Fasih Bermandarin, Mahasiswi Universitas Ningxia Asal Kediri Ini Betah di China: "Saya Merasa Aman, Ingin Menetap dan Berkarya"

Universitas Ningxia, Yinchuan, China. (Foto: ucsworld.com)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID; YINCHUAN – Jauh dari gemerlap kota metropolitan, seorang perempuan muda asal Kediri, Jawa Timur, menemukan rumah keduanya di China. Dengan balutan batik bermotif elegan, Maria (28 tahun) tampak begitu fasih melafalkan kalimat demi kalimat dalam bahasa Mandarin. 

Bukan sekadar basa-basi turis, ia berbincang hangat penuh percaya diri dengan wartawan lokal, menceritakan mimpinya yang hampir terwujud: hidup dan berkarya di Negeri Tirai Bambu.

"Selama menempuh pendidikan di China beberapa tahun ini, saya merasa aman, nyaman, dan mendapatkan begitu banyak pengalaman berharga. Saya berharap bisa tetap tinggal dan bekerja di sini," ujar Maria penuh antusias, Kamis (28/5/2026), saat ditemui di Universitas Ningxia, Yinchuan.

Menjelang kelulusannya, mahasiswi pascasarjana jurusan Bahasa dan Sastra Mandarin itu tidak menunjukkan kegamangan seperti kebanyakan fresh graduate. Justru, peta kariernya sudah tergambar jelas. Ia ingin menjadi pengajar bahasa Indonesia di salah satu kampus di China, atau kembali ke Tanah Air untuk memperkuat pendidikan bahasa Mandarin.

"Apa pun pilihannya nanti, hubungan saya dengan China dan bahasa Mandarin pasti akan terus berlanjut," tegas Maria.

Dari Kediri ke Chongqing: Jatuh Cinta pada Kompleksitas Mandarin

Bagi sebagian orang, bahasa Mandarin adalah momok karena rumitnya karakter dan nada. Namun bagi Maria, justru di situlah pesonanya. 

Perjalanannya dimulai dari bangku kuliah di Surabaya International Institute of Business and Technology (SIIBT), sebelum akhirnya terbang ke Chongqing pada 2018 melalui program kerja sama internasional "2+2".

"Belajar bahasa Mandarin bukanlah hal yang mudah. Bahasa Indonesia itu relatif sederhana dalam pelafalan, fonetis. Tapi Mandarin adalah bahasa ideografis, maknanya ada di dalam bentuk karakter, dan perbedaan nada bisa mengubah arti total. Belum lagi konotasi budaya yang berbeda," kenangn Maria.

Namun, alih-alih menyerah, Maria justru tertantang. Ia mengakali kompleksitas itu dengan cara yang kreatif dan membumi: melatih pelafalan dan menulis Hanzi tanpa henti, membaca buku, menghafal lagu-lagu Mandarin, hingga maraton menonton drama dan film China.

Metode paling ampuh, kata Maria, adalah interaksi langsung. Di waktu senggang, ia aktif berbincang dengan warga lokal. Bukan sekadar basa-basi, tapi menyelami cara berpikir dan berkomunikasi mereka. "Pengalaman seperti itu sangat membantu memahami perbedaan budaya sekaligus meningkatkan kemampuan bahasa Mandarin dengan cepat. Learning by doing," imbuhnya.

Peluang Emas Bahasa Mandarin di Indonesia

Sebelum kembali mengejar gelar master di Universitas Ningxia, Maria bukan sosok asing di dunia pengajaran. Selama tiga tahun, ia sempat menjadi guru bahasa Mandarin di sebuah sekolah tiga bahasa di Bali dan sekolah nasional plus di Surabaya. Di sana ia mengajar siswa dari berbagai suku, baik keturunan Tionghoa maupun anak-anak lokal Indonesia.

Dari pengalaman itu, ia membaca sebuah tren besar yang tak boleh diremehkan: gelombang minat belajar bahasa Mandarin di Indonesia sedang mencapai puncaknya. "Dulu mungkin identik dengan sekolah tertentu saja. Sekarang? Dari berbagai suku di Indonesia, banyak orang tua yang ingin anak-anak mereka belajar Mandarin. Ini peluang besar," jelasnya dengan mata berbinar.

Menurut data dari Pusat Bahasa Mandarin di Indonesia, minat masyarakat non-Tionghoa terhadap sertifikasi kemahiran berbahasa Mandarin, seperti HSK, terus meningkat hingga lebih dari 30 persen dalam lima tahun terakhir. Hal ini sejalan dengan masifnya investasi China di kawasan Asia Tenggara yang membuka ribuan lowongan kerja bagi talenta dwibahasa.

Kesadaran akan besarnya potensi inilah yang mendorong Maria kembali ke China. Ia merasa perlu memperdalam pemahaman budaya secara langsung, bukan sekadar teori dari buku teks.

Keamanan dan Kenyamanan sebagai Kunci

Di tengah perbedaan geopolitik global, testimoni personal seperti yang disampaikan Maria menjadi jendela perspektif lain. Kenyamanan dan rasa aman yang ia rasakan selama bertahun-tahun di China menjadi fondasi kuat keinginannya untuk menetap. 

Sosoknya adalah potret generasi muda Indonesia yang adaptif, berani menembus batas geografis dan linguistik demi mewujudkan mimpi profesional.

"Saya hanya ingin menjadi jembatan. Entah nanti mengajar bahasa Indonesia di sini, atau bahasa Mandarin di Indonesia. Yang pasti, ilmu ini tidak akan berhenti di saya," jelas Maria.

Pada September 2023, Maria resmi diterima di Universitas Ningxia untuk menempuh pendidikan pascasarjana di bidang Bahasa dan Sastra Mandarin. Kesempatan kembali belajar di China setelah tiga tahun membuatnya sangat bersemangat. Hampir setiap ada waktu luang, dia menghabiskan waktunya di perpustakaan.

"Di Indonesia, saya juga suka pergi ke perpustakaan untuk belajar. Tidak terlalu banyak orang, tempat duduk cukup, dan suasananya sedikit santai. Namun, setelah sampai di Universitas Ningxia, setiap ingin pergi ke perpustakaan harus datang lebih awal jika ingin mendapatkan tempat duduk. Melihat teman-teman dari China begitu rajin belajar membuat saya ikut termotivasi untuk lebih giat belajar," katanya.

Seperti mahasiswa internasional lainnya, selama kuliah Maria tidak hanya meningkatkan kemampuan berbahasa Mandarinnya, tetapi juga aktif mengikuti berbagai kegiatan budaya. Dia mempelajari kaligrafi, seni gunting kertas, tai chi, dan berbagai kegiatan budaya tradisional China lainnya.

Maria juga semakin memahami warisan budaya tradisional China yang telah diwariskan selama ribuan tahun. Dalam pertunjukan seni kampus, dia pernah menyanyikan lagu Mandarin seperti "Denghuo Li De Zhongguo" dan "Nanniwan", mengenakan hanfu sambil membacakan puisi klasik China, serta mengagumi keindahan sastra Mandarin dan merasakan semangat cinta tanah air masyarakat China.

Dia pun mengikuti kunjungan museum, program kunjungan ke sekolah dasar dan menengah, hingga persiapan mengikuti lomba pengajaran bahasa Mandarin internasional. Dari pengalaman tersebut, dia semakin memahami makna "mengajar dan belajar". Semua pengalaman itu memberinya banyak pelajaran sekaligus melatih kemampuan mengajarnya.

Keamanan, kehangatan, dan keramahan masyarakat China membuat mahasiswa internasional merasa betah. Suasana kampus yang terbuka dan inklusif juga membuat mahasiswa setempat dan internasional hidup rukun, harmonis, serta saling membantu.

"China sangat aman. Keluar malam sendirian pun saya tidak khawatir. Bahkan laptop yang tertinggal di perpustakaan selama beberapa hari juga tidak hilang. Dosen dan teman-teman juga sangat baik, jadi saya merasa nyaman tinggal di sini," ujar Maria.

Sebagai mahasiswa asing, hal yang paling dia rasakan adalah lingkungan keamanan sosial di China yang sangat baik. Saat hari libur, dia senang bersepeda di sekitar Pegunungan Helan, berjalan-jalan menikmati suasana kota, atau "berkeliling China dengan kereta cepat" untuk merasakan keberagaman budaya dan adat istiadat.

Berkarier dengan modal Bahasa Mandarin

Saat ini, sembari mempersiapkan sidang tesis, Maria juga mulai mencari lowongan pekerjaan dan mengirim lamaran ke beberapa sekolah. Seiring hubungan dan pertukaran budaya antara China dan Indonesia semakin erat, dirinya optimistis akan semakin banyak peluang kerja sama di bidang pendidikan dan budaya, serta berharap dapat menerapkan ilmu yang telah dipelajarinya.

"Saya ingin membantu anak muda China yang tertarik belajar bahasa Indonesia, atau membawa pengetahuan bahasa Mandarin yang saya pelajari serta cerita-cerita tentang China kembali ke kampung halaman saya. Itu yang ingin saya lakukan," katanya.

Mengikuti jejaknya, sang adik kini juga menempuh pendidikan pascasarjana di China dengan jurusan Manajemen Pariwisata di Universitas Yangzhou. "Menguasai bahasa Mandarin membuka banyak peluang. Kami berharap bisa ikut berkontribusi dalam mempererat hubungan persahabatan Indonesia dan China."

(Sumber: Xinhua)