
Salam perpisahan arsitek tim asal Spanyol, Pep Guardiola, untuk Manchester City. (Foto: Gebrak.id/AI)
Editor: Damar Pratama
GEBRAK.ID; JAKARTA – Awan mendung seolah enggan beranjak dari langit Manchester, Minggu (24/5/2026) malam. Di Stadion Etihad, puluhan ribu pasang mata berkaca-kaca menyaksikan akhir sebuah era.
Pep Guardiola, arsitek di balik dinasti Manchester City selama satu dekade, harus menutup kisah cintanya dengan kekalahan 1-2 dari Aston Villa di pekan terakhir Liga Inggris 2025/2026.
Kemenangan yang diharapkan menjadi kado perpisahan justru berubah menjadi antiklimaks dramatis. Antoine Semenyo sempat membakar harapan lewat gol voli indah pada menit ke-23, memanfaatkan kemelut sepak pojok yang menjadi gol ke-17-nya musim ini. Namun panggung penghormatan itu akhirnya dicuri oleh Ollie Watkins.
Seperti dikutip dari laman resmi Liga Premier Inggris, malapetaka dimulai saat babak kedua baru berjalan dua menit. Sapuan buruk John Stones jatuh di kaki Watkins yang dengan dingin menaklukkan James Trafford.
Pukulan telak datang pada menit ke-61. Lewat skema serangan balik, Watkins lolos dari jebakan offside—yang sempat dianulir sebelum akhirnya disahkan VAR karena posisi Ruben Dias—dan membungkam Etihad untuk kedua kalinya.
Gol Phil Foden di masa injury time yang sempat membuncahkan harapan pun harus pupus akibat bendera offside. Peluit panjang wasit bukan sekadar menandai kekalahan Man City, melainkan menjadi titik penutup satu dekade kepemimpinan yang revolusioner.
Dekade Emas Seorang Visioner
Di balik perpisahan pahit itu, warisan Guardiola di Manchester biru tak akan pernah pudar. Pria asal Catalunya itu datang pada 2016 dan tidak sekadar membangun tim—ia membangun sebuah imperium.
Data berbicara dengan fasih. Selama sembilan musim penuh menukangi the Citizens, Guardiola mempersembahkan total 20 trofi mayor. Rinciannya: enam gelar Liga Inggris (2017/18, 2018/19, 2020/21, 2021/22, 2022/23, 2023/24), satu mahkota Liga Champions (2022/23), tiga gelar Piala FA (2018/19, 2022/23, 2025/26), lima trofi Piala Liga Inggris (2017/18, 2018/19, 2019/20, 2020/21, 2025/2026), tiga gelar Community Shield, satu Piala Super UEFA, dan satu Piala Dunia Antarklub FIFA.
Angka itu melampaui pencapaian pelatih legendaris mana pun dalam sejarah klub. Di tangannya, Man City menjelma menjadi mesin trofi yang tak kenal ampun.
Puncaknya, Guardiola mempersembahkan treble sejati pada musim 2022/23—menyapu bersih Liga Inggris, Piala FA, dan Liga Champions sekaligus. Sebuah prestasi yang menjadikan Man City sebagai klub Inggris kedua yang mampu mengukir capaian bersejarah tersebut, menyusul Manchester United asuhan Sir Alex Ferguson yang melakukannya pada musim 1998/99.
Musim terakhirnya memang berakhir sebagai runner-up Liga Inggris di bawah Arsenal dengan 78 poin. Namun dominasi yang ia bangun meninggalkan jejak begitu dalam hingga diakui rival sekaliber bek veteran Liverpool, Andrew Robertson.
“Pep Guardiola mendorong kami mencapai level yang benar-benar baru. Saya rasa kami berdua setuju soal itu, dan mungkin kami seharusnya bisa memenangkan lebih banyak Premier League jika bukan karena dia,” ujar bek kiri Liverpool itu usai laga perpisahannya sendiri di Anfield, mengacu pada dua musim di mana the Reds harus merelakan gelar karena selisih satu poin dari Man City.
Momen Emosional Sang Kapten
Nuansa haru semakin terasa saat Bernardo Silva, kapten yang menjadi simbol loyalitas, ditarik keluar di tengah babak kedua. Para pemain Man City membentuk guard of honour dadakan di tepi lapangan, memberikan penghormatan terakhir kepada sang maestro.
Hasil akhir mungkin bukan skenario yang diimpikan. Namun malam itu, kekalahan dari Aston Villa terasa begitu kecil di hadapan besarnya kenangan yang telah Guardiola ukir. Sebab seperti kata pepatah sepak bola: legenda tidak diukur dari cara ia pergi, melainkan dari apa yang ia tinggalkan. Dan Pep Guardiola meninggalkan Manchester City sebagai imperium.
(Sumber: Premier League)