![]() |
| Indonesia menduduki peringkat pertama dalam riset Harvard sebagai negara paling "berkembang" di dunia. (Foto: Gebrak.id/AI) |
GEBRAK.ID; JAKARTA -- Indonesia mencatat capaian mengejutkan dalam riset global terbaru yang dipimpin peneliti dari Harvard University dan Baylor University. Dalam studi bertajuk Global Flourishing Study yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature Mental Health, Indonesia menempati posisi pertama sebagai negara dengan tingkat flourishing atau perkembangan hidup paling tinggi di dunia.
Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 203 ribu responden dari 22 negara dan Hong Kong. Survei dilakukan pada gelombang pertama pengumpulan data sepanjang 2022–2023 dan hasil awalnya dipublikasikan pada 30 April 2025.
Berbeda dengan indeks kebahagiaan biasa, konsep flourishing dalam studi ini mengukur kualitas hidup secara lebih menyeluruh. Penilaian dilakukan melalui enam aspek utama, yakni kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan mental dan fisik, makna hidup dan tujuan hidup, karakter dan nilai moral, hubungan sosial yang dekat, serta keamanan finansial dan material.
Indonesia memperoleh skor tertinggi sebesar 8,3, mengungguli sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, Swedia, hingga Jepang.
Daftar Negara dengan Tingkat Flourishing Tertinggi
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, berikut urutan negara dengan tingkat flourishing tertinggi hingga terendah:
- Indonesia
- Israel
- Filipina
- Meksiko
- Polandia
- Nigeria
- Mesir
- Kenya
- Tanzania
- Argentina
- Hong Kong
- Amerika Serikat
- Swedia
- Afrika Selatan
- Brasil
- Australia
- Jerman
- Spanyol
- India
- Inggris
- Turki
- Jepang
Peneliti menyebut hasil ini cukup mengejutkan karena negara-negara dengan ekonomi maju justru tidak selalu berada di posisi atas. Amerika Serikat berada di peringkat ke-12, sementara Inggris berada di posisi ke-20 dan Jepang menjadi negara dengan skor terendah.
Mengapa Indonesia Bisa Jadi Nomor Satu?
Para peneliti menilai Indonesia unggul terutama dalam aspek makna hidup, hubungan sosial, karakter, serta spiritualitas masyarakat. Faktor kedekatan keluarga, kehidupan sosial yang erat, rasa syukur, dan aktivitas keagamaan dinilai menjadi modal penting yang meningkatkan kualitas flourishing masyarakat Indonesia.
Profesor Tyler VanderWeele dari Harvard menyebut negara-negara berpendapatan menengah seperti Indonesia cenderung memiliki skor lebih tinggi dalam aspek makna hidup, tujuan hidup, dan hubungan sosial dibanding negara kaya yang lebih unggul di aspek finansial semata.
Studi tersebut juga menemukan bahwa kehadiran hubungan sosial yang kuat dan keterlibatan dalam kegiatan keagamaan sejak kecil berkaitan dengan tingkat flourishing yang lebih tinggi saat dewasa.
Bukan Sekadar Soal Kaya
Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan hidup tidak selalu berbanding lurus dengan kekayaan negara. Sejumlah negara maju memang unggul dalam stabilitas ekonomi dan keamanan finansial, namun sering kali memiliki skor lebih rendah dalam relasi sosial, makna hidup, dan kepuasan emosional.
Peneliti juga menyoroti fenomena menarik di negara maju seperti Inggris, AS, dan Australia, di mana kelompok usia muda justru memiliki tingkat flourishing lebih rendah dibanding kelompok usia yang lebih tua.
Tentang Penelitian Global Flourishing Study
Global Flourishing Study merupakan proyek penelitian longitudinal lima tahun yang melibatkan lebih dari 100 peneliti dari berbagai negara. Studi ini digagas oleh Harvard University, Baylor University, Gallup, dan Center for Open Science untuk memahami faktor-faktor yang membentuk kualitas hidup manusia secara global.
(berbagai sumber)
