![]() |
| Selat Hormuz di Kawasan Teluk Timur Tengah. (Foto: OpenAI) |
GEBRAK.ID; JAKARTA -- Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan dunia. Namun di tengah situasi yang belum sepenuhnya stabil, pemerintah Iran justru mengumumkan kabar penting: Selat Hormuz tetap terbuka bagi negara-negara yang dianggap bersahabat.
Pernyataan ini langsung menjadi perhatian global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia. Lalu, negara mana saja yang masuk daftar “sahabat” Iran dan boleh melintas?
Negara yang Diizinkan Melintas Selat Hormuz
Informasi ini disampaikan melalui akun media sosial X resmi Konsulat Jenderal Iran di Mumbai yang mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Dalam unggahan tersebut ditegaskan bahwa Iran mengizinkan pelayaran bagi negara-negara tertentu, di antaranya:
1. China -- Mitra dagang dan energi utama
2. Rusia -- Sekutu strategis
3. India -- Mitra perdagangan regional
4. Irak -- Negara tetangga dengan hubungan erat
5. Pakistan -- Mitra kawasan Asia Selatan
Selain lima negara tersebut, Malaysia juga disebut mendapat izin khusus.
Perdana Menteri (PM) Malaysia, Anwar Ibrahim, mengonfirmasi bahwa kapal tanker negaranya diperbolehkan melintasi Selat Hormuz setelah melakukan komunikasi langsung dengan para pemimpin regional, termasuk Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Dalam pidato yang disiarkan televisi dan dikutip Reuters, Anwar menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Iran atas keputusan tersebut.
Mengapa Selat Hormuz Begitu Penting?
Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas di perairan sempit ini setiap harinya, menurut data dari U.S. Energy Information Administration (EIA).
Letaknya strategis—menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan Samudra Hindia. Jika jalur ini terganggu, dampaknya bisa langsung terasa pada:
* Harga minyak global
* Distribusi gas alam cair (LNG)
* Rantai pasok pupuk dunia
* Stabilitas pasar energi internasional
Tak heran, isu ini langsung menyita perhatian komunitas global.
PBB Minta Jalur Dibuka Penuh
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, turut angkat suara. Dalam pernyataannya di platform X, ia menekankan bahwa penutupan berkepanjangan Selat Hormuz berisiko mengganggu pasokan minyak, gas, hingga pupuk pada momen penting musim tanam global.
Seruan tersebut memperlihatkan betapa krusialnya jalur ini, bukan hanya bagi negara produsen minyak, tetapi juga bagi ketahanan pangan dunia.
Dampak ke Indonesia dan Asia Tenggara?
Meski Indonesia tidak masuk daftar negara yang disebut secara langsung, stabilitas Selat Hormuz tetap berdampak pada Asia, termasuk Indonesia, yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi.
Jika jalur ini tetap terbuka bagi negara-negara mitra dagang utama seperti China dan India, tekanan terhadap harga minyak global berpotensi lebih terkendali. Namun ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor risiko yang harus diperhatikan.
Apa Sinyal Politik di Balik Kebijakan Ini?
Pengamat hubungan internasional menilai langkah Iran membuka akses selektif ini mengirim pesan diplomatik kuat:
1. Menunjukkan kontrol atas jalur strategis global
2. Memberi insentif bagi negara yang menjaga hubungan baik
3. Menguatkan blok kerja sama Asia dan Eurasia
Langkah ini juga memperlihatkan bahwa geopolitik energi masih menjadi instrumen diplomasi utama di kawasan.
Keputusan Iran membuka Selat Hormuz bagi negara-negara sahabat menjadi kabar penting di tengah dinamika global yang sensitif. Meski belum sepenuhnya normal, kebijakan ini memberi sinyal bahwa jalur energi dunia masih bisa beroperasi—meski secara selektif.
Dunia kini menunggu apakah pembukaan ini akan diperluas, atau justru menjadi alat negosiasi politik berikutnya.
(Berbagai Sumber)

Posting Komentar untuk "Iran Buka Selat Hormuz untuk Negara Sahabat, Siapa Saja yang Dapat “Lampu Hijau”?"