Dari Tanah Papua untuk Masa Depan Indonesia, Sekolah Berbasis Kearifan Lokal di Manokwari Diresmikan

Mendikdasmen Abdul Mu'ti (empat dari kanan) meresmikan Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) di Manokwari, Papua Barat, Kamis (28/5/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID; MANOKWARI — Pemerintah terus memperkuat pemerataan pendidikan di wilayah Indonesia Timur. Komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui peresmian Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) di Manokwari, Papua Barat, yang digadang menjadi model pendidikan berbasis lingkungan dan kearifan lokal di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T.

Peresmian sekolah tersebut dilakukan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti di tengah momentum Hari Raya Idul Adha, Kamis (28/5/2026). Kehadiran Mendikdasmen Abdul Mu'ti di Papua Barat menjadi simbol kuat bahwa pembangunan pendidikan di wilayah timur Indonesia kini mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat.

Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti menyatakan bahwa daerah 3T menjadi prioritas utama dalam agenda pemerataan pendidikan nasional.

“Kami berkomitmen agar kesenjangan pendidikan bisa diatasi secara bertahap, terutama di daerah 3T. Karena itu, usulan pembangunan sekolah baru di Indonesia Timur akan menjadi prioritas pada tahun 2026,” ujar Abdul Mu’ti.

Menurut Abdul Mu'ti, langkah tersebut juga menjadi bagian dari persiapan implementasi program Wajib Belajar 13 Tahun yang nantinya dimulai sejak jenjang taman kanak-kanak.

Tidak hanya membangun sekolah baru, pemerintah juga menargetkan revitalisasi besar-besaran terhadap fasilitas pendidikan di seluruh Indonesia. Program ini sejalan dengan Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto yang menempatkan sektor pendidikan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional.

Abdul Mu’ti mengungkapkan, pemerintah menargetkan revitalisasi hingga 71.744 satuan pendidikan pada 2026. Jumlah tersebut merupakan bagian dari program nasional perbaikan puluhan ribu sekolah dalam lima tahun pertama pemerintahan.

“Kalau target penambahan 60 ribu sekolah dapat direalisasikan, maka revitalisasi pendidikan akan semakin masif. Jika ditotal dengan capaian sebelumnya, hampir 100 ribu sekolah akan diperbaiki dalam dua tahun,” kata Abdul Mu'ti.

Abdul Mu'ti juga menepis anggapan bahwa perhatian pemerintah terhadap pendidikan berkurang akibat pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, seluruh program prioritas tetap berjalan bersamaan. “MBG jalan terus, revitalisasi sekolah berjalan, dan digitalisasi pendidikan juga terus dilakukan,” tegasnya.

Mendikdasmen Abdul Mu'ti (tengah) saat meninjau Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) di Manokwari, Papua Barat, Kamis (28/5/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)

Ke depan, Kemendikdasmen juga akan memperluas penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) sebagai bagian dari transformasi digital pembelajaran di sekolah-sekolah Indonesia.

Kehadiran SMAMCO menyimpan cerita inspiratif. Sekolah yang berdiri di kawasan perbukitan karang keras itu berhasil dibangun hanya dalam waktu tiga bulan, jauh lebih cepat dari target awal selama 10 bulan.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Papua Barat, Mulyadi Djaya, mengatakan sekolah tersebut bukan hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga simbol keberagaman dan kemanusiaan.

“Sebanyak 60 hingga 70 persen siswa di sini adalah anak asli Papua dan non-muslim. Muhammadiyah di Papua tidak sedang membangun sekat, tetapi merawat nilai kemanusiaan universal melalui pendidikan,” ujar Mulyadi.

Yang membuat SMAMCO berbeda adalah konsep pendidikan berbasis konservasi alam dan budaya lokal. Kurikulumnya menggunakan pendekatan Deep Learning dengan mengangkat filosofi Igya Ser Hanjop, nilai adat masyarakat Pegunungan Arfak yang menekankan pentingnya menjaga hutan dan alam sebagai sumber kehidupan.

Konsep tersebut dinilai relevan dengan tantangan masa depan, di mana pendidikan tidak hanya mencetak generasi cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan budaya daerahnya.

Pemerintah Provinsi Papua Barat pun menyambut positif langkah tersebut. Sekretaris Daerah Papua Barat, Ali Baham Temongmere, menyebut pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia di wilayah timur Indonesia.

“Komitmen pemerintah daerah sangat kuat untuk meningkatkan akses dan kualitas pendidikan hingga ke pelosok Papua Barat,” kata Ali.

Melalui kolaborasi pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, SMAMCO diharapkan menjadi simbol baru pendidikan Indonesia yang inklusif, modern, sekaligus tetap berpijak pada kearifan lokal.

(Sumber: Humas Kemendikdasmen)