Di Perbatasan Negeri, 38 Sekolah Bengkayang Direvitalisasi: Pemerintah Tegaskan Pendidikan di Teras Depan Indonesia

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq (tengah), meresmikan revitalisasi 38 satuan pendidikan di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, Kamis (12/2/2026). (Foto: BKHM Setjen Kemendikdasmen)

BENGKAYANG -- Di wilayah yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia, pendidikan bukan sekadar layanan publik—ia menjadi penanda nyata kehadiran negara. Kabupaten Bengkayang kerap disebut sebagai teras depan Indonesia. Kini, wajah teras itu kian kokoh setelah 38 satuan pendidikan di daerah ini rampung direvitalisasi.

Peresmian dilakukan oleh Wamendikdasmen RI Fajar Riza Ul Haq yang menegaskan bahwa wilayah perbatasan harus memiliki standar pendidikan yang aman, sehat, dan membanggakan.

“Bengkayang bukan halaman belakang Indonesia. Ini teras depan. Karena itu, wajah pendidikannya harus kuat dan memberi rasa percaya diri bagi anak-anak kita,” kata Wamen Fajar, di Bengkayang, Kalimantan Barat, Jumat (13/2/2026).

Program ini merupakan bagian dari percepatan rehabilitasi dan pembangunan sekolah di wilayah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T). Total revitalisasi di Bengkayang mencakup 3 PAUD, 19 SD, 12 SMP, dan 4 SMA. Pekerjaan meliputi pembangunan ruang kelas baru, rehabilitasi ruang belajar, penyediaan UKS, ruang guru, ruang kepala sekolah, hingga perbaikan toilet dan sanitasi.

Secara nasional, program serupa telah menyentuh lebih dari 16 ribu satuan pendidikan dan terus diperluas untuk memastikan pemerataan mutu pendidikan.

Perubahan Terasa hingga ke Ruang Kelas

Dampak revitalisasi tidak hanya tampak pada bangunan, tetapi juga dirasakan langsung oleh warga sekolah.

Noviani, Kepala TK Angkasa, mengaku fasilitas UKS dan toilet yang sebelumnya terbatas kini jauh lebih layak. Anak-anak merasa nyaman, orang tua pun semakin percaya pada layanan sekolah.

Di SDN 06 Dapan, yang berada di wilayah 3T, keterbatasan ruang sempat membuat dua rombongan belajar digabung dalam satu kelas. Setelah mendapat tambahan dua ruang kelas dan satu UKS, proses belajar menjadi lebih fokus dan tertata. Gotong royong masyarakat ikut memperkuat rasa memiliki terhadap sekolah.

Sementara di SMAN 1 Bengkayang, sekolah yang berdiri sejak 1984 ini baru pertama kali mendapatkan revitalisasi menyeluruh. Lima ruang kelas baru, rehabilitasi tiga kelas, serta pembenahan ruang pimpinan, guru, dan toilet disebut membangkitkan semangat baru untuk berprestasi.

Bukan Hanya Bangunan, Tapi Ekosistem Pendidikan

Menurut Wamendikdasmen, revitalisasi fisik hanyalah satu bagian dari transformasi pendidikan. Pemerintah juga memperkuat sisi “software”: penyediaan perangkat pembelajaran digital, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), penyaluran Tunjangan Profesi Guru (TPG) langsung ke rekening, beasiswa S1/D4 bagi guru melalui RPL, serta kuota PPG Prajabatan bagi calon guru.

“Kita tidak hanya membangun gedungnya, tetapi juga memperkuat gurunya dan memastikan pembelajaran relevan dengan tantangan zaman. Pendidikan kuat di perbatasan adalah fondasi kedaulatan bangsa,” ujar Wamen Fajar.

Revitalisasi 38 sekolah ini menjadi penegasan bahwa faktor geografis tak boleh menjadi alasan ketertinggalan. Di teras depan Indonesia, negara hadir membangun sekolah yang lebih layak, memperkuat guru, dan menumbuhkan optimisme generasi masa depan.

(BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "Di Perbatasan Negeri, 38 Sekolah Bengkayang Direvitalisasi: Pemerintah Tegaskan Pendidikan di Teras Depan Indonesia"