Heboh Dugaan Riset Palsu dari Indonesia di Forum Ilmiah Dunia, Identitas Peneliti hingga Data Dipertanyakan

Momen Prihantini mempresentasikan riset di International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Disease (ISPPD) di Copenhagen, Denmark, 18 Mei 2026 lalu. (Foto: Dok. WO Dwi Daningrat)
Editor: M. Zuhro AH

GEBRAK.ID -- Nama Indonesia mendadak menjadi sorotan dalam ajang ilmiah internasional setelah muncul dugaan penelitian palsu yang dipresentasikan dalam konferensi bergengsi International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026.

Kasus ini mencuat setelah epidemiolog muda Indonesia, Wa Ode Dwi Daningrat, mengungkap sejumlah kejanggalan yang ia temukan selama mengikuti konferensi tersebut. Dwi yang saat ini sedang menempuh studi doktoral di University of Oxford mengaku curiga terhadap beberapa presentasi yang dibawakan peserta asal Indonesia.

ISPPD merupakan forum ilmiah internasional bergengsi di bidang penyakit pneumokokus yang tahun ini dihadiri lebih dari 1.300 peserta dari 86 negara. Namun di tengah forum akademik dunia tersebut, dugaan manipulasi identitas peneliti hingga data riset justru menyeret nama Indonesia ke dalam kontroversi.

Melalui unggahan video di media sosialnya yang kemudian ramai diperbincangkan, dikutip Rabu (27/5/2026), Dwi memaparkan kronologi bagaimana kecurigaan itu bermula.

Awalnya, ia bersama rekannya menghadiri sesi presentasi dari dua peserta yang terdaftar dengan nama “Dimas” dan “Riana”. Sebagai sesama peneliti Indonesia di bidang kesehatan, Dwi merasa penasaran karena nama-nama tersebut tidak familiar di komunitas riset pneumonia nasional maupun jejaring akademik internasional.

“Saya baca abstraknya dan terasa agak aneh,” ujar Dwi dalam penjelasannya.

Kecurigaan semakin kuat setelah ia menelaah isi penelitian yang dipresentasikan. Menurut Dwi, sejumlah grafik dan pola data tampak tidak lazim. Ia bahkan sempat meminta pendapat rekan peneliti serta supervisornya terkait validitas temuan tersebut.

Salah satu hal yang dianggap janggal adalah klaim penelitian lapangan di wilayah Pegunungan Andes, Peru, tanpa adanya kolaborator lokal. Dalam praktik akademik internasional, penelitian lintasnegara biasanya melibatkan institusi atau mitra lokal karena berkaitan dengan izin penelitian, pengumpulan data, hingga etika akademik.

“Mereka mengumpulkan data di Andes tanpa kolaborator lokal. Itu hampir mustahil dilakukan di negara lain,” kata Dwi.

Tak hanya itu, Dwi juga mempertanyakan data penggunaan vaksin PCV20 di Indonesia yang muncul dalam presentasi tersebut. Menurutnya, program vaksinasi nasional Indonesia hingga kini masih menggunakan PCV13 dan belum menerapkan PCV20 secara luas, terutama untuk kelompok dewasa.

“Ada klaim sudah punya data PCV20 di Indonesia untuk adults. Itu sangat mencurigakan,” ungkap Dwi.

Kontroversi semakin besar ketika identitas pemateri mulai dipertanyakan. Dalam satu sesi, seorang perempuan tampil memperkenalkan diri sebagai “Riana Dwi Kurniawati” sambil membawakan riset bertema kerentanan pneumonia akibat perubahan iklim di kota-kota besar negara berkembang.

Namun sekitar sepuluh menit kemudian, perempuan yang sama disebut kembali tampil di sesi berbeda dengan mengenakan identitas lain bernama “Dimas Fajar Prasetyo”. Dwi menyebut pemateri tersebut hanya mengganti jilbab sebelum membawakan presentasi berbeda.

Setelah melakukan penelusuran, Dwi mengungkap bahwa perempuan tersebut diduga bernama Prihantini. Nama itu memang tercatat dalam sejumlah poster penelitian di laman resmi ISPPD, tetapi tidak muncul sebagai identitas pemateri dalam dua sesi presentasi yang dipersoalkan.

Beberapa judul penelitian yang dipresentasikan juga dinilai sangat kompleks dan menggunakan pendekatan kecerdasan buatan, machine learning, hingga pemodelan biologis tingkat lanjut. Penelitian tersebut diklaim berasal dari AI-Biomedicine Research Group dan IMCDS-Biomed Research Foundation Jakarta.

Kasus ini kemudian memicu perdebatan luas di kalangan akademisi dan peneliti Indonesia. Banyak pihak menilai dugaan manipulasi identitas dan data ilmiah dapat merusak reputasi akademik Indonesia di mata internasional.

Dalam dunia akademik, integritas penelitian merupakan fondasi utama. Pemalsuan data, manipulasi identitas, maupun klaim riset tanpa validasi dapat dikategorikan sebagai pelanggaran etik serius yang berpotensi berujung pencabutan publikasi hingga larangan mengikuti forum ilmiah internasional.

Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak penyelenggara ISPPD terkait dugaan tersebut. Sementara itu, diskusi mengenai pentingnya pengawasan kualitas riset dan etika akademik di Indonesia terus bergulir di berbagai platform akademik maupun media sosial.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa reputasi ilmiah sebuah negara tidak hanya dibangun lewat jumlah publikasi, tetapi juga melalui kejujuran, validitas data, dan integritas para penelitinya.

(Berbagai Sumber)