Editor: Darkiman R
Suasana kuliah dalam kelas. (Foto ilustrasi: Pixabay)
GEBRAK.ID – Mimpi meraih ijazah perguruan tinggi di Indonesia sedang menghadapi badai besar. Data terbaru dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengungkap fakta pahit: hingga tahun 2025, tercatat 289 ribu mahasiswa putus kuliah.
Angka ini bukan sekadar statistik administratif, melainkan potret lelahnya generasi muda menghadapi himpitan biaya, tekanan sosial, dan habisnya waktu studi. Ironisnya, gelombang putus kuliah ini justru paling deras menghantam kampus-kampus swasta.
Dari total mahasiswa yang memilih berhenti, PTS menyumbang porsi fantastis sebesar 73,81 persen. Sementara itu, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menyumbang 17,20 persen, Perguruan Tinggi Agama 7,74 persen, dan sekolah kedinasan hanya sekitar 1,25 persen.
Data ini mengonfirmasi adanya ketimpangan daya tahan studi yang signifikan antara mahasiswa PTS dan PTN. Ketika diurai lebih tajam, persoalan terberat ternyata bukan ada di tingkat diploma atau pascasarjana.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa jenjang sarjana (S1) menjadi penyumbang terbesar mahasiswa drop out (DO). Jurusan-jurusan populer seperti ekonomi, teknik, sosial, hingga pendidikan tak luput dari badai ini. Fenomena ini menandakan bahwa titik kritis mahasiswa justru terjadi ketika mereka sudah terlalu jauh melangkah.
Menariknya, Kemdiktisaintek melihat pola usia yang menjadi korban bukanlah mahasiswa baru. Sebaliknya, kelompok usia 21 hingga 30 tahun menjadi penyumbang angka drop out tertinggi. Mereka bukan sekadar malas atau kehilangan motivasi.
Pada fase usia emas ini, benturan antara kebutuhan finansial dan panggilan pasar kerja jauh lebih kuat. Mereka berada dalam posisi dilematis: terus mengejar gelar yang makin menjauh, atau menyerah dan masuk ke dunia kerja untuk bertahan hidup.
Laporan itu dengan gamblang menyebutkan bahwa kecenderungan putus kuliah terjadi mendekati batas akhir masa studi. Artinya, banyak mahasiswa yang bertahan bertahun-tahun, namun akhirnya tumbang di ujung perjalanan.
Jika dilihat dari peta sebaran, Provinsi Jawa Barat (Jabar) menempati posisi puncak sebagai wilayah dengan jumlah mahasiswa putus kuliah terbanyak, mencapai 51.359 orang. Disusul DKI Jakarta (35.899), Jawa Timur (30.260), Banten (20.814), dan Jawa Tengah (20.582).
Namun, ada fakta yang lebih mengejutkan dari DKI Jakarta dan Banten. Di dua provinsi ini, dominasi mahasiswa drop out dari PTS nyaris sempurna.
Di Jakarta, proporsinya mencapai 93,79 persen, sementara di Banten dan Jabar juga tak kalah tinggi, di atas 86 persen. Ini menjadi alarm bagi pengelolaan kampus swasta di perkotaan yang kerap kali justru dihuni oleh mahasiswa dengan ketahanan ekonomi yang rapuh.
Kemdiktisaintek menegaskan, jika fenomena ini dibiarkan berlarut-larut, risikonya tak main-main. Kesenjangan antara kelompok yang mampu bertahan dan yang terpaksa terdepak dari dunia akademik akan semakin lebar. Kampus, bagi sebagian besar korban, mungkin sudah tidak lagi dipandang sebagai ruang yang layak untuk dipertahankan.
(Sumber: Kemdiktisaintek)