Film Dokumenter “Pesta Babi” Tembus 10 Juta Penonton di YouTube, Isu Papua dan Kolonialisme Modern Jadi Sorotan

Film dokumenter Pesta Babi kini bisa disaksikan gratis di platform YouTube. (Foto: Tangkapan layar film)
Editor: M. Zuhro AH

GEBRAK.ID -- Film dokumenter Pesta Babi tengah menjadi perbincangan luas publik Indonesia setelah berhasil menembus lebih dari 10 juta penonton hanya dalam waktu sepekan sejak dirilis di platform YouTube. Dokumenter yang mengangkat isu Papua dan proyek strategis nasional itu kini menjadi salah satu film dokumenter Indonesia dengan perhatian publik terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Film garapan sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Dale tersebut resmi tayang di kanal YouTube Redaksi JubiTV pada 22 Mei 2026. Penayangannya dilakukan bersama sejumlah kolaborator, di antaranya Indonesia Baru, Bentala Rakyat, Greenpeace Indonesia, Watchdoc Documentary, hingga LBH Papua Merauke.

Berdasarkan informasi yang tercantum dalam grafis promosi film, Jumat (29/5/2026), Pesta Babi telah ditonton lebih dari 10 juta kali dalam tujuh hari. Dalam unggahan itu juga disebutkan bahwa monetisasi YouTube untuk film tersebut sengaja dinonaktifkan. Seluruh donasi sukarela dari kegiatan nonton bareng atau nobar disebut akan disalurkan kepada warga Papua yang mengungsi akibat operasi militer.

“Film ini hadir sebagai ruang advokasi untuk masyarakat Papua,” demikian keterangan yang tercantum dalam poster promosi film tersebut.

Tak hanya viral di media sosial, film ini juga memicu diskusi publik mengenai kondisi masyarakat adat Papua, proyek pangan skala besar, hingga persoalan lingkungan dan hak masyarakat lokal.

Dalam deskripsi resmi YouTube, Pesta Babi disebut sebagai rekaman praktik kolonialisme modern yang terjadi saat ini, bukan sekadar catatan sejarah masa lalu. Film itu menampilkan dampak sosial dan ekologis dari proyek pembukaan lahan besar-besaran di Papua.

Film dokumenter Pesta Babi tengah menjadi perbincangan luas publik Indonesia setelah berhasil menembus lebih dari 10 juta penonton hanya dalam waktu sepekan sejak dirilis di platform YouTube. (Foto: tangkapan layar medsos)
 
Cerita dokumenter berfokus pada pengalaman warga asli Papua, termasuk Yasinta Moiwend dari Suku Marind Anim yang terkejut melihat kedatangan kapal besar membawa ratusan alat berat ke wilayah mereka. Kehadiran ekskavator dan pengawalan aparat militer menjadi bagian awal dari proyek konversi hutan berskala masif yang disebut mencapai 2,5 juta hektare.

Selain Yasinta, film tersebut juga menyoroti pengalaman Vincen Kwipalo dari Suku Yei yang mendapati tanah adat marganya telah dipasangi patok bertuliskan “Tanah Milik TNI AD”.

Sebelum dirilis secara legal di platform digital, pemutaran Pesta Babi diketahui sempat berlangsung terbatas melalui berbagai kegiatan nonton bareng (nobar) di sejumlah daerah. Namun, beberapa agenda pemutaran dikabarkan menghadapi tekanan dan intimidasi, mulai dari pemantauan aparat hingga permintaan data identitas penyelenggara.

Situasi tersebut justru memicu rasa penasaran publik terhadap isi dokumenter. Setelah resmi tayang gratis di YouTube, jumlah penontonnya melonjak tajam dalam hitungan hari.

Pengamat media dan film dokumenter, D Pratama, menilai tingginya angka penonton menunjukkan minat masyarakat terhadap karya jurnalistik investigatif dan isu kemanusiaan masih sangat besar. Selain itu, distribusi melalui platform digital dinilai membuat film dokumenter lebih mudah menjangkau publik luas tanpa batasan ruang bioskop.

Di media sosial, tagar terkait Pesta Babi juga ramai dibahas. Sebagian publik memberikan dukungan terhadap keberanian pengangkatan isu Papua, sementara sebagian lainnya memunculkan perdebatan terkait substansi dan sudut pandang film tersebut.

Terlepas dari kontroversi yang muncul, capaian jutaan penonton dalam waktu singkat menjadikan Pesta Babi sebagai salah satu fenomena dokumenter paling menyita perhatian publik Indonesia pada 2026.

(Berbagai Sumber)