Kampus Didorong Bangun Dapur Gizi Sendiri, Unhas Jadi Pelopor SPPG di Indonesia Timur

Kepala BGN Dadan Hindayana (depan, kiri) dalam forum U25 Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) yang dihadiri para rektor dari 24 PTN-BH di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Selasa (28/4/2026). (Foto: BGN)
Editor: M Zuhro AH

GEBRAK.ID; JAKARTA – Perguruan tinggi di Indonesia didorong untuk mengambil peran lebih aktif dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Salah satu langkah strategis yang kini mulai digaungkan adalah pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan kampus.

Gagasan ini disampaikan oleh Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, yang menilai kampus memiliki potensi besar untuk menjadi pusat produksi sekaligus distribusi makanan bergizi.

“Saya kira kampus perlu memahami ini sebagai peluang besar. Minimal punya satu SPPG, dan kalau bisa pasokannya berasal dari civitas akademika sendiri,” ujar Dadan, Kamis (30/4/2026).

Saat ini, sejumlah kampus telah mulai mengimplementasikan konsep tersebut. Salah satunya adalah Universitas Hasanuddin yang baru saja meresmikan SPPG dan menjadi pelopor di kawasan Indonesia Timur. Selain itu, IPB University juga telah lebih dulu menjalankan program serupa, disusul beberapa perguruan tinggi swasta.

Menurut Dadan, keberadaan SPPG tidak sekadar berfungsi sebagai dapur penyedia makanan bergizi untuk program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Lebih dari itu, fasilitas ini dapat berkembang menjadi pusat ekonomi baru berbasis kampus.

“SPPG bisa menjadi simpul ekonomi. Bukan hanya memasok makanan, tapi juga menggerakkan sektor pertanian, peternakan, hingga UMKM di sekitar kampus,” jelas Dadan.

Untuk membangun satu unit SPPG yang mandiri, kampus setidaknya membutuhkan dukungan lahan yang memadai. Dadan menyebutkan, diperlukan sekitar 8 hektare lahan untuk produksi beras dan 19 hektare untuk jagung sebagai bahan pakan ternak. Selain itu, keberadaan peternakan ayam petelur juga menjadi kunci utama.

“Kalau ingin mandiri untuk pasokan telur, satu SPPG membutuhkan sekitar 3.700 hingga 4.000 ayam petelur,” cetus Dadan.

Konsep ini membuka peluang integrasi antara kegiatan akademik dengan praktik lapangan. Mahasiswa dapat dilibatkan langsung dalam pengelolaan pertanian, peternakan, hingga distribusi pangan. Dengan demikian, SPPG tidak hanya menjadi fasilitas layanan, tetapi juga laboratorium hidup bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Di Universitas Hasanuddin, misalnya, pengelolaan SPPG sudah terintegrasi dengan berbagai program studi. Mulai dari Gizi, Kedokteran, Agribisnis, hingga Peternakan terlibat dalam riset dan operasional sehari-hari.

Menurut Dadan, keunggulan kampus terletak pada sumber daya manusia dan teknologi yang dimiliki. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan inovasi di bidang pangan, mulai dari alat produksi, sistem keamanan pangan, hingga manajemen rantai pasok.

“Perguruan tinggi punya teknologi dan SDM yang kuat," jelas Dadan. "Ini bisa dimanfaatkan untuk mendukung program makan bergizi secara lebih efektif dan berkelanjutan.”

Lebih jauh, program SPPG diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang saling terhubung. Petani, peternak, pelaku usaha kecil, hingga kampus dapat terlibat dalam satu rantai pasok yang terintegrasi.

“SPPG ini bisa menjadi offtaker bagi produk lokal. Jadi bukan hanya soal memberi makan, tetapi juga menciptakan ekonomi yang berkelanjutan,” tegas Dadan.

Dengan konsep tersebut, kampus tidak lagi hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga motor penggerak kesejahteraan masyarakat. Ke depan, model SPPG diharapkan dapat direplikasi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kualitas gizi nasional.

(Berbagai Sumber)

Jangan Terlewatkan: Program Makan Bergizi Gratis Masih Butuh Banyak SDM untuk Ahli Gizi 

Posting Komentar untuk "Kampus Didorong Bangun Dapur Gizi Sendiri, Unhas Jadi Pelopor SPPG di Indonesia Timur"