![]() |
| Presiden RI Prabowo Subianto menjadi sorotan saat mendatangi permukiman warga di bantaran rel kawasan Senen, Jakarta Pusat, Kamis (26/3/2026). (Foto: Instagram Prabowo) |
GEBRAK.ID; JAKARTA – Lagi-lagi aksi blusukan Presiden RI Prabowo Subianto menjadi sorotan. Kali ini, ia mendatangi permukiman warga di bantaran rel kawasan Senen, Jakarta Pusat, Kamis (26/3/2026).
Namun, yang membuat publik geleng-geleng adalah "upaya penyamaran" yang katanya dilakukan dengan mobil biasa dan pengawalan Paspampres terbatas.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijawa mengungkapkan bahwa Prabowo semula ingin "menyamar" agar bisa melihat kondisi warga secara alami. "Ya dadakan dan mau nyamar rencananya, pakai mobil biasa dan sedikit sekali Paspampres," ujar Teddy, dikutip dari detik.com, Jumat (27/3/2026).
Tapi nyatanya, seperti biasa, rombongan tetap dikawal ketat, warga yang semula tak tahu pun langsung dibuat heboh. "Rencana nyamar" gagal total. Bahkan, momen blusukan ini langsung diabadikan dan disebarluaskan oleh media dan akun-akun pemerintah.
🧐 Nyamar atau Pencitraan?
Publik mulai mempertanyakan, apa iya seorang presiden benar-benar bisa "nyamar" di era media sosial dan kamera ponsel yang ada di mana-mana? Apalagi, rombongan presiden, meski disebut "sedikit", tetap saja tidak seperti rombongan orang biasa yang sedang jalan-jalan sore.
Momen kedatangan Prabowo pun langsung terekam dan viral. Bukan hanya dari rombongan resmi, tetapi juga dari ponsel warga yang spontan merekam. Ironisnya, di tengah "penyamaran" yang gagal itu, justru keluar narasi heroik tentang presiden yang "peduli rakyat kecil".
📍 Senen Bukan Tempat Baru
Warga bantaran rel Senen bukanlah komunitas yang baru dikenal. Kawasan ini sudah puluhan tahun menjadi kantung kemiskinan di tengah Jakarta. Sebelumnya, banyak program pemerintah, baik pusat maupun daerah, yang menjanjikan relokasi dan hunian layak. Namun realisasinya kerap molor atau mandek.
Kedatangan Prabowo pun disambut haru dan tangis warga. Tapi pertanyaannya: apakah ini kali pertama? Atau baru kali ini ada presiden yang datang? Jika presiden sebelumnya juga pernah datang, mengapa kondisi masih begini? Apakah ini solusi atau sekadar kunjungan yang menghasilkan foto dan janji manis?
🏠 Janji Rumah Layak: Realisasi atau Retorika?
Teddy menyebut Prabowo ingin membangun hunian layak bagi warga yang tinggal di pinggir rel. "Pak Presiden ingin membangunkan rumah layak untuk warga yang masih tinggal di pinggir rel kereta api, 3 km dari pusat kota Jakarta," kata dia.
Janji ini memang mulia. Tapi rakyat sudah lelah dengan janji-janji yang tak berujung. Proyek pembangunan rumah layak untuk warga bantaran kali dan rel sudah digaungkan sejak era pemerintahan sebelumnya. Kini, Prabowo kembali mengangkatnya. Yang jadi masalah, apakah ini akan benar-benar dieksekusi atau hanya menjadi konten blusukan tahunan?
📸 Foto-Foto, Lalu Pulang
Dalam setiap kunjungan blusukan, yang selalu terlihat adalah: presiden datang, warga histeris, foto bersama, pejabat daerah merapat, lalu rombongan pulang. Keesokan harinya, publik disuguhi narasi kepedulian. Tapi bagi warga bantaran rel, hidup mereka tidak berubah dalam semalam.
Kunjungan Prabowo, meski disebut "dadakan dan nyamar", tetap meninggalkan kesan bahwa presiden lebih sering terlihat di foto daripada di lokasi proyek yang sedang berjalan.
💬 Reaksi Publik: "Apakah Ini Kerja atau Sekadar Foto?"
Di media sosial, warganet mulai melontarkan kritik pedas. Akun @jakarta_kritis menulis, "Blusukan dengan mobil biasa? Paspampres sedikit? Tapi tetap aja ada yang motoin. Niatnya pengen lihat kondisi rakyat atau pengen rakyat lihat dia?"
Akun @pengamat_politik menambahkan, "Presiden blusukan boleh-boleh saja. Tapi jangan jadikan itu konsumsi publik yang dikemas dengan narasi 'nyamar' yang nggak masuk akal. Rakyat butuh kebijakan, bukan drama."
Akun @warga_biasa juga berkomentar, "Janji rumah layak sudah sering didengar. Dulu pas kampanye juga janji. Sekarang jadi presiden, janji lagi. Kapan eksekusinya?"
🧐 Apa yang Sebenarnya Diharapkan Warga?
Warga bantaran rel bukan butuh foto bersama presiden atau blusukan dadakan. Mereka butuh kepastian: apakah rumah mereka akan digusur atau diperbaiki? Apakah ada kompensasi yang adil? Apakah pemerintah punya rencana jangka panjang untuk pengentasan permukiman kumuh, bukan sekadar "blusukan" yang viral?
Kunjungan Prabowo ke Senen memang mengharukan. Tapi jika hanya berhenti di air mata dan foto, maka itu hanya akan menjadi satu episode pencitraan yang cepat dilupakan, sementara kehidupan warga bantaran rel tetap terkatung-katung.
(Sumber: Instagram/detik.com)

Posting Komentar untuk "Pencitraan atau Empati? Blusukan Prabowo ke Senen: Mobil Biasa, Paspampres Sedikit, tapi Tetap Pasang Kamera?"