GEBRAK.ID; DEPOK — Ancaman kenaikan harga pangan akibat ketidakstabilan global mulai dirasakan masyarakat di wilayah penyangga ibu kota. Kondisi tersebut mendorong lahirnya berbagai inisiatif ketahanan pangan berbasis komunitas, salah satunya melalui program Budikdamber yang digagas Universitas Pertamina (UPER) di Kota Depok, Jawa Barat.
Program Budikdamber atau Budidaya Ikan dalam Ember itu kini menjadi solusi alternatif bagi warga RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga di tengah tekanan ekonomi dan kenaikan biaya hidup.
Inisiatif tersebut muncul setelah Presiden RI Prabowo Subianto menyoroti pentingnya ketahanan energi dan pangan dalam forum KTT BIMP-EAGA di Cebu, Filipina, pada 7 Mei 2026 lalu. Ketidakpastian global yang memicu lonjakan harga energi dinilai dapat berdampak langsung pada distribusi bahan pokok dan daya beli masyarakat.
Warga di kawasan padat penduduk seperti Cipayung Jaya menjadi salah satu kelompok yang rentan terdampak, terutama keluarga pensiunan yang mengalami penurunan pendapatan hingga 30–50 persen.
Melihat kondisi itu, Universitas Pertamina menggandeng Posyandu sebagai pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat untuk membangun ketahanan pangan keluarga dari lingkungan terkecil.
“Posyandu adalah simpul sosial yang sangat kuat karena berada di garda terdepan keluarga. Melalui wadah ini, kami ingin mentransformasikan pesan Presiden mengenai ketahanan pangan menjadi aksi nyata,” ujar Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Pertamina, Evi Sofia, pertengahan Mei 2026.
Menurut Evi, program tersebut membina masyarakat agar mampu memproduksi kebutuhan pangan secara mandiri sehingga tetap bertahan meski terjadi gejolak harga di pasar.
Model budidaya tersebut juga dinilai hemat biaya karena menerapkan sistem resirkulasi alami. Limbah dari ikan dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman sehingga penggunaan air dan biaya perawatan bisa ditekan seminimal mungkin.
Program yang mulai berjalan sejak akhir 2025 itu mendapat respons positif dari warga. Banyak masyarakat, khususnya pensiunan, mulai memanfaatkan teras rumah mereka menjadi unit produksi pangan mandiri.
“Di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian global, kemandirian pangan adalah pertahanan terbaik. Dengan modal yang terjangkau, satu keluarga dapat menekan pengeluaran belanja bulanan secara signifikan,” kata Evi.
Tak hanya membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, program ini juga dinilai mampu meningkatkan produktivitas masyarakat.
Ketua RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya, Endang Sungkono, mengatakan kehadiran Budikdamber memberikan semangat baru bagi warga untuk tetap aktif dan mandiri secara ekonomi.
“Warga kami, khususnya para pensiunan, menjadi lebih berdaya. Selain membantu ekonomi keluarga, kegiatan ini juga membuat warga tetap produktif meski tinggal di lingkungan dengan lahan terbatas,” ujar Endang.
Sementara itu, Pjs Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menghadirkan solusi nyata atas persoalan masyarakat.
Menurut Prof. Djoko, isu ketahanan energi dan pangan yang kini menjadi perhatian global membutuhkan pendekatan akademik yang aplikatif dan langsung menyentuh kebutuhan warga.
“Universitas Pertamina berkomitmen menghadirkan inovasi yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Penguatan ekonomi keluarga berbasis komunitas seperti ini menjadi fondasi penting bagi ketahanan nasional,” ujar Prof. Djoko.
Program Budikdamber ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin kedua tentang tanpa kelaparan dan poin kedelapan terkait pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi.
Dengan memanfaatkan lahan sempit dan teknologi sederhana, Budikdamber kini menjadi salah satu contoh bagaimana inovasi kecil dapat membantu masyarakat menghadapi tantangan ekonomi global dari tingkat keluarga.
(Siaran Pers UPER)


