Mohamed Salah Mengaku Kini Sering Menetas Air Mata, Ada Apa?

Legenda Liverpool asal Mesir, Mohamed Salah. (Foto: X/Liverpool)
Editor: Damar Pratama

GEBRAK.ID – Sebuah pemandangan janggal tersaji di Anfield, Minggu (24/5/2026) malam. Mohamed Salah, sang raja Mesir yang biasanya dipuja karena ketajaman dan wajah dinginnya, justru tak kuasa membendung air mata. Laga melawan Brentford yang berakhir imbang 1-1 itu menandai titik akhir pengabdiannya selama sembilan tahun bersama Liverpool.

Dalam perbincangan emosional yang dikutip dari laman resmi klub, Senin (25/5/2026), Salah blak-blakan mengakui bahwa tangisnya jauh lebih sering pecah belakangan ini, bahkan hingga ke tempat latihan. Ini adalah sisi manusiawi yang jarang ia perlihatkan ke publik.

"Saya sering menangis, mungkin lebih sering ketimbang biasanya. Sangat sulit meninggalkan tempat seperti ini," ujar pemain berusia 33 tahun itu.

Di balik emosinya, Salah menutup musim dengan sebuah pencapaian monumental. Satu assist yang ia berikan untuk gol Curtis Jones ke gawang Brentford sudah cukup untuk mengukir sejarah baru. Ia kini resmi menjadi pencetak assist terbanyak Liverpool di Liga Inggris dengan torehan 93, melampaui legenda hidup Steven Gerrard yang mengoleksi 92 assist.

Rekor itu seolah menjadi obat penawar atas kekecewaan musim yang berakhir tanpa trofi serta penurunan statistik individunya. Meski begitu, kepergiannya menyisakan duka mendalam yang coba ia gambarkan dengan jujur.

"Saya sebenarnya bukan orang yang emosional, kalian mungkin tidak melihat itu di media. Kalian selalu melihat saya tegar dan agresif, tapi di dalam diri saya, saya seperti bayi," aku pemain Timnas Mesir itu.

Publik sering hanya melihat versi petarung dari diri Salah. Namun di balik layar, ada sosok rapuh yang berat melepaskan ikatan batin dengan kota, klub, dan para pendukung yang telah menjadi keluarganya.

Selama sembilan musim, warisan yang ia tinggalkan tak terbantahkan. Dari 442 penampilan di semua kompetisi, Salah mencatat 257 gol dan 123 assist. Kontribusi itu turut mempersembahkan sembilan trofi bergengsi, termasuk mahkota Liga Champions dan gelar Liga Inggris yang mengakhiri puasa panjang The Reds.

"Kami telah mengembalikan Liverpool ke tempat yang seharusnya," kenangnya dengan penuh kebanggaan.

Di pengujung kariernya bersama The Reds, Salah tak lupa menitipkan wejangan perjuangan. Mencontoh Andy Robertson, ia menekankan bahwa yang membuat pemain dicintai para suporter bukan semata bakat, melainkan totalitas tanpa sisa di lapangan.

Perpisahan ini membuktikan bahwa di balik gemerlang 257 gol dan status sebagai legenda, Mohamed Salah hanyalah seorang pria yang jatuh cinta begitu dalam pada klub kebanggaan Merseyside.

(Sumber: X/Liverpool)