Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID; JAKARTA — Nilai tukar rupiah yang terus merosot hingga menyentuh level Rp17.600 per dolar AS pada pertengahan Mei 2026 memicu reaksi beragam. Presiden RI Prabowo Subianto bersama Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun melontarkan pernyataan kontroversial: pelemahan rupiah hanya berdampak pada orang kaya dan masyarakat desa tidak perlu khawatir karena tidak menggunakan dolar dalam transaksi sehari-hari .
Namun, benarkah pernyataan ini mencerminkan realitas ekonomi di pedesaan? Artikel ini akan mengupas fakta ketergantungan desa pada komoditas impor yang langsung terpukul saat rupiah jatuh.
Klaim vs Fakta: Rantai Pasok Impor di Pedesaan
1. Pupuk Subsidi: Harganya Turun, tapi Bahan Bakunya Tergantung Global
Pemerintah memang menurunkan harga pupuk bersubsidi hingga 20 persen pada awal Mei 2026 sebagai bentuk keberpihakan kepada petani . Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut kebijakan ini sebagai terobosan di tengah langkanya pupuk dunia akibat konflik Timur Tengah.
Namun fakta menariknya: Kebijakan ini justru membuktikan bahwa harga pupuk sangat sensitif terhadap gejolak global. Penutupan Selat Hormuz sejak Februari 2026 dan penghentian ekspor pupuk oleh China membuat harga urea dunia melonjak lebih dari 40 persen .
Artinya, tanpa intervensi pemerintah, petani akan merasakan langsung pukulan pelemahan rupiah melalui harga pupuk yang meroket. Subsidi pemerintah tidak menghapus fakta bahwa rantai pasok pupuk terkoneksi dengan dolar.
2. Kedelai: 90 Persen Masih Impor, Tahu Tempe Bisa Naik Harga
Inilah pukulan paling telak bagi pernyataan "desa tak terdampak". Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, mengingatkan bahwa sekitar 90 persen kebutuhan kedelai Indonesia masih dipenuhi dari impor .
"Siapa yang tidak makan tempe? Masyarakat desa setiap hari mengonsumsi tahu dan tempe. Ketika rupiah melemah, biaya impor kedelai membengkak, otomatis harga tempe ikut naik," ujar Rahma kepada Tribunnews.com, Minggu (17/5/2026) .
Pakar lain dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, Fatkur Huda, menambahkan bahwa pelemahan rupiah memicu inflasi barang kebutuhan pokok yang langsung dirasakan masyarakat desa .
3. BBM dan Listrik: Nelayan Babak Belur, Petani Terdampak
Cuplikan wawancara dengan nelayan di Pantai Prigi, Trenggalek, Jawa Timur, menggambarkan situasi memilukan. Dayak (52), seorang nelayan, mengungkapkan bahwa harga solar industri melonjak dari Rp28.150 menjadi Rp30.550 per liter per 5 Mei 2026 .
"Dalam sekali melaut 10 hari butuh 1.500 liter solar. Biaya BBM saja sekarang Rp45 juta lebih. Kalau harga ikan lagi anjlok, ya kami tidak bisa melaut," keluh Dayak kepada Kompas.com .
Padahal, BBM merupakan komoditas impor yang harganya langsung tersengat pelemahan rupiah. Pemerintah sendiri melalui Satgas Percepatan Transisi Energi yang dibentuk Maret 2026 mengakui bahwa ketergantungan pada BBM impor masih tinggi .
4. Barang Konsumsi Sehari-hari: Semua Terdampak
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, dengan tegas membantah klaim bahwa masyarakat desa kebal terhadap pelemahan rupiah .
"Masyarakat desa juga pakai handphone, motor, televisi, mesin cuci — semua barang itu komponennya banyak dari impor. Belum lagi LPG yang juga impor. Jangan dikira pelemahan rupiah tidak akan menjalar ke biaya hidup di desa," tegas Bhima saat dihubungi Minggu (17/5/2026) .
Pendapat Pakar: Efek Domino yang Terabaikan
Para ekonom sepakat bahwa pernyataan "rupiah hanya pengaruhi orang kaya" merupakan penyederhanaan yang berbahaya.
- Fatkur Huda (Ekonom Universitas Muhammadiyah Surabaya):
"Nilai tukar rupiah yang menurun tetap memengaruhi harga berbagai kebutuhan pokok karena banyak sektor ekonomi Indonesia masih bergantung pada barang impor dan harga global. Petani, nelayan, UMKM hingga pekerja informal di desa akan merasakan dampaknya melalui biaya produksi dan transportasi yang naik" .
- Bhima Yudhistira (Direktur Eksekutif Celios):
"Pernyataan Prabowo menganggap enteng pelemahan rupiah sangat membahayakan. Bisa terjadi PHK massal dari perusahaan yang terimbas, dan desa akan dibanjiri korban PHK yang kembali ke kampung tanpa pekerjaan. Ini beban tambahan bagi desa" .
Konteks Pernyataan Prabowo
Dalam pidatonya di peresmian Museum Marsinah, Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Prabowo memang menyebut "rakyat di desa enggak pakai dolar" dan mengeklaim pangan serta energi aman . Ia juga meminta publik tidak panik terhadap isu kehancuran ekonomi.
Misbakhun kemudian memperkuat pernyataan ini dengan mengatakan bahwa yang terpengaruh hanyalah "transaksi impor dan orang kaya yang bepergian ke luar negeri" .
Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa "transaksi impor" itu sendiri berdampak langsung pada kehidupan warga desa melalui kenaikan harga pupuk, BBM, kedelai, dan barang konsumsi.
Kebal Dolar, tapi tak Kebal Inflasi
Memang benar, warga desa tidak memegang dolar AS dalam dompet mereka. Namun, mereka tidak kebal terhadap efek inflasi impor yang didorong oleh pelemahan rupiah.
Seperti diibaratkan oleh para ekonom, ketika biaya pengiriman barang naik karena BBM impor mahal, ketika harga kedelai naik karena dolar menguat, maka seluruh rantai pasok dari pabrik hingga warung desa akan menaikkan harga.
(berbagai sumber)
