa Depan Buleleng

Sebanyak 64 sekolah dari jenjang PAUD hingga SMK di Kabupaten Buleleng menerima bantuan revitalisasi dengan total anggaran mencapai Rp90.752.105.402.

Kepala SMKN 3 Singaraja, Nyoman Nilon, menyebut dukungan tersebut sebagai investasi besar bagi generasi muda Bali dan Indonesia.

“Atas nama kepala sekolah penerima bantuan revitalisasi tahun 2025, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bapak Abdul Mu’ti atas dukungannya,” ujar Nilon.

Di sekolahnya, revitalisasi meliputi pembangunan enam ruang kelas baru, ruang praktik siswa teknik sepeda motor lengkap dengan peralatannya, serta lima unit toilet dengan total 30 pintu. Fasilitas tersebut dinilai krusial untuk mendukung pembelajaran berbasis praktik yang menjadi ciri pendidikan vokasi.

Menariknya, peresmian gedung baru tahun ini menjadi momen bersejarah. Gedung sekolah tersebut kembali diresmikan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah setelah sebelumnya, pada 1986, diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu.

Laboratorium TIK Lebih Representatif

Dampak revitalisasi juga dirasakan di SMPN 1 Busungbiu. Kepala sekolah I Komang Agus Adi Wiryawan menjelaskan, pembangunan laboratorium TIK baru membawa perubahan signifikan dalam proses belajar mengajar.

Sebelumnya, laboratorium TIK hanya memanfaatkan ruang kelas yang dialihfungsikan. Kini, dengan ruang khusus yang lebih representatif, praktik pembelajaran berbasis teknologi menjadi lebih optimal.

“Proses pembelajaran jadi lebih lancar dan terfasilitasi dengan baik. Ruang kelas yang sebelumnya dipakai untuk laboratorium kini bisa dimanfaatkan kembali sesuai fungsinya,” ujar I Komang.

Menurut I Komang, pembaruan fasilitas TIK sangat relevan di tengah tuntutan digitalisasi pendidikan, di mana literasi teknologi menjadi kompetensi dasar siswa.

Revitalisasi Bukan Sekadar Bangunan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa pembangunan fisik sekolah harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pembelajaran.

Mendikdasmen mengibaratkan sekolah seperti rumah. “Bangunan fisik adalah eksteriornya. Itu penting. Tapi yang tak kalah penting adalah interiornya, yakni kualitas pembelajaran dan ekosistem pendidikan di dalamnya,” ujarnya di hadapan para penerima program revitalisasi di Singaraja.

Menteri Mu’ti juga mengingatkan pentingnya perawatan sarana yang telah dibangun. Presiden, kata dia, berulang kali menekankan agar tidak ada lagi sekolah dengan bangunan rusak, atap mengkhawatirkan, atau fasilitas sanitasi yang tidak layak.

Pesan tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah menghadirkan sekolah yang bersih, aman, dan nyaman bagi peserta didik.

Sinergi Pusat dan Daerah

Sekretaris Daerah Kabupaten Buleleng, Gede Suyasa, menyebut kehadiran pemerintah pusat menjadi suntikan semangat bagi daerah. Revitalisasi sekolah, menurutnya, bukan sekadar proyek fisik, melainkan penguatan fondasi pendidikan jangka panjang.

“Ini bukan hanya seremoni peresmian bangunan, tetapi penguatan setiap ruang kelas agar menjadi tempat tumbuh kembang anak yang menyenangkan dan bermakna,” ujar Suyasa.

Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan dinilai menjadi kunci keberhasilan program. Dengan dukungan infrastruktur yang memadai dan penguatan kualitas pembelajaran, Buleleng menatap optimistis lahirnya sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing global.

Revitalisasi sekolah di Buleleng pun menjadi contoh bagaimana pembangunan pendidikan tidak berhenti pada beton dan semen, tetapi bergerak menuju transformasi pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman.

(BKHM Setjen Kemendikdasmen)


Posting Komentar untuk "64 Sekolah di Buleleng Bali Direvitalisasi, Laboratorium TIK hingga Ruang Praktik Jadi Motor Perubahan"